Menyibak Tabir Rahasia Basmalah

14 Mar 2013


Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Menyibak Tabir Rahasia Basmalah
Allah SWT berfirman:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Naml [27]: 30-31)
Abu Hurairah RA berkata:
Setiap perkara penting yang tidak didahului dengan Basmalah maka ia kehilangan berkah.[[1]]
Sadar atau tidak sadar, Basmalah terucap seperti air sejuk yang memenuhi rongga-rongga tenggorokan di bawah terik sinar mentari. Akan tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak merenungi maknanya. Ia dengan lihai menyulam renda-renda keagungan, keindahan, dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang memesona dengan pintalan-pintalan makna, mengukir seni kehidupan dengan taburan-taburan warna. Singkatnya, tulisan ini mengajak pemerhati Basmalah berhenti sejenak menelaah sejauh mana makna yang dipancarkannya.
Karena Basmalah melukiskan kepapaan manusia dan khazanah kekayaan ilahi yang abadi, maka tulisan ini lebih memilih bentuk tanya jawab untuk memungut makna-makna tersebut. Bukankah pertanyaan tanda tidak tahu? Bukankah sebaik-baik pemberi tahu adalah Allah yang Maha Mengetahui? Semoga dengan pertanyaan yang lahir dari kepapaan ini penulis dan Anda sekalian mendapatkan pembukaan dan pencerahan dari Allah Pemilik Basmalah.
Jika Anda bertanya: di ayat pertama Nabi Sulaiman AS menyebutkan Basmalah lebih awal dari kalimat ( ) di saat menyurat ke Ratu Balqis. Mengapa kalimat itu bukan yang pertama kali disebutkan? Bukankah ia maksud utama dari surat tersebut?
Kepada Anda dikatakan: di sana ada dua ungkapan yang cukup berbeda, pertama: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang saya membaca, mengaji,dan kedua: saya membaca, mengaji dengan menyebut nama Allah. Tentunya, ungkapan pertama jauh lebih bermakna dari ungkapan kedua dari pelbagai sisi, di antaranya: tidak ada segala sesuatu yang terjadi kecuali dengan izin-Nya, hasil usaha tidak selamanya mendatangkan berkah meski terlihat di hadapan mata banyak dan baik. Olehnya itu, supaya menuai berkah ingat Allah Pemberi Berkah sebelum memulai, Ia starting point terhadap kesinambungan berkah pekerjaan. Kemudian, ia juga menyinarkan bahwa kekuatan bukan dengan memperlihatkan kecongkakan dan kesombongan, tetapi lebih ditentukan oleh sejauh mana hamba memperlihatkan kepapaan dan kelemahannya di depan kekayaan dan keagungan-Nya.
Di sini Nabi Sulaiman AS seperti berseru dan berkata: Wahai Balqis, Seruan itu datang dari-Nya ( ) yang melapisi kelemahanku dengan tekad baja, memberikan aku kekuatan materi dan maknawi yang lahir dari kepapaanku terhadap keagungan-Nya, dan mengajarkan aku kelemahlembutan dalam menjalankan politik negara. Aku tidak menyeru kalian tunduk terhadapku kecuali seruan dan kekuatan itu datang dari-Nya. Maka tunduklah sebelum kelemahlembutan ini habis masa!
Sistematika seperti ini telah dijumpai di orang-orang Arab dahulu. Mereka sering mengatakan: Dengan Bismillah aku bekerja, dan bukan: aku bekerja dengan Bismillah. Jika Anda bertanya: Kenapa seperti itu? Bukankah keduanya sama saja? Mereka menjawab: yah, seperti itu, karena ia adalah doa yang mampu melahirkan rasa kebersamaan dengan Allah dalam hati, sehingga dengan sendirinya tiada menjadi ada, sedikit jadi banyak, dan perasaan lemah jadi kekuatan yang tidak terpadamkan. Inilah yang disebut sebagian orang berkah Basmalah.
Dalam hal ini mari melihat secara saksama simfoni makna yang dilantukan goresan pena Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail (guru besar tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran di universitas Al-Azhar), beliau berkata:
Hamba diminta kembali meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dengan segenap hati, ruh, akal, dan panca indera, karena tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya. Merasa butuh dan ingin kembali kepada-Nya merupakan pengejawantahan tauhid tertinggi sebagai tempat bernaung orang-orang dahulu dan yang akan datang di kemudian hari.
