Filsafat Pendidikan Islam

13 May 2013

Filsafat Pendidikan Islam (Sebuah Tantangan)

Tersirat dalam sebuah Hadis bahwa pendidikan adalah tadb.

Pember-adab-an.

Mendidik adalah merekayasa anak agar menjadi manusia beradab.

Tentu beradab menurut Allah.

Maka, dengan demikian, konsep peradabannya itu sendiri pun adalah konsep Allah.

Al-Qurn!

Dengan kata lain, mendidik anak adalah meng-Qurnkan anak. Merekayasa si anak agar bisa berpandangan dan bersikap Qurni.

Utopis?

Aneh?

Seram?

Sama sekali tidak.

Kenyataannya, Islam memang berpangkal pada Al-Qurn.

Al-Qurn turun dimulai dengan kata perintah, iqra!

Bacalah.

Kajilah.

Bacakanlah!

Ajak dan suruh membacalah.

Himpunlah orang-orang untuk membaca.

Bentukah masyarakat yang suka membaca, membacakan, serta mengajak dan menyuruh membaca.

Apa yang dibaca dan dibacakan?

Bukan lingkungan, situasi, kondisi, atau apa pun. Tanpa wahyu, baca dengan apa? Baca dengan ketidaktahuan dan kebingungan?

Tidak!

Pada saat wahyu pertama kali diajarkan, yang harus dibaca dan kemudian dibacakan adalah wahyu (Al-Qurn) itu sendiri.

Bila wahyu sudah dibaca dan dibacakan, maka semua orang bisa diajak, disuruh, dan dikondisikan, supaya membaca apa pun dengan wahyu. Menjadikan wahyu sebagai kacamata, sebagai sarana dan panduan untuk membaca apa pun, termasuk situasi dan kondisi lingkungan, dan juga diri sendiri.

Setelah dibaca, jadikan Al-Qurn sebagai lampu senter, kaca pembesar, mikroskop, teleskop, dan juga cermin.

Jadi, sekali lagi: tahap awal, baca Al-Qurn!

Tahap berikutnya, jadikan Al-Qurn sebagai darah dan daging.

Jadilah saya, anda, kita seperti halnya Rasulullah sebagai Al-Qurn berjalan.

Ini sulit.

Sangat sulit.

Karena itulah dibutuhkan proses pendidikan, yang makan waktu cukup lama.

Tapi, mengapa harus demikian?

Mengapa Al-Qurn harus menjadi tumpuan, fondasi, dan segalanya?

Karena, kata Rasulullah dalam Hadis riwayat At-Tirmidzi, keunggulan Al-Qurn dibandingkan dengan seluruh kitab karangan manusia, adalah sama dengan keunggulan Allah atas semua makhlukNya!

Dalil (Hadis) itu sungguh dahsyat.

Tapi, siapa yang percaya?

Asas keteladanan

Allah menguji-cobakan keunggulan konsepNya, Al-Qurn, kepada Rasulullah saw. Dan ternyata, menjelmalah dia Sang Rasul menjadi sebuah pribadi berakhlak mulia, seperti ditegaskan Allah dalam surat Al-Qalam ayat 4, dan diakui beliau sendiri melalui sabdanya dalam sebuah Hadis, bahwa beliau dididik oleh Allah, sehingga hasil pendidikan itu demikian indahnya. (Addabany Rabby fa-ahsana tadby).

Dan, hasil pendidikan itu diperintahkan olehNya untuk ditularkan kepada umat beliau, seperti tersirat lewat sabda beliau yang terkenal, Sesungguhnya aku diutus untuk mengunggulkan akhlak mulia. (Innama buitstu li-utamima makarimal-akhlq).

Keunggulan akhlak Rasulullah bersama umatnya, telah tercatat dalam sejarah.

Dan dari rekaman sejarah itulah, kita bisa menggaris-bawahi sebuah asas (prinsip) dalam konsep pendidikan yang diajarkan Allah, yaitu asas keteladanan.

Begitu darurat-(urgent)-nya asas ini, sehingga Allah menegaskan dalam surat An-Nisa ayat 80: Siapa yang (menempuh proses) mengikuti Rasulullah, Maka jelaslah bahwa ia telah mematuhi (prosedur kepatuhan menurut) Allah.

Jadi, Allah mengajarkan Al-Qurn sebagai bahan (materi) pendidikan, dan asas keteladanan sebagai prosedur agar pendidikan itu mencapai tujuan yang dikehendaki.

