PLUS MINUS FACEBOOK

28 Mar 2013


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
PLUS MINUS FACEBOOK
Facebook ini ibarat seperti sebuah pisau, bisa bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal bermanfaat tetapi juga bisa membawa bahaya. Facebook bisa digunakan sebagai wadah silaturahmi di dunia maya, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya. Namun, sebaliknya Fecebook juga bisa digunakan sebagai ajang maksiat. Berikut ini penjelasannya lebih terperinci:
ETIKA SEORANG MUSLIM BER-FACEBOOK
Facebook adalah jejaring sosial. Itu berarti kita hidup dalam kawasan pertemanan dan pergaulan. Maka etika-etika bergaul harus diperhatikan. Ada beberapa etika yang perlu kami sampaikan kepada pengguna Facebook sebagai nasihat bagi kita semuanya:
1. Jadikan sebagai ladang pahala
Hendaknya seorang yang masuk pada situs ini meluruskan niatnya terlebih dahulu, dia benar-benar ingin menjadikan Facebook untuk sesuatu yang bermanfaat sebagai ajang silaturrahmi, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya.
2. Mengatur waktu
Hendaknya pengguna Facebook memahami akan mahalnya waktu. Janganlah ia terjebak dalam kesia-siaan atau terlena keenakan chatting sehingga lalai dari sholatnya, kewajiban, dan tugasnya di rumah atau tempat kerja.
3. Waspadailah zina mata dan hati
Dalam Facebook akan di-pasting foto-foto pengguna Facebook lainnya yang terkadang mereka adalah foto-foto lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan muncul nafsu birahi dengan melihatnya. Maka hendaknya kita takut kepada Allah dan menyadari bahwa semua itu adalah ujian akan keimanan kita kepada-Nya.
4. Jagalah kata-kata
Janganlah kita merasa bebas menulis status atau komentar dan kata-kata di Facebook. Pilihlah kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jangan menulis kata-kata yang kotor, fitnah, provokasi, gosip, ghibah (gunjingan), dan sebagainya. Seorang muslim harus menjaga anggota tubuhnya dari hal-hal yang dapat menodai keimanannya.
Demikianlah fiqih Facebook yang dapat kami sampaikan. Semoga apa yang kami sampaikan ini membawa manfaat bagi semuanya. Aamiin
http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/06/07/plus-minus-facebook/
http://dedi5611.xanga.com/weblog/


Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
10 Dampak Negatif Facebook Dalam Kehidupan Sehari-hari
10. Memicu perceraian
Pengacara menyalahkan Facebook untuk satu dari lima petisi perceraian online. Situs yang bisa mempertemukan teman lama dan membuat penggunanya bisa saling bicara melalui aplikasi chatting ini, disebut sebagai latar belakang meningkatnya kehancuran pernikahan dan godaan untuk berselingkuh.
9. Memicu anak bunuh diri
Kepala gereja katolik di Inggris dan Wales, Archbishop Vincent Nichols, memperingatkan bahwa Facebook bisa mendorong remaja memiliki pandangan bahwa pertemanan adalah sebuah komoditas. Hal itu bisa memicu keinginan untuk bunuh diri, ketika hubungan tidak berjalan lagi.
8. Lenyapkan ungkapan tradisional
Survei yang dilakukan sebuah perusahaan peneliti pasar pada 4.000 orang yang usianya dibawah 30 tahun, mengungkap bahwa banyak ungkapan tradisonal yang tidak lagi diungkapkan karena Facebook.
7. Memicu gangguan tulang
Facebook juga sering disalahkan karena gangguan tulang yang terjadi pada anak-anak. Penelitian dalam British Medical Journal menemukan bahwa situs jejaring sosial dan permainan komputer, merupakan pemicu penyakit seperti kekurangan vitamin D yang akibatnya bisa membuat tulang mudah rapuh.
6. Membuat orang menjadi tertutup
Penelitian dari Mintel, sebuah perusahaan penelitian pasar, menemukan lebih dari setengah orang dewasa yang menggunakan situs jejaring sosial seperti Facebook, lebih menghabiskan waktu di internet dibandingkan berbicara dengan teman atau anggota keluarga lainnya.
5. Membuat pasangan cemburu
Tim peneliti dari University of Guelph, Kanada, menemukan bahwa penggunaan Facebook meningkatkan rasa cemburu pasangan. Mereka menemukan bahwa makin sering seseorang menghabiskan waktu untuk online pada situs jejaring sosial dan melihat pasangannya, maka tingkat kecurigaannya sangat tinggi.
4. Dijadikan ajang menantang hukum
Pada beberapa kasus hukum di Inggris, Facebook, dijadikan ajang untuk menantang hukum. Pihak yang tersangkut kasus hukum membuat grup, yang namanya sangat provokatif dan melawan hukum.
3. Membuat banyak orang tua jatuh cinta
Ofcom, sebuah badan pembuat regulator komunikasi, menemukan lebih banyak orang setengah baya yang menjadi anggota situs jejaring sosial seperti Facebook. Hal itu menunjukkan fenomena situs jejaring sosial telah “tumbuh”, dengan pengguna yang berusia 35 hingga 54 tahun melonjak sebesar 25 persen sepanjang tahun 2009.
2. Membuat penggunanya merasa tidak menarik
Jutaan pengguna Facebook mengatakan menghindari menggunggah foto dan menghapus nama dari berbagai foto, karena merasa terlalu gemuk, tua, atau terlihat jelek. Hal itu menurut survei yang dilakukan perusahaan yang memproduksi produk penurunan berat badan, LighterLife, pada 2000 orang.
1. Mengungkap kehidupan pribadi
Banyak orang yang memajang foto-foto pribadinya di Facebook tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintainya. Seperti kasus istri seorang kepala agen rahasia Inggris, Sir John Sawers, yang memajang foto-foto keluarganya secara detail di Facebook saat berlibur bersama keluarganya.
Demikian Atrikel dari saya mengenai 10 Dampak Negatif Facebook Dalam Kehidupan Sehari-hari semoga dapat bermanfaat.
Copyright Hasbi Htc : http://www.hasbihtc.com/2012/04/10-dampak-negatif-facebook-dalam.html#ixzz2Oh0Zufrq
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/10/08/hati-organik/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Jadikanlah Facebook untuk Mengenal Islam
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ala Rosulillah wa ala alihi wa shohbihi ajmain.
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Taala. Belakangan ini di antara kita pernah mendengar mengenai fatwa haramnya Facebook, sebuah layanan pertemanan di dunia maya yang hampir serupa dengan Friendster dan layanan pertemanan lainnya. Banyak yang bingung dalam menyikapi fatwa semacam ini. Namun, bagi orang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah tentu tidak akan bingung dalam menyikapi fatwa tersebut.
Dalam tulisan yang singkat ini, dengan izin dan pertolongan Allah kami akan membahas tema yang cukup menarik ini, yang sempat membuat sebagian orang kaget. Tetapi sebelumnya, ada beberapa preface yang akan kami kemukakan.Semoga Allah memudahkannya.
Dua Kaedah yang Mesti Diperhatikan
Saudaraku, yang semoga selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah Taala. Dari hasil penelitian dari Al Quran dan As Sunnah, para ulama membuat dua kaedah ushul fiqih berikut ini:
Hukum asal untuk perkara ibadah adalah terlarang dan tidaklah disyariatkan sampai Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan.
Sebaliknya, hukum asal untuk perkara aadat (non ibadah) adalah dibolehkan dan tidak diharamkan sampai Allah dan Rasul-Nya melarangnya.
Apa yang dimaksud dua kaedah di atas?
Untuk kaedah pertama yaitu hukum asal setiap perkara ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah adalah sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang memerintahkan atau menganjurkan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al Quran dan hadits, maka orang seperti ini berarti telah mengada-ada dalam beragama (baca: berbuat bidah). Amalan yang dilakukan oleh orang semacam ini pun tertolak karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim no. 1718)
Namun, untuk perkara aadat (non ibadah) seperti makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, dan muamalat, hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. Dalil untuk kaedah kedua ini adalah firman Allah Taala,

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al Baqarah: 29). Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarangkan oleh syariat dan tidak mendatangkan bahaya.
Allah Taala juga berfirman,

