I K H L A S

10 May 2013

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.

I K H L A S


Al-Mulk:2 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Hanya ENAM huruf…namun butuh proses yang sangat panjang dan BERLIKU untuk mengaplikasikannya” demikian ungkap sahabat FB-WJ. Benar……., Allah Ta’ala.. pertama kali mencipatakan manusia “Adam as” mengajarkan tentang IKHLAS pada semua mahluk untuk hormat secara ‘IKHLAS’ pada Nabi Adam atas kelebihannya. Dari semua mahluk ciptaanNya yang ingkar dan menolak untuk “IKHLAS” adalah iblis laknatullah.

Untuk MENJADI IKHLAS sangat berat memang,…karena…inilah “PROYEK” panjang iblis berusaha “WARISKAN” ke”SOMBONGAN dan ke”INGKAR”an”nya pada jiwa manusia.
IKHLAS adalah penentu “FLUKTUASI”nya nilai ibadah seseorang.
IKHLAS penentu berat ringannya ‘Nilai Ibadah’.
IKHLAS ada DEWAN JURI yang bersemayam dalam hati ataw QALBU. Ketika mata melihat, telinga mendengar, tangan-kaki berbuat dan indera perasa bekerja…. maka ketika itu Hati ber’UCAP’…. dan seketika itu malaikat mencatat nilai2 IKHLAS.
Ciri orang yang memiliki ke-IKHLAS-an :
1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,
2. Tidak tergantung / berharap pada makhluk
3. Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil
4. Banyak amal kebaikan yang rahasia
5. Tidak membedakan antara golongan, ras, bendera atau organisasi.
Pembinaan IKHLAS tumbuh sejak kecil… dimulai dari pengalaman lingkungan keluarga dan luar rumah. Dia tumbuh dari teladan sikap orang tuanya dan diluar rumah didapat dari pergaulannya. Bila buruk pengalaman dari keluarga maupun lingkungannya maka sikap iklhlasnyapun dapat direka. Namun Allah Maha Pemaaf dan Yang Maha Membolak balikan hati manusia masih memberikan peluang agar amalannya tidak hilang, yakni sadar dan segera bertaubat serta istighfar atas khilafnya dan selalu berusaha meningkatkan keimanannya.
IKHLAS bermuara dari kebesaran hati, sabar, lapang dada dan jujur dalam sikap serta perbuatan seseorang. Begitu besar pengaruh orang yang IKHLAS itu, sehingga dengan kekuatan niat IKHLASnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.
Bahkan orang yang IKHLAS bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang IKHLAS tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWtT yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.
Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al Hikam, Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia IKHLAS (ketulusan) dalam amal perbuatan
Iklhas paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat IKHLAS.
Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat IKHLAS kepada Allah dalam menjalankan agama.
Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak IKHLAS, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan IKHLAS.
Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keIKHLASan.
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al A’raaf:23)

Hadis Keutamaan IKHLAS
1. Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)
2. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa memiliki hati yang shaleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)
3. Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)
4. Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan). (HR. Al Hakim)
5. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).” Rasulullah Saw berkata, “Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan.” (HR. Tirmidzi)
6. Agama ialah keikhlasan (kesetiaan atau loyalitas). Kami lalu bertanya, “Loyalitas kepada siapa, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Kepada Allah, kepada kitabNya (Al Qur’an), kepada rasulNya, kepada penguasa muslimin dan kepada rakyat awam.” (HR. Muslim)
Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang IKHLAS.
Baarakallaahu lakumaa wa baaraka ‘alaikum
‘May Allah swt shower His blessings upon you’ Amin Sum’Aamin!
Wassalamu alaikum wa rahmatullah wabarakatuh
Dari berbagai sumber
http://irma-komalasari.blogspot.com/2009/05/i-k-h-l-s.html
http://dedi5611.xanga.com/768569023/bersikapjujur-menjauhi-dusta/
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4242257259644&set=a.1050953199037.2009139.1381964231&type=3&src=https%3A%2F%2Fm.ak.fbcdn.net%2Fsphotos-d.ak%2Fhphotos-ak-snc7%2F418031_4242257259644_515631891_n.jpg&size=582%2C233