Tapi, mengapa harus ada asas keteladanan, dan Sang Rasul itu sendiri yang harus diteladani?

Itulah bedanya konsep Allah dengan konsep manusia.

Para filsuf, misalnya, yang dipuja-puja karena ide-ide mereka yang dianggap menjadi penerang dunia, sesungguhnya tidak pernah dicatat sebagai perwujudan (represntative) dari ide mereka sendiri. Apalagi bila dikaitkan dengan peradaban, bentuk kemasyarakatan, sistem politik yang unggul, dan sebagainya. Mereka tidak tercatat sebagai para pembangun bentuk peradaban, tatanan kemasyarakatan, atau sistem politik apa pun, yang unggul. Bahkan Plato, misalnya, yang pernah mengangankan sebuah negara yang dipimpin filsuf, tak pernah tercatat menjadi kepala negara!

Bahkan Hegel, melalui dialektikanya hanya mengajak manusia masuk ke dalam lingkaran setan; menghasut agar tesis (konsep) Allah dihadapkan dengan anti-tesisnya, supaya bisa lahir sebuah sintesis.

Anda pasti tahu bahwa anti-tesis dari konsep Allah adalah konsep musuhNya, Iblis. Dan sintesis dari keduanya adalah gado-gado, yang tidak lain merupakan perwujudan dari selera manusia!

Lebih lanjut, Hegel juga mengajarkan bahwa sebuah sintesis pada gilirannya pasti tampil menjadi tesis baru, lengkap dengan anti-tesis dan sintesisnya, yang segera menjelma menjadi tesis baru lagi! Sebuah dalil yang begitu jitu menggambarkan sifat manusia yang banyak keinginan, dan tak pernah merasa puas mengikuti gelora nafsu dan khayalan.

Justru untuk mengatasi keadaan itulah Allah mengutus para rasulNya.

Allah ingin agar manusia bebas dari idealisme dan dialektika filsuf, dan berpaling pada (filsafat) realisme rasul.

Realisme itu berpangkal pada dalil bahwa Allah itu ada.

Bukti terkuat dari ada-Nya itu adalah Dia mengirim wahyu kepada rasulNya.

Dan wahyu itu, Al-Qurn, setelah tiadanya Sang Rasul, kini tampil sebagai satu-satunya wakil Allah, yang boleh, bisa, dan harus diuji kebenarannya.

Itulah tantangan terbesar umat manusia sekarang, bila sadar bahwa mereka hidup di abad pengetahuan.

Di abad segala sesuatu harus dikukuhkan secara obyektif-ilmiah.

Al-Qurn menantang kita.

Untuk membenarkannya.

Atau mendustakannya.

Secara obyektif-ilmiah.

18-8-2009.
https://www.facebook.com/notes/a-fa-laa-taqiluun/filsafat-pendidikan-islam-sebuah-tantangan/444062128963469

Sistem pendidikan dalam agama islam (luar biasaa)

Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya

saja. Sementara dalam urusan sosial kemasyarakatan, agama (Islam) ditinggalkan. Oleh karena itu, di tengah-tengah

sistem sekuleristik tadi, lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama, salah satunya adalah

paradigma pendidikan yang materialistik.

Telah terbukti bahwa sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan manusia yang shaleh yang sekaligus

menguasai iptek. Misalnya di Indonesia, secara formal kelembagaan, sekulerisasi pendidikan ini telah dimulai sejak

adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departamen yang berbeda, yakni Depag dan Depkidbud. Terdapat

kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah

bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai agama.

Pendidikan materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta

memungkiri hal-hal yang bersifat non-materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang

telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun

yang setara dengan nilai materi.

Sistem Pendidikan Islam

Dalam konteks individu, pendidikan termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim

untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh

karena itu, Islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan memberi dorongan serta arahan agar

dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran hakiki dan mendayagunakan ilmunya di atas jalan kebenaran itu.

Rasulullah Saw bersabda, Tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah

pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah

shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah

keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat. [HR. ar-Rab].

Makna hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT: Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang

beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang

kamu lakukan. (Qs. al-Mujadalah: 11).

Asas Pendidikan Islam

Asas pendidikan adalah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar kurikulum (mata ajaran dan metode pengajaran) yang

diberlakukan oleh negara. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syariat Islam. Ini berarti tujuan,

pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syariat Islam. Pendidikan

dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syariat Islam pada peserta didik, walaupun

mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pengetahuan.