Sesungguhnya semua entitas kehidupan tanpa Allah yang Maha Esa nol besar, tidak punya arti apa-apa. Akan tetapi, dengan meminta kebersamaan Allah nol menjadi 10, dua nol menjadi 100, dan seterusnya. Cermati misal ini, dan jangan lalai dari kandungannya.
Makna ini telah diterjemahkan oleh salah seorang penyair ketauhidan dalam syairnya berikut ini [[2]]:
Jika Anda bertanya yang kedua kalinya: kenapa di Basmalah kita meminta berkah dengan menyebut nama-Nya: ( ), kenapa tidak langsung saja menyebut zat-Nya dengan: ()?
Syekh Abu Sud menyuguhkan kepada Anda dua jawaban, beliau berkata:
Tidak dikatakan () demi membedakan antara sumpah dan harapan, atau guna mewujudkan tujuan utama pemaknaan, yaitu (), meminta pertolongan. Kita kadang meminta pertolongan dengan menyebut zat-Nya. Artinya: meminta pertolongan untuk melakukan sebuah pekerjaan yang wajib dilaksanakan selaku hamba. Makna ini tersirat di ( ), dan kadang juga dengan nama-Nya. Artinya, meminta pertolongan dan rahmat-Nya supaya pekerjaan itu punya nilai ibadah di mata syariat sehingga ia punya berkah, karena jika tidak disertai dengan nama Allah, maka ia pun tidak terhitung dan sia-sia. Dan tatkala kedua bentuk permintaan itu terdapat di al-Fatihah maka makna terakhir ini wajib dibedakan dari yang pertama dengan menempatkan kata ().[[4]]
Hematnya, Karena Al-Fatihah pembuka surah-surah Al-Quran, ia seperti telah dirancang khusus untuk mengoleksi kedua pemaknaan ini, sehingga dengan sendirinya ia mengajarkan adab berdoa. Ia seperti berkata: wahai hamba Allah, jika Anda ingin berdoa, maka berdoalah dengan menyebut Zat atau nama-Nya, atau kedua-Nya. Di satu sisi, ia mengisyaratkan bahwa hamba dalam berdoa hendaknya kondisi kejiwaannya mengalami peningkatan derajat ( ) dari satu makna ke makna yang lebih dalam lagi.
Tetapi, kenapa yang datang setelah () adalah () dan bukan nama-nama-Nya yang lain?
Di sini saya mengajak Anda menemukan jawabannya dengan berupaya mencerna pernyataan Syekh Mutawalli as-Syarawi berikut ini:
Asmaul Husna adalah nama-nama yang Allah letakkan guna menunjukkan zat-Nya. Petunjuk tersebut ada dua bagian: ( ), yaitu nama yang menunjukkan langsung zat Allah yang wajib, yaitu (). Adapun nama-nama lain, seperti: () pada dasarnya mereka menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah, meskipun kita menyebut mereka sebagai nama. Inilah yang lebih dikenal dengan ( ).
() mengoleksi keagungan, keindahan, dan kesempurnaan zat maha pencipta yang dibiaskan oleh nama-nama-Nya yang melukiskan nilai-nilai ketuhanan demi menjaga keseimbangan hidup di kosmos ini.
Karena Allah Tuhan semesta alam, maka kekuasaan-Nya butuh pelaksanaan, dan pelaksanaan-Nya lahir dari kepemilikan, dan kepemilikan-Nya butuh pengaturan, dan pengaturan-Nya butuh kepada perintah, dan perintah-Nya itu butuh kepada kekuatan pelaksanaan yang ada di zat Allah sendiri.[[5]]
Sebelumnya itu, Ustadz Said Nursi juga telah menjelaskan makna di atas, beliau berkata:
adapun () maka ketahuilah bahwa Allah punya nama-nama yang menunjukkan zat-Nya dan nama-nama yang menunjukkan sifat perbuatan-Nya, seperti: () yang Maha Pemberi Rezeki, () yang Maha pengampun, () Yang Maha menghidupkan, dan yang lain. Keanekaragaman nama-nama Allah disebabkan oleh banyaknya keterikatan Qudra Azali Allah terhadap pelbagai bentuk makhluk. Olehnya itu, ( ) sarana terbaik meminta keterikatan Qudra tersebut sehingga dengan sendirinya ia seperti ruh yang menjadikan setiap pekerjaan punya nuansa hidup.