“Assalamu’alaykum Warohmatullahi_Wabarokatuh_”

Ganjaran Bagi Orang Yang Menjaga Keikhlasan
Sebuah amalan tidak akan diterima di sisi Allah subhanahu wataala jika pelakunya tidak melakukan amalan tersebut secara ikhlas, yaitu karena ketaqwaannya pada Allah subhanahu wataala.
Beberapa keutamaan dan buah yang bisa dipetik dari keikhlasan kepada Allah subhanahu wataala, di antaranya adalah:
1. Mendapatkan syafaat Nabi shalallahu alaihi wasallam
Shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan mendapatkan syafaat engkau pada hari kiamat nanti? Beliau menjawab:
Orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan ikhlas dari lubuk hatinya. (HR. Al Bukhari)
Makna ikhlas di sini adalah dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan sekaligus menjalankan konsekuensi-konsekuensi dari kalimat tersebut, yakni dia harus benar-benar mempersembahkan amal ibadahnya kepada Allah subhanahu wataala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah subhanahu wataala berfirman (artinya):
Dan beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (An Nisa: 36)
2. Dibukakan baginya pintu-pintu langit
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:
Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas, kecuali pasti akan dibukakan baginya pintu-pintu langit, sampai dia dibawa ke Arsy (tempat beristiwanya Allah), selama dia menjauhi perbuatan dosa-dosa besar. (HR. At Tirmidzi)
3. Diharamkan baginya An Nar (Neraka)
Sesungguhnya An Nar itu haram dimasuki oleh orang-orang yang ikhlas kepada Allah subhanahu wataala sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah subhanahu wataala menolong umat ini dengan adanya kaum yang lemah di antara mereka, dengan doa mereka, dengan shalat mereka, dan dengan keikhlasan yang ada pada mereka. (HR. An Nasai)
4. Dilapangkan dari masalah yang sedang menghimpitnya
Terkadang seorang muslim dihadapkan pada suatu masalah yang sangat pelik yang terkadang menjadikan dia berputus asa dalam mengatasinya. Tetapi, tahukah anda bahwa amalan-amalan yang dilakukan dengan ikhlas dapat dijadikan sebagai wasilah (perantara) dalam berdoa kepada Allah subhanahu wataala untuk dihilangkannya berbagai masalah yang sedang menghimpitnya?
Hal ini pernah menimpa tiga orang pada zaman dahulu ketika mereka terperangkap di dalam sebuah goa. Kemudian Allah subhanahu wataala selamatkan mereka karena doa yang mereka panjatkan disertai dengan penyebutan amalan-amalan shalih yang mereka lakukan ikhlas karena Allah subhanahu wataala.
Kisah selengkapnya bisa anda baca di kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 12.
5. Husnul Khatimah
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 bahkan 100 orang. Kemudian orang tersebut hendak bertaubat kepada Allah subhanahu wataala, tetapi akhirnya orang tersebut meninggal sebelum beramal kebajikan sedikitpun.
Namun Allah subhanahu wataala terima taubatnya karena keikhlasan dia untuk benar-benar bertaubat kepada Allah subhanahu wataala, dan dia pun tergolong orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Kisah selengkapnya juga bisa anda baca di kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 20.
6. Benteng dari godaan setan
Setan dan bala tentaranya akan senantiasa menggoda umat manusia seluruhnya sampai hari kiamat. Namun hanya orang-orang yang ikhlaslah yang akan selamat dari godaan mereka ini. Hal ini diakui sendiri oleh pimpinan para setan yaitu iblis, sebagaimana Allah subhanahu wataala sebutkan pengakuannya itu dalam Al Quran (artinya):
Iblis berkata: Wahai Tuhanku, oleh sebab Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menjadikan mereka (anak cucu Adam) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka. (Al Hijr: 39-40)
7. Selamat dari jurang kemaksiatan kepada Allah subhanahu wataala
Tercatat dalam sejarah, bagaimana dahsyatnya godaan yang dialami Nabi Yusuf ? ketika diajak berzina oleh seorang istri pejabat negeri waktu itu. Namun Allah subhanahu wataala selamatkan dia dan Allah subhanahu wataala palingkan dia dari perbuatan tersebut. Allah subhanahu wataala kisahkan peristiwa ini di dalam Al Quran (artinya):
Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. (Yusuf: 24)
Apa sebabnya?
Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. (Yusuf: 24)
8. Senantiasa di atas kebaikan
Diriwayatkan oleh Jafar bin Hayyan dari Al Hasan, bahwa beliau berkata: Senantiasa seorang hamba itu berada dalam kebaikan, jika berkata, (ikhlas) karena Allah subhanahu wataala, dan jika beramal, (ikhlas) karena Allah subhanahu wataala.
Di sadur dari http://www.assalafy.org/mahad/?p=37
http://inspirasiislami.com/index.php/2012/01/ganjaran-bagi-orang-yang-menjaga-keikhlasan/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4227661174751&set=a.1050953199037.2009139.1381964231&type=3&src=https%3A%2F%2Fm.ak.fbcdn.net%2Fsphotos-h.ak%2Fhphotos-ak-prn1%2F154579_4227661174751_1386121717_n.jpg&size=150%2C150