Aqidah Islam menjadi asas dari ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti semua ilmu pengetahuan yang dikembangkan harus

bersumber pada akidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan lahir dari akidah Islam. Yang dimaksud

adalah, aqidah Islam harus dijadikan standar penilaian. Ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan aqidah Islam tidak

boleh dikembangkan dan diajarkan, kecuali untuk dijelaskan kesalahannya.

Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk

manusia yang berkarakter, yakni: Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan

seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (aqliyyah)

dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam.

Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang

dicontohkan Rasulullah Saw, yaitu:

pertama yaitu

- Menanamkan aqidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu

sebagai aqdah aqliyyah; aqidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam.

- Menanamkan sikap konsisten dan istiqmah pada orang yang sudah memiliki aqidah Islam agar cara berpikir dan

berprilakunya tetap berada di atas pondasi aqidah yang diyakininya.

- Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya

untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqfah islmiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada

Allah SWT.

Kedua, menguasai tsaqfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran

kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu:

- Ilmu yang termasuk fardhu ain (kewajiban individual), artinya wajib dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqfah

Islam yang terdiri dari konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi Saw, ulumul

Quran, tahfizh al-Quran, ulumul hadis, ushul fiqh, dll.

- Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan

teknologi serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.

Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan

material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan

penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi,

fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.

Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan

keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka

melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.

Sebagaimana penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardhu kifayah, yaitu jika

keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.

Sistem Pendidikan Islam Yang Terpadu

Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang

terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus

memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul.

Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan

keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan

kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.


- pertama, Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan

persoalan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Pada

saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di

tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga

kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.


- Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum

sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap

jenjangnya. Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqfah Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing. Pada tingkat dasar atau menjelang usia balig (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.

Khalifah Umar bin al-Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya, menuliskan,

Sesudah itu, ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka

adab sopan-santun dan syair-syair yang baik.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb, guru anaknya, Sesungguhnya anakku

ini adalah cahaya mataku. Saya mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan

tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan kepadamu agar engkau mengajarkan kepadanya al-Quran,

kemudian hapalkan kepadanya al-Quran

Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme

atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam

secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk

dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.


- Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.

Ketiga hal di atas merupakan target yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan

panduan bagi pelaksanaan pendidikan.

Pendidikan Bagi Warga Negara Ahlu Dzimmi (Non-Muslim)

Warga negara non-Muslim mendapatkan pendidikan yang sama sebagaimana warga negara yang Muslim. Mereka

mempelajari ajaran agama mereka di keluarga-keluarga mereka dan komunitas mereka, misalnya di sekolah-sekolah

Minggu di gereja-gereja, kelas-kelas pelajaran tentang Yahudi, pengajaran di kuil-kuil, dan lain-lain. Mereka mengadakan

sendiri pengajaran agama bagi anak-anak mereka, negara tidak campur tangan dalam hal itu. Mereka juga bisa saja

diizinkan membuka sekolah khusus untuk anak-anak mereka, selama mereka tetap menjalankan kurikulum yang

ditentukan negara, dan tetap dalam kontrol negara. Anak-anak mereka akan mengenal bagaimana ajaran aqidah Islam

dan bagaimana ibadah mahdhah-nya seorang Muslim walau mereka tidak meyakini dan melaksanakannya. Mereka

mengenal hukum-hukum muamalat Islam karena mereka harus melaksanakannya dalam kehidupan umum di

masyarakat. (Tim Redaksi dari berbagai sumber).
https://www.facebook.com/note.php?note_id=120107584748643

Cara Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Islam

Pendidikan anak dimulai dari awal pernikahan hingga hadir seorang anak dalam rumah tangga.

Anak merupakan salah satu anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi generasi penerus keturunan dari orang tuanya.

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ”Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT.

Dalam Alquran atau hadis Nabi Muhammad SAW, telah diterangkan tentang tata cara mendidik anak. Di antaranya adalah harus taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, tidak menyekutukan Allah, tidak membantah perintah-Nya, tidak berbohong, dan sebagainya. [Lihat QS 9:23, 17:23, 17:24, 29:8, 31:15, 37:102, 2:83, 4:36, 6:151, 12:99, 12:100, 17:23, 17:24, 19:14, 19:32, 29:8, 31:14, 46:15].