Sementara itu, lafal () mencakup seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang dibiaskan oleh nama-nama-Nya yang lain.[[6]]
Hematnya, karena () penamaan terhadap zat-Nya yang mengoleksi kesempurnaan sifat-sifat yang dilukiskan oleh nama-nama-Nya yang lain, maka ia pun disebutkan lebih awal dan nama-nama yang datang setelahnya seperti penafsir-penafsir yang sedang memberikan penjelasan tersendiri terhadap kesempurnaan, keagungan, keindahan zat yang ditunjukkan oleh () itu.
Jika Anda bertanya yang ketiga kalinya: Kenapa () peletakannya mendahului ()? Bukankah keduanya terambil dari akar kata yang sama, yaitu: ()? Bukankah () yang maknanya lebih luas dari () [[7]] seyogianya ditempatkan di akhir kalimat, khususnya, Basmalah sebagaimana yang diketahui mengoleksi nikmat yang paling tinggi, yaitu rahmat Allah SWT terhadap makhluk? Dan jika salah satu gaya pembahasan Al-Quran dalam memamerkan aneka ragam nikmat adalah menyebut yang terkecil ke yang terbesar, kenapa di sini justru terbalik?
Di sini, para pemerhati tafsir telah mengorek indera rasa Anda dalam memberikan pemaknaan. Olehnya itu, Anda dipersilakan menyibak kabut-kabut tipis yang melindungi penglihatan Anda dari makna-makna yang ada lewat pernyataan Jarullah az-Zamakhsyari berikut ini:
Yang demikian itu karena tatkala () meliputi segala bentuk kenikmatan dan nikmat-nikmat yang besar, maka ia pun menyebut setelahnya () sebagai penyempurna, mengingat ia meliputi nikmat yang sering dilupakan hanya karena kelalaian atau sulit terdeteksi oleh indera.[[8]]
Olehnya itu, Molla Abdullah Majid Nursi [[9]] melihat bahwa mekanisme seperti ini bertujuan memberikan peringatan terhadap mereka yang kadang lalai mensyukuri nikmat yang tidak nampak olehnya, atau nampak tetapi kelihatan kecil baginya, dia ada atau tidak sama saja untuknya. Jadi, ( ) seperti berkata ke wajah mereka memperingatkan: Wahai yang lalai dari nikmat Allah! Semua nikmat itu sama, meskipun di kaca mata manusia ada yang kecil dan ada yang besar. Itu karena semuanya datang dari satu sumber, yaitu Maha Pemberi Rezeki yang tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Maka dari itu, mulailah sekarang menghargai dan mensyukuri setiap nikmat meski ia nampak kecil di mata Anda!
Selain jawaban ini, di sana ada jawaban lain yang diutarakan oleh Imam Zainuddin ar-Razi, beliau berkata:
() disebutkan terdahulu karena nama ini hanya khusus untuk Allah semata, baik ia berdiri secara sendiri atau bergandengan dengan kata lain, () dapat disandang selain dari Allah baik ia berdiri sendiri [[10]] atau bergandengan dengan kata lain, [[11]] sehingga ia ditempatkan di akhir kalimat, dan () dapat disandang selain dari-Nya jika bergandengan dengan kata lain, seperti: ( ), dan tidak bisa disandang secara tersendiri sebagai sifat selain dari-Nya.[[12]]
Hematnya, pernyataan singkat ini memberitahu umat tata cara dan adab penggunaan Asmaul Husna. Dan karena Musailamah al-Kassab menamakan dirinya ( ), ia pun terbunuh dengan keji oleh umat Islam di perang Yamamah sebagai balasan terhadap kelancangannya melanggar tatakrama nama-nama Allah. Olehnya itu, Imam al-Qurtubi menyimpulkan bahwa () merupakan salah satu nama Allah yang paling agung yang mempunyai cakupan makna tidak jauh beda dengan apa yang ada pada (). [[13]]
Jika Anda bertanya yang kesekian kalinya: kenapa Basmalah disebutkan di awal setiap surah? Bukankah yang berulang-ulang itu membosankan?
Di sini Anda diminta berdiam sejenak memfokuskan perhatian kepada apa yang dijelaskan Badiuzzaman Said Nursi di bawah ini:
tidak selamanya yang berulang-ulang itu membosankan. Akan tetapi, kadang ia terhitung baik dan kadang pula menjemukan. Contohnya, Di antara makanan manusia ada makanan pokok yang setiap kali dikonsumsi maka setiap kali itu juga ia lezat dan nikmat, dan ada pula makanan sekunder yang jika dijadikan makanan pokok maka ia membosankan, beda halnya, jika ia disajikan sebagai pencuci mulut atau makanan selingan. Jika demikian halnya, maka demikian pula dengan perkataan, di antaranya ada yang menjadi cernaan dan kekuatan terhadap pemikiran, sari pati untuk ruh, yang jika didengarkan berulang kali ia terdengar lunak dan enak karena menyatu dengan perasaan, seperti cahaya matahari yang tidak pernah membosankan. Di sana ada juga perkataan yang serupa perhiasan dan makanan selingan yang kelezatannya nampak dari perubahan-perubahan bentuk dan gaya pembahasannya.