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Apakah Ikhlas Berarti Tidak Boleh Mengharap Pahala dan Surga?
Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat dan yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad, istri-istri beliau, keluarga, para sahabat yang berjuang keras membela Islam dan setiap orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga akhir zaman.
Sebagian ulama dan ahli ibadah punya keyakinan bahwa jika seseorang beribadah dan mengharap-harap balasan akhirat yang Allah janjikan maka ini akan mencacati keikhlasannya. Walaupun mereka tidak menyatakan batalnya amalan karena maksud semacam ini, namun mereka membenci jika seseorang punya maksud demikian.
Mereka pun mengatakan, Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya. Perkataan ini juga dikemukakan oleh Robi’ah Al ‘Adawiyah, Imam Al Ghozali dan Syaikhul Islam Ismail Al Harowi.1 Di antara perkataan Robi’ah Al Adawiyah dalam bait syairnya, Aku sama sekali tidak mengharap surga dan takut pada neraka (sebagai balasan ibadah). Dan aku tidak mengharap rasa cintaku ini sebagai pengganti.
Jadi intinya mereka bermaksud mengatakan bahwa janganlah seseorang beramal karena ingin mengharap pahala, mengharap balasan di sisi Allah, ingin mengharap surga atau takut pada siksa neraka. Ini namanya tidak ikhlas.
Namun jika kita perhatikan kembali pada Al Qur’an dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh pendapat mereka-mereka jauh dari kebenaran. Berikut beberapa buktinya. Semoga Allah memberikan kepahaman.
Allah Memerintahkan untuk Berlomba Meraih Kenikmatan di Surga
Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya,

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS. Al Muthaffifin: 26)
Dalam Al Qur’an pun Disebutkan Balasan dari Suatu Amalan
Allah Ta’ala berfirman,
(107) (108)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS. Al Kahfi: 107-108)
Al Qur’an Memberi Kabar Gembira dan Peringatan
Allah Ta’ala berfirman,

Al Qur’an sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. (QS. Al Kahfi: 2)
Sifat Orang Beriman, Beribadah dengan Khouf (Takut) dan Roja’ (Harap)
Allah Ta’ala berfirman,

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al Israa’: 57)
Sifat ‘Ibadurrahman Berlindung dari Siksa Neraka
Allah Ta’ala berfirman,

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. (QS. Al Furqon: 65)
Sifat Ulil Albab juga Berlindung dari Siksa Neraka
Allah Ta’ala berfirman,
(191) (192) (193) (194)
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imron: 191-194)
Malaikat pun Meminta pada Allah Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan keadaan para malaikat, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