Apabila telah dewasa, seorang anak berkewajiban untuk memberi nafkah kepada kedua orang tuanya [2:215, 30:38], anak juga berkewajiban memberikan nasihat kepada orang tua [QS 19:42, 19:43, 19:44, 19:45], mendoakannya [QS 14:41, 17:23, 17:24, 19:47, 26:86, 31:14, 71:28], serta memelihara dan merawatnya ketika mereka sudah tua [QS 17:23, 17:24, 29:8, 31:14, 31:15, 46:15].

Pendidikan anak
Berkenaan dengan cara mendidik anak ini, Abdullah Nashih Ulwan merumuskan tata cara mendidik anak dengan baik dan benar. Sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Secara lengkap, ia menuliskannya dalam sebuah kitab yang berjudul Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam (Pendidikan Anak Menurut Islam).

Secara umum, isi kitab ini sangat mendasar, padat, komprehensif, dan lengkap dengan petunjuk praktis dalam mendidik dan membimbing seorang anak agar menjadi anak yang saleh.

Secara lebih khusus lagi, setidaknya ada dua persoalan inti dari karya Abdullah Nashih Ulwan ini. Pertama, visinya tentang makna pendidikan. Menurut Ulwan, pendidikan bukan sekadar perlakuan tertentu yang diberikan kepada anak untuk mencapai sebuah tujuan.

Kedua, visi tentang pendidikan anak. Dalam pandangan Ulwan, setiap anak memiliki kehidupan sosial, biologis, intelektual, psikis, dan seks. Dalam kehidupan sosial, setiap anak pasti terlibat dengan berbagai pihak, seperti orang tua, guru, tema, tetangga, dan orang dewasa. Dan, anak tidak dengan sendirinya dapat berhubungan dengan berbagai pihak itu sesuai atau selaras dengan tuntunan Alquran dan sunah (Islam). Karena itulah, kata Ulwan, setiap anak memerlukan bimbingan dan nasihat agar mereka bisa berjalan dengan lurus.

Pernikahan
Dari kedua visi yang dimaksudkan Ulwan, terutama pada visi pertama mengenai pendidikan, ia memulainya dengan bab pernikahan. Tentu, ada pertanyaan besar, mengapa masalah pernikahan ditempatkan pada urutan pertama mengenai pendidikan anak dalam kitab ini?

Bagi Ulwan, pernikahan adalah awal mula terjadinya hubungan dan interaksi antara seorang suami dan istri dalam melanjutkan garis keturunan. Ulwan tidak membatasi pernikahan itu pada hubungan ragawi antara seorang pria dan wanita belaka. Ia lebih menyingkap makna pernikahan dalam rangka keberadaan atau eksistensi manusia, menyangkut kemaslahatan hidup pasangan suami istri.

Kemaslahatan hidup yang damai, indah, tenteram, dan bahagia baru bisa diwujudkan dari sebuah pernikahan. Sebab, dari pernikahan akan terjadi peningkatan tanggung jawab, baik sebagai seorang suami dan istri maupun sebagai pasangan ayah dan ibu (orang tua). Karena itulah, jelas Ulwan, sebelum menikah, seorang suami atau istri harus mencari pasangan yang berasal dari keluarga yang baik, taat beragama, kaya, dan gagah (tampan, cantik). Tujuannya agar dapat terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sebuah pernikahan sangat berkaitan erat dengan keturunan (anak). Anak merupakan pelanjut (penerus) eksistensi sebuah keluarga. Karena itu, Islam mengajarkan pula agar sebelum menikah hendaknya dapat diketahui keluarga pasangan mempunyai keturunan yang banyak (mudah melahirkan, tidak mandul).

Abdullah Nashih Ulwan menempatkan pernikahan sebagai prasyarat untuk menyelenggarakan pendidikan anak secara Islami. Prasyarat lainnya adalah kasih sayang yang harus tercermin pada seluruh perilaku orang tua dalam berhubungan dengan anak yang sekaligus dipersepsikan oleh anak sebagai ungkapan kasih sayang dari orang tuanya.