Jika Anda telah menyadari ini, maka ketahuilah bahwa sebagaimana Al-Quran secara keseluruhan sari makanan dan kekuatan terhadap hati yang tidak pernah membosankan meski terdengar berulang kali, maka di dalamnya ada pula yang sederajat dengan ruh terhadap sari pati makanan tersebut yang setiap kali berulang ia memantulkan cahaya dan kilau kebenaran dan hakikat dari pelbagai sisinya. Yang demikian itu adalah Basmalah simpul kehidupan dan cahaya ketuhanan.
Kilauan-kilauan cahaya itu dapat Anda temukan di pelbagai sisi Basmalah, seperti: Basmalah sarana cepat meminta pertolongan, berkah, dan ia juga seperti tema, bahkan tujuan dan indeks terhadap point-point utama di dalam Al-Quran.
Ia pun menyiratkan ketauhidan, penyucian, pujian, keagungan, keindahan, dan ihsan. Ia seperti halte-halte ketuhanan yang wajib disinggahi untuk menyuarakan makna-makna tersebut.
Dan ia pun mengisyaratkan pelbagai hukum, seperti: ketauhidan, kenabian, hari kebangkitan, dan keadilan.[[14]]
Hematnya, karena Basmalah indeks tema-tema besar Al-Quran dan rumus-rumus kehidupan, maka ia pun disebutkan di setiap awal surah. Ia tidak salah tempat karena keuniversalan makna yang dikantonginya ia selalu tepat di tempat mana saja diletakkan, dan ia tidak membosankan karena di khazanahnya terdapat koleksi-koleksi makna yang tidak kunjung habis dipetik, setiap kali dipetik lahir makna baru yang mungkin lebih kaya lagi dari makna pertama, dan seterusnya.
Di penghujung tulisan ini, pemerhati tema-tema tafsir kitab suci Allah tidak diajak menyuarakan sebuah kesimpulan seperti biasa, karena setiap jawaban kesimpulan dari pernyataan yang dilontarkan.
Catatan Kaki:
[1] Hadits ini kadang periwayatannya dikembalikan kepada Rasul Saw sebagai Hadits Marfu, kadang pula dijustifikasi sebagai Hadits Mursal yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Yang benarnya, riwayat ini termasuk Hadits Mursal. Kemudian, redaksi (matan) hadits ini pun berbeda-beda dalam pelbagai periwayatan, ia kadang datang dengan lafal ( ), kadang juga dengan ( ), dan juga ( ). Olehnya itu, terdapat perbedaan pendapat antara ahli hadits dalam justifikasi mereka, tetapi kebanyakan dari mereka menjustifikasinya sebagai Hadits Hasan. Mari kita melihat secara saksama justifikasi mereka sebagaimana berikut:
Al-Allmah al-Hasan ar-Rubbi berkata:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, an-Nasi, Ibn Mjah, Abu Awwna, ad-Druqutni, dan Ibn Hibbn dan dijustifikasi sebagai Hadits Hasan oleh Ibn as-Shalh dan yang lain. Ibn Sayyid an-Ns dalam (Syarh at-Tirmidzi) berkata: sesungguhnya kebaikan hadits ini jelas dan tidak dipungkiri, namun tidak dijustifikasi sebagai hadits Shahih. Dan Al-Mundziri berkata: hadits-hadits ini saling menguatkan disebabkan oleh banyaknya bentuk periwayatan yang ada. [Al-Allmah al-Hasan bin ar-Rubbi: Fathul Gaffr al-Jmi' li Ahkm Sunnati Nabiyyin al-Mukhtr, kitab at-Thaharah, bab at-Tasmiyah fil Wudhu' Dar Alam al-Fawid), no. hadits 232, vol. 1, hlm. 85]
Di lain sisi, hadits ini dijustifikasi Syekh Ahmad al-Gamri sebagai hadits Maudhu (hadits yang derajatnya sangat lemah. Ia sengaja diletakkan dengan tujuan tertentu, khususnya untuk Targib (mendorong seseorang melakukan suatu pekerjaan dengan memperlihatkan kebaikannya), dan tidak sah pengembaliannya kepada Nabi Saw). Berikut ini justifikasi beliau:
apa yang dianggap ulama-ulama khalaf, seperti para pensyarah kitab, bahwa penyebutan Basmalah lebih awal dari Hamdalah disebabkan oleh hadits tentang Basmalah Shahih dan hadits tentang Hamdalah Hasan saja, atau karena hadits Basmalah sesuai dengan syarat sah hadits menurut Imam Bukhari dan hadits Hamdalah tidak memenuhi syarat sah tersebut, atau hadits kedua baik dan hadits pertama sangat baik, bahkan sebagian dari mereka berkata: sesungguhnya hadits Basmalah itu masyhur. Parahnya lagi, keberanian seseorang menjustifikasinya sebagai Hadits Mutawatir. Semua justifikasi itu keliru dan membingungkan yang lahir dari taklid buta, khususnya jika itu datang dari mereka yang tidak menekuni dan mengetahui seni hadits.