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al Araaf: 32). Dalam ayat ini, Allah Taala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya.
Jadi, jika ada yang menanyakan mengenai hukum makanan tahu? Apa hukumnya? Maka jawabannya adalah tahu itu halal dan diperbolehkan.
Jika ada yang menanyakan lagi mengenai hukum minuman Coca-cola? Apa hukumnya? Maka jawabannya juga sama yaitu halal dan diperbolehkan.
Begitu pula jika ada yang menanyakan mengenai jual beli laptop? Apa hukumnya? Jawabannya adalah halal dan diperbolehkan.
Jadi, untuk perkara non ibadah seperti tadi, hukum asalnya adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Makan bangkai menjadi haram, karena dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula pakaian sutra bagi laki-laki diharamkan karena ada dalil yang menunjukkan demikian. Namun asalnya untuk perkara non ibadah adalah halal dan diperbolehkan.
Oleh karena itu, jika ada yang menanyakan pada kami bagaimana hukum Facebook? Maka kami jawab bahwa hukum asal Facebook adalah sebagaimana handphone, email, website, blog, radio dan alat-alat teknologi lainnya yaitu sama-sama mubah dan diperbolehkan.
Hukum Sarana sama dengan Hukum Tujuan
Perkara mubah (yang dibolehkan) itu ada dua macam. Ada perkara mubah yang dibolehkan dilihat dari dzatnya dan ada pula perkara mubah yang menjadi wasilah (perantara) kepada sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi rahimahullah- mengatakan,
Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syariat untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.
Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).
Maksud perkataan beliau di atas:
Apabila perkara mubah tersebut mengantarkan pada kebaikan, maka perkara mubah tersebut diperintahkan, baik dengan perintah yang wajib atau pun yang sunnah. Orang yang melakukan mubah seperti ini akan diberi ganjaran sesuai dengan niatnya.
Misalnya : Tidur adalah suatu hal yang mubah. Namun, jika tidur itu bisa membantu dalam melakukan ketaatan pada Allah atau bisa membantu dalam mencari rizki, maka tidur tersebut menjadi mustahab (dianjurkan/disunnahkan) dan akan diberi ganjaran jika diniatkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah.
Begitu pula jika perkara mubah dapat mengantarkan pada sesuatu yang dilarang, maka hukumnya pun menjadi terlarang, baik dengan larangan haram maupun makruh.
Misalnya : Terlarang menjual barang yang sebenarnya mubah namun nantinya akan digunakan untuk maksiat. Seperti menjual anggur untuk dijadikan khomr.
Contoh lainnya adalah makan dan minum dari yang thoyib dan mubah, namun secara berlebihan sampai merusak sistem pencernaan, maka ini sebaiknya ditinggalkan (makruh).
Bersenda gurau atau guyon juga asalnya adalah mubah. Sebagian ulama mengatakan, Canda itu bagaikan garam untuk makanan. Jika terlalu banyak tidak enak, terlalu sedikit juga tidak enak. Jadi, jika guyon tersebut sampai melalaikan dari perkara yang wajib seperti shalat atau mengganggu orang lain, maka guyon seperti ini menjadi terlarang.
Oleh karena itu, jika sudah ditetapkan hukum pada tujuan, maka sarana (perantara) menuju tujuan tadi akan memiliki hukum yang sama. Perantara pada sesuatu yang diperintahkan, maka perantara tersebut diperintahkan. Begitu pula perantara pada sesuatu yang dilarang, maka perantara tersebut dilarang pula. Misalnya tujuan tersebut wajib, maka sarana yang mengantarkan kepada yang wajib ini ikut menjadi wajib.
Contohnya : Menunaikan shalat lima waktu adalah sebagai tujuan. Dan berjalan ke tempat shalat (masjid) adalah wasilah (perantara). Maka karena tujuan tadi wajib, maka wasilah di sini juga ikut menjadi wajib. Ini berlaku untuk perkara sunnah dan seterusnya.
Intinya, Hukum Facebook adalah Tergantung Pemanfaatannya
Jadi intinya, hukum facebook adalah tergantung pemanfaatannya. Kalau pemanfaatannya adalah untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, maka facebook pun bernilai sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Begitu pula jika facebook digunakan untuk perkara yang haram, maka hukumnya pun menjadi haram. Hal ini semua termasuk dalam kaedah al wasa-il laha hukmul maqhosid (hukum sarana sama dengan hukum tujuan). Di bawah kaedah ini terdapat kaedah derivat atau turunan lainnya yaitu:
1. Maa laa yatimmul wajibu illah bihi fa huwa wajib (Suatu yang wajib yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)
2. Maa laa yatimmul masnun illah bihi fa huwa masnun (Suatu yang sunnah yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi sunnah)
3. Maa yatawaqqoful haromu alaihi fa huwa haromun (Suatu yang bisa menyebabkan terjerumus pada yang haram, maka sarana menuju yang haram tersebut menjadi haram)
4. Wasail makruh makruhatun (Perantara kepada perkara yang makruh juga dinilah makruh)
Maka lihatlah kaedah derivat yang ketiga di atas. Intinya, jika facebook digunakan untuk yang haram dan sia-sia, maka facebook menjadi haram dan terlarang.
Kita dapat melihat bahwa tidak sedikit di antara pengguna facebook yang melakukan hubungan gelap di luar nikah di dunia maya. Padahal lawan jenis yang diajak berhubungan bukanlah mahram dan bukan istri. Sungguh, banyak terjadi perselingkuhan karena kasus semacam ini. Jika memang facebook banyak digunakan untuk tujuan-tujuan semacam ini, maka sungguh kami katakan, Hukum facebook sebagaimana hukum pemanfaatannya. Kalau dimanfaatkan untuk yang haram, maka facebook pun menjadi haram.
Waktu yang Sia-sia Di Depan Facebook