Sejak dini
Ulwan menambahkan, prasyarat pendidikan harus dimulai sejak dini. Ketika anak masih berada dalam kandungan, seorang ibu harus rajin mengajarkan akhlak yang positif. Selanjutnya, ketika anak telah dilahirkan ke dunia, langkah awal adalah dengan dilantunkannya kalimat tauhid (azan pada telinga kanan dan iqamat di telinga kiri). Kemudian, orang tua berkewajiban untuk memberikan nama yang baik pada anak, melakukan akikah (pemotongan hewan dan rambut anak), mengkhitankannya, dan menyekolahkannya.

Hal tersebut, kata pengarang kitab ini, merupakan manifestasi dari kepedulian orang tua terhadap anak dalam mendidiknya, yang dimulai sejak dari kandungan, saat kelahiran, hingga ia mulai beranjak dewasa. Dan, pendidikan pada anak ini harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan, tanpa henti.

Belajar dari Kehidupan

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.

Mengutip kata-kata Dorothy Law Nolte, setiap anak akan belajar dari kehidupannya. Berikut pandangan Dorothy Law Nolte bila anak dibesarkan dengan berbagai sikap dari kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Mengembangkan Kepribadian dan Jiwa Sosial Anak

Sebagaimana dikatakan Dorothy Law Notle, seorang anak akan senantiasa belajar dari kehidupannya. Bila kehidupannya mengajarkan sesuatu yang baik, anak pun akan turut menjadi baik. Sebaliknya, bila lingkungan dan kehidupannya mengajarkan anak perbuatan buruk, sikap dan tindakan kesehariannya pun akan buruk pula.

Dalam kitab Tarbiyah al-Awlad fi Al-Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan anak khususnya tentang kepribadian dan jiwa sosial anak sangat penting. Sebab, dari kepribadian dan jiwa sosialnya akan terbentuk karakter anak tersebut.

Dalam visinya tentang pendidikan anak, Ulwan membagi cara pendidikan anak dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kehidupan biologis, intelektual, psikis, sosial, dan seks. Dalam kehidupan biologis, orang tua berkewajiban memerhatikan kesehatan mental dan jiwa anak. Anak berhak mendapatkan makanan, minuman, tempat tidur, pakaian, olahraga, dan kesegaran jasmani dari kedua orang tuanya.

Sementara itu, dalam kehidupan intelektual, orang tua berkewajiban memasukkan anak pada lembaga pendidikan (sekolah) yang sesuai dengan kemampuan anak. Anak memiliki akal sehat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (ilmu). Potensi ini memberikan dorongan kepada anak untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya.

Dari sisi kehidupan psikis, Ulwan menyoroti sifat negatif dan positif yang sering dijumpai pada anak. Sifat negatif di antaranya malu tidak pada tempatnya, takut, rendah diri, marah, hasut, iri hati, dan lain sebagainya. Sifat negatif ini akan diimbangi oleh sifat positif, seperti rasa cinta dan kasih sayang serta keadilan.

Kehidupan sosial
Dalam kehidupan sosial, Ulwan memandang bahwa setiap anak akan terlibat dalam kehidupan pihak lain (orang tua, teman, guru, tetangga, dan masyarakat). Dan, ia sangat bergantung pada kehidupannya itu.

Dalam pandangan Ulwan, segi kehidupan sosial anak itu meliputi semangat persaudaraan, kasih sayang, toleransi, pemaaf, berpegang pada keyakinan (kebenaran), dan tanggung jawab.

Kemudian, dalam pergaulan sehari-hari, anak akan belajar kaidah kehidupan, seperti etika makan, minum, tidur, belajar, hormat pada orang tua, teman, tetangga, orang yang lebih dewasa, dan lainnya.

Yang tak kalah pentingnya dari kehidupan sosial ini adalah pendidikan seks. Menurut Ulwan, yang dimaksud pendidikan seks adalah masalah mengajarkan, memberi pengertian, dan menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan seks, naluri, dan perkawinan pada anak sejak akalnya tumbuh dan siap memahami hal-hal di atas. Hal itu diajarkan sesuai dengan tuntunan Alquran atau sunah Rasulullah SAW.

Dalam pandangan Ulwan, ada beberapa cara dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak. Ia membagi cara pengajaran pendidikan seks pada anak dalam beberapa tingkatan.
(1) Untuk anak berusia 7-10 tahun, anak diajari tentang sopan santun dan meminta izin masuk rumah orang lain dan santun cara memandang.
(2) Pada usia 10-11 tahun, ketika anak memasuki masa pubertas, anak harus dijauhkan dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan birahinya.
(3) Pada usia 14-16 tahun, yang disebut dengan usia remaja, anak harus diajari etika bergaul dengan lawan jenis bila ia sudah matang untuk menempuh perkawinan.
(4) Setelah melewati masa remaja, yang disebut dengan masa pemuda, anak harus diajari etika menahan diri bila ia tidak mampu kawin. Rasulullah SAW mengajarkan berpuasa.
(5) Pada usia yang sudah cukup, segeralah menikahkan anak.