Apa yang para malaikat mohon pada-Ku? Mereka memohon pada-Mu surga, sabda beliau. Lihatlah malaikat pun meminta pada Allah surga, padahal mereka adalah seutama-utamanya wali Allah. Sifat-sifat para malaikat adalah,

Malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)
Asiyah, istri Fir’aun yang Beriman Meminta Rumah di Surga
Allah Ta’ala berfirman,

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga.
Para Nabi Beribadah dengan Roghbah (Harap) dan Rohaba (Cemas/Takut)
Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. Al Anbiya’: 90)2
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun Meminta Surga
Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim -kholilullah/ kekasih Allah-,
(85) (86)
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Asy Syu’ara: 85-87)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Meminta Surga
Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?

Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).3
Nabi Menyuruh Meminta Tempat yang Mulia untuknya di Surga
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafaatku.4 Yang dimaksud dengan wasilah adalah kedudukan tinggi di surga. Sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Sesungguhnya wasilah adalah kedudukan (derajat yang mulia) di sisi Allah. Tidak ada lagi kedudukan yang mulia di atasnya. Maka mintalah pada Allah agar memberiku wasilah di antara hamba-Nya yang lain.5
Setelah Kita Menyaksikan
Setelah kita melihat sendiri dan menyaksikan dengan seksama berbagai ayat al Qur’an dan riwayat hadits yang telah kami kemukakan di atas, ini menunjukkan bahwa seluruh ajaran agama ini mengajak setiap hamba untuk mencari surga dan berlindung dari neraka-Nya. Dalil-dalil tersebut juga menunjukkan bahwa para rasul, para nabi, para shidiq, para syuhada’, para malaikat dan para wali Allah yang mulai, mereka semua beramal karena ingin meraih surga dan takut akan siksa neraka. Mereka adalah hamba Allah terbaik, lantas pantaskah mereka disebut pekerja yang jelek?! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).6
Salah Paham dengan Kenikmatan di Surga dan Siksa Neraka
Mengenai perkataan sebagian sufi,

Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan nikmat surga-Mu dan takut pada siksa neraka-Mu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban,
Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.7
Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
- - - - .
Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian? Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.8
Siksaan di neraka yang paling berat adalah karena tidak memperoleh nikmat yang besar ini yaitu melihat Allah Ta’ala. Orang-orang kafir tidak merasakan melihat wajah Allah yang merupakan nikmat terbesar yang diperoleh oleh penduduk surga. Inilah kerugian dan siksaan bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari melihat wajah Tuhan mereka. (QS. Al Muthaffifin: 15). Imam Syafi’i berdalil dengan mafhum (makna tersirat) ayat ini,

Ayat ini adalah dalil bahwa orang-0rang beriman akan melihat Allah ‘azza wa jalla pada hari itu (hari kiamat).9
Inilah pikiran picik yang membatasi kenikmatan di surga hanya dengan merasakan berbagai nikmat, seperti sungai, bidadari, buah-buahan, namun ada nikmat yang lebih daripada itu yaitu nikmat melihat Allah Ta’ala.
Kesimpulan Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas. Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan.
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita keikhlasan dalam beramal, harapan yang kuat untuk meraih surga-Nya dan rasa takut akan siksa neraka-Nya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.com Disempurnakan di Pangukan-Sleman, 26 Muharram 1431 H
https://www.facebook.com/notes/tak-ada-kata-menyerah-untuk-dapatkan-ikhlas-dan-bahagia/apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga/124170544306523
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/11/21/recentpost/
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4083708696029&set=a.1050953199037.2009139.1381964231&type=3&src=https%3A%2F%2Fm.ak.fbcdn.net%2Fsphotos-a.ak%2Fhphotos-ak-frc1%2F406874_4083708696029_1444501174_n.jpg&size=394%2C281


TAGS 11977


-

Author

Follow Me