Saudaraku, inilah yang kami ingatkan untuk para pengguna facebook. Ingatlah waktumu! Kebanyakan orang betah berjam-jam di depan facebook, bisa sampai 5 jam bahkan seharian, namun mereka begitu tidak betah di depan Al Quran dan majelis ilmu. Sungguh, ini yang kami sayangkan bagi saudara-saudaraku yang begitu gandrung dengan facebook. Oleh karena itu, sadarlah!!
Semoga beberapa nasehat ulama kembali menyadarkanmu tentang waktu dan hidupmu.
Imam Asy Syafii rahimahullah pernah mengatakan, Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.
Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafii di atas, Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil). (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al Ilmiyah)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.
Ingatlah … kematian lebih layak bagi orang yang menyia-nyiakan waktu.
Ibnul Qayyim mengatakan, Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya. (Al Jawabul Kafi, 109)
Marilah Memanfaatkan Facebook untuk Dakwah
Inilah pemanfaatan yang paling baik yaitu facebook dimanfaatkan untuk dakwah. Betapa banyak orang yang senang dikirimi nasehat agama yang dibaca di inbox, note atau melalui link mereka. Banyak yang sadar dan kembali kepada jalan kebenaran karena membaca nasehat-nasehat tersebut.
Oleh karena itu, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi dalam masalah agama, yang tentu saja dengan bekal ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari Jabir, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. (Al Jaami Ash Shogir, no. 11608)
Dari Abu Masud Al Anshori, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya. (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah saudaraku, bagaimana jika tulisan kita dalam note, status, atau link di facebook dibaca oleh 5, 1o bahkan ratusan orang, lalu mereka amalkan, betapa banyak pahala yang kita peroleh. Jadi, facebook jika dimanfaatkan untuk dakwah semacam ini, sungguh sangat bermanfaat.
Penutup: Nasehat bagi Para Pengguna Facebook
Imam Asy SyafiI mengatakan, Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).( Al Jawabul Kafi, 109)
Semoga kita selalu disibukkan dengan hal yang dapat memberikan manfaat pada orang lain. Alangkah bagusnya jika status, note dan link yang kita berikan pada saudara-saudara kita berisi siraman-siraman rohani. Itu lebih baik dan lebih bermanfaat dibandinga dengan mengisi status di FB dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan dosa.
Kami hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah bagi orang yang membaca tulisan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memanfaatkan waktu dengan baik, dalam hal-hal yang bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Rujukan:
Al Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al Ilmiyah
Al Qowaid wal Ushul Al Jaamiah, Abdurrahman bin Nashir As Sadi, Darul Wathon Lin Nasyr
Jamul Mahshul fi Syarhi Risalah Ibni Syadi fil Ushul, Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Dar Al Muslim
Risalah Lathifah, Abdurrahman bin Nashir As Sadi
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com
http://remajaislam.com/islam-dasar/nasehat/23-jadikanlah-facebook-untuk-mengenal-islam.html
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/tata-krama-dan-sopan-santun-di-jejaring-sosial/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
JANGAN MERATAP DI DINDING FACEBOOK
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Di antara wujud pengagungan terhadap Allah dan mengetahui hak-Nya adalah, janganlah engkau mengeluhkan dan janganlah engkau menyebut-nyebut musibah (kesusahan)mu.” (Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah)
Al-Ahnaf berkata:
“Aku tidak bisa melihat (kehilangan penglihatan) sejak 40 tahun yang lalu, dan aku tidak pernah menceritakannya kepada orang lain.”
Seseorang bertanya kepada Imam Ahmad:
“Bagaimana keadaanmu wahai Abu Abdullah?”
Dia (Imam Ahmad) menjawab:
“Baik-baik dan tetap dalam kesehatan.”
Orang itu bertanya lagi:
“Apakah semalam engkau demam?”
Imam Ahmad menjawab:
“Jika sudah kukatakan, bahwa aku dalam keadaan kesehatan, maka jangan engkau mendesakku kepada sesuatu yang tidak kusukai.”
(Imam Ahmad rahimahullah tidak menyukai menceritakan sakitnya kepada orang lain)
Syaqiq al-Bakhli berkata:
“Barangsiapa yang mengadukan suatu musibah kepada selain Allah, maka dia tidak mendapatkan di dalam hatinya manisnya ketaatan kepada Allah.”
Sebagian orang bijak berkata:
“Di antara simpanan kebaikan adalah menyembunyikan musibah. Orang-orang terdahulu biasa senang mendapat musibah, karena pertimbangan pahalanya.”
(Dikutip dari kitab Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah, Pustaka As-Sunnah, Jakarta)
Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya:
“Bagaimana mungkin engkau MENGADUKAN YANG MERAHMATIMU (yaitu Allah) KEPADA ORANG YANG TIDAK MEMBERIKAN RAHMAT KEPADAMU…?”
Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan (kesusahan) yang menimpamu.
Sebagian orang Salaf yang shalih berkata:
“Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya.”
Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya, tetapi pengaduan yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.
Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata:
“Empat hal termasuk simpanan Surga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit.”
(Dikutip dari almanhaj.or.id dengan penyesuaian)
Firman Allah Ta’ala:


“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf: 86)
Semoga catatan di atas bisa kita jadikan sebagai bahan renungan, untuk perbaikan diri-diri kita ke arah yang lebih baik, minimal tidak lagi “meratap” (curhat/mengeluh) di dinding FACEBOOK, baik melalui status maupun komen-komen, baik secara tersurat maupun tersirat. Barakallahu fiikum jami’an…
Semoga bermanfaat…
-Sahabatmu-
Abu Muhammad Herman
https://www.facebook.com/note.php?note_id=10151066094910175
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/hanya-kepada-mu-kami-berlindung/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Dulu.
Anak kurang kasih sayang, karena ayahnya sibuk bekerja, ibunya sibuk arisan.
Sekarang.
Anak kurang kasih sayang, karena ayahnya sibuk bekerja, padahal ibunya ada di rumah, tapi BBM terus.
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/tata-krama-dan-sopan-santun-di-jejaring-sosial/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
“Dosa 24 Jam di Facebook”
Ukhti yang kusayang hati” dalam memasang photo di
fb, yah walaupun anti
memasang photo yg menutup aurat , tetapi hati” , krna dgan
bgni orang” yg tidak halal untk anti bsa dgan bebasnya
memandang photo anti, bhkan bsa lbih dari itu , yaitu mreka bsa saja men-Download photo anti.
ketahuilah, bunda ‘Aisyah “Istri Rasulullah” pernah brpesan kpada kaum
wanita, “sebaik-baik wanita , (ialah yang
tdak di pandang) dan tidak memandang”.
Juga firman ALLAH dlam QS.AN-NUUR:31
“kataknlah kpda wanita yg beriman, hendaklah mereka
menahan (menundukan) pandangan nya”.
Ukhti,
Rasul brulang kali brpesan kpda kaum laki” agar tidak memandang wanita (dengan brkeinginan),
krna didlam pndangan yg tidak halal (ajnabi) itu trdpat panah-panah iblis.
Ukhti yang kusayang,
jganlah kita smakin mnjadi fitnah bgi
kaum laki” dgan
memajang photo.,
Rasul brsabda:
“tiada aku tinggalkn stelhku selain FITNAH yg brbhaya bgi laki”
daripda Wanita”.
(HR.Bukhari, Muslim. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Ukhti…,
Bantulah Mereka para
ikhwan (laki-laki) yang masih lemah iman nya.
Apakh anti tidk mrasa brdosa jika seandainya ada seorang laki” yang (maaf) menyukai anti,
Kekhusyu’an Sholatnya trganggu hnya krna ia trbayang-byang (maaf) wajah anti yg ada di photo ?
Akankah anti halal kan (maaf) wajah ukhti di rebus dlam neraka yg menyala hnya krna mengumbar kecntikan shingga beribu laki” kehilangan khusyu’
dalam sholat nya dan bermaksiat setelah melihat wajah anti yang begitu menggoyahkan imannya ?
ALLAH brfirman dlam QS.AN-NISA:14
“Dan barang siapa yg mndurhakai ALLAH dan Rasul-Nya dan
melanggar KETENTUAN-KETENTUAN-Nya, niscaya ALLAH memasuknnya kdalm api neraka, shingga ia kekal didlam nya, dan
bginya sksaan yg menghinakan”.
Wallahu A’lam…
Semoga bermanfaat..
Barakallahu fiikum…
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=498213146858720&set=a.216458798367491.67367.216458048367566&type=1&theater
http://kfk.kompas.com/blog/view/132415


TAGS 11977


-

Author

Follow Me