Bolehkah mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini? Pertanyaan ini kerap diajukan masyarakat mengenai pendidikan seks pada anak. Mereka khawatir bila pendidikan seks diajarkan sejak dini, setiap anak akan mencoba melakukannya. Apalagi, tidak setiap saat anak berada dalam pengawasan.

Menurut Ulwan, boleh saja mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Namun, harus dengan cara yang benar dan hati-hati. Menurutnya, ada pendidikan seks yang boleh diajarkan sejak dini dan ada yang tidak perlu disampaikan. Karena itu, jelas Ulwan, dibutuhkan kehati-hatian orang tua dalam mengajarkan pendidikan seks.
https://www.facebook.com/note.php?note_id=122858831087592

Pentingnya Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini
Karakter suatu bangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi pada perkembangan sosial-ekonominya. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakatnya akan menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsanya. Pengembangan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang dipercaya secara luas menyatakan jika kita gagal menjadi orang baik di usia dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat. Thomas Lickona mengatakan seorang anak hanyalah wadah di mana seorang dewasa yang bertanggung jawab dapat diciptakan. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi investasi manusia yang sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100% dari masa depan.

Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap pembentukan moral anak. Efek berkelanjutan (multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan dapat terlihat, seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, Kemampuan sosial dan emosi pada masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti konsumsi alkohol yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan sepanjang masa; perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap tekanan (stress), yang akan berdampak langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan sosial yang tinggi pada orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu meningkatkan perkembangan fisiknya.

Schweinhart mengatakan: Lebih daripada inovasi-inovasi pendidikan yang lainnya, program pendidikan dengan kualitas yang baik untuk anak-anak miskin terbukti menjanjikan keuntungan yang lebih bertahan lama dan memberikan timbal balik dari investasi yang dikeluarkan. Berbagai hasil penelitian lainnya juga menunjukkan berbagai keuntungan. Seringkali respon kita terhadap berbagai permasalahan seperti kemiskinan, kejahatan, penggunaan obat-obatan terlarang, poengangguran dan ketidakmandirian adalah frustasi atau bahkan putus asa. Tapi bukti yang ada menunjukkan bahwa pengembangan program pendidikan berkualitas dapat menurunkan dampak dari permasalahan-permasalahan ini, dan ini adalah sebuah alasan yang cukup untuk mengembangkan program-program tersebut.

Sangatlah wajar jika kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik dasardasar moral pada anak. Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang tinggal di daerah miskin, tidak memperoleh pendidikan moral dari orang tua mereka. Kondisi sosial-ekonomi yang rendah berkaitan dengan berbagai permasalahan, seperti kemiskinan, pengangguran, tingkat pendidikan rendah, kehidupan bersosial yang rendah, biasanya berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan lebih jauh lagi berpengaruh terhadap pola asuhnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima perilaku negatif (seperti kekerasan fisik dan mental, dan ditelantarkan) daripada anak-anak dari keluarga yang berpendapatan lebih tinggi.

Penelitian otak terkini menunjukkan bahwa bagaimana anak belajar untuk berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana ia mengontrol perasaannya sangat dipengaruhi dari pengalamannya terdahulu. Dan kemampuan sosial dan emosi ini sangat berperan dalam menentukan kesuksesan belajar anak di masa yang akan datang. Fakta terus membuktikan bahwa sekolah dapat membantu melakukan perbaikan terhadap kegagalan keluarga dalam mengembangkan karakter anak.

Banyak hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang telah mendapat pendidikan pra-sekolah mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak masuk ke TK, terutama dalam kemampuan akademik, kreativitas, inisiatif, motivasi, dan kemampuan sosialnya. Anak-anak yang tidak mampu masuk ke TK umumnya akan mendaftar ke SD dalam usia sangat muda, yaitu 5 tahun. Hal ini akan membahayakan, karena mereka belum siap secara mental dan psikologis, sehingga dapat membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri, dan dapat membunuh kecintaan mereka untuk belajar.

Dengan demikian sebuah program penanganan masalah ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak dengan berbagai pengalaman penting dalam pendidikan prasekolah. Adalah hal yang sangat penting untuk menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk mulai memasukkan anaknya ke prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk bersama-sama melakukan pendidikan karakter.

Untuk memfasilitasi perkembangan anak yang bersekolah di TKIT Al Furqon, maka PGIT dan TKIT Al Furqon mempunyai sentra-sentra. Adapun sentra-sentra yang dapat dikunjungi siswa TKIT Al Furqon adalah:

1. Language Class/Kelas atau Sentra Bahasa

2. Art Class/Kelas atau Sentra Seni

3. Cooking Class/Kelas atau Sentra Memasak

4. Multimedia Class

5. Math Class

6. Gym Class

7. Science Class

8. Library/Perpustakaan Area

9. Gardening

10. Sentra Ibadah/masjid

Semua metoda di atas diterapkan dengan menggunakan metode Student Active Learning, Contextual Learning, Joyful Learning, Developmentally Appropriate Practices, dan Whole Language. Dengan cara ini diharapkan anak-anak dapat mengoptimalkan dan menyeimbangkan perkembangan head, heart, and hand anak, sehingga mereka dapat menjadi manusia kreatif, mandiri, dan berpikir kritis.

Thomas Lickona seorang profesor pendidikan dari Cortland University -mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran.

Tanda-tanda yang dimaksud adalah :

(1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,

(2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk,

(3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan,

(4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas.

(5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,

(6) menurunnya etos kerja,

(7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,

(8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,

(9) membudayanya ketidakjujuran, dan

(10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda jaman tersebut sudah ada di Indonesia. Selain sepuluh tanda-tanda jaman tersebut, masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati, dan rasa). Padahal, pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan. Mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan akhlak dan karakter pun (seperti budi pekerti dan agama) ternyata pada prakteknya lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan, atau hanya sekedar tahu).

Padahal, pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek knowledge, feeling, loving, dan acting.

Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan latihan otot-otot akhlak secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat. Pada dasarnya, anak yang kualitas karakternya rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah, sehingga anak beresiko besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya, maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Thomas Lickona (1991) mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoralyang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Pengertian ini mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan habit atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan.

Menurut Berkowitz (1998), kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut seca ra sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai-nilai karakter (valuing). Misalnya seseorang yang terbiasa berkata jujur karena takut mendapatkan hukuman, maka bisa saja orang ini tidak mengerti tingginya nilai moral dari kejujuran itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan juga aspek emosi.

Menurut Lickona (1991), komponen ini adalah disebut desiring the good atau keinginan untuk berbuat baik.

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS 64:15)

Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS 25:74)

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS 46:15)

Dorothy Law Nolte pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Lengkapnya adalah :

Jika anak dibesarkan dengan celaan,

ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,

ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,

ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,

ia belajar menyeasali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,

ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian,

ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,

ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,

ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan,

ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Anak Perempuan

Ketika seorang anak perempuan diam, berjuta-juta hal berada dalam fikirannya.

Ketika anak perempuan tidak membantah, dia sedang berfikir sangat dalam.

Ketika anak perempuan memandang dengan mata penuh tanya, dia ingin tahu berapa lama kita akan menemani.

Ketika anak perempuan menjawab Saya baik-baik saja setelah beberapa saat, tidaklah semuanya baik-baik saja.

Ketika anak perempuan memandang tajam, dia ingin tahu kenapa kita berbohong.

Ketika anak perempuan bersandar ke dada, dia berharap kita menjadi miliknya selamanya.

Anak Laki-laki

Ketika seorang anak laki-laki diam, dia tidak punya sesuatu yang ingin dikatakan.

Ketika anak laki-laki tidak membantah, dia dalam kondisi yang tidak ingin membantah.

Ketika anak laki-laki memandang dengan mata penuh tanya, dia benar-benar sedang kebingungan.

Ketika anak laki-laki menjawab Saya baik-baik saja setelah beberapa saat, semuanya adalah baik-baik saja.

Ketika anak laki-laki memandang tajam, dia sedang heran atau marah.

Ketika anak laki-laki tidur dipangkuan, dia berharap kita menjadi miliknya selamanya.

https://www.facebook.com/note.php?note_id=182160235137064


TAGS 11977


-

Author

Follow Me