Demikian pula pengembalian mereka terhadap hadits ini ke Sunan Abi Daud, an-Nasi, Ibn Mjah, Shahih Abi Awwnah, dan Shahih Ibn Hibbn, sesungguhnya hadits itu tidak didapatkan sama sekali dalam kitab-kitab ini. Akan tetapi, hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib al-Bagdadi di (al-Jami li Akhlq ar-Rwi wa dab as-Smi) dan disebutkan sanadnya oleh ar-Rakhwi di (al-Arbain) dan di periwayatan Imam Ahmad. [Syekh Ahmad bin Muhammad bin as-Shiddq al-Gamri, al-Istidsah wa al-Hasbalah Mimman Shahaha Hadits al-Basmalah: ( ), Maktabah Tibriyyah, Riyadh, hlm. 16]
Di sini penulis lebih cenderung menguatkan justifikasi Syekh Ahmad al-Gamri. Karena setelah kembali mencheck-up hadits ini di buku-buku hadits sebagaimana yang diberitakan oleh sebagian ulama, hadits itu tidak dijumpai di sana. Hematnya, karena makna hadits ini baik, maka sebagian ulama meriwayatkannya, tetapi mereka tidak berhak menjustifikasinya sebagai Hadits Hasan hanya karena datang dengan pelbagai bentuk periwayatan, justru dengan berbedanya redaksi hadits ini di tiap periwayatan seyogianya menjadi tanda tanya yang menuntun mereka mendiagnosa hadits ini sebelum menjatuhkan sebuah justifikasi.
[2] Maksudnya, kesempurnaan Marifah terhadap Allah lebih ditentukan oleh sejauh mana keterkaitan dan kedekatan hamba terhadap-Nya. Memiliki kebersamaan dengan-Nya seperti memiliki kosmos dan isinya, tetapi tanpa kebersamaan itu, Anda tidak punya apa-apa meski Anda merasa memiliki semua. Syair itu dinyanyikan oleh Syekh Abu Madyan al-Gausth al-Magribi. [lihat: Diwan Sayyidi Syekh Abu Madyan al-Gausth, (tidak disebutkan tahun cetak dan tempat percetakannya), hlm. 5, lembaran-lembaran ini diupload di: http://www.4shared.com/office/9UxZZErR/_____.htm. Selanjutnya, syair-syair syekh tersebut juga disebutkan oleh Imam Akbar Syekh Abdul Halim Mahmud di bukunya: Abu Madyan al-Gausth, Dar al-Marif, Cairo, hlm.121]
[3] Syekh Muhammad Bakr Ismail, Asmaullahi al-Husna, tsaruha wa Asrruha, Dar al-Manar, Cairo, cet. 1, 2000, hlm. 8
[4] Tafsir Syekh Abi Sud, vol. 1, hlm. 16-17
[5] Syekh Mutawalli as-Syarawi, Asmullhi al-Husna, Akhbar el-Youm, Cairo, hlm. 19-20
[6] Isyrt al-Ijz fi Madzhnni al-jz, hlm. 24
[7] di antara perbedaan makna di antara keduanya, seperti: () Pemilik rahmat umum di dunia terhadap seluruh makhluk dan pemilik rahmat umum terhadap orang-orang beriman di hari kiamat. Sementara, () pemilik rahmat umum terhadap orang-orang beriman dan yang lain di dunia, sebagaimana firman Allah SWT: (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Artinya, yang Maha penyanyang terhadap seluruh manusia meskipun ras, suku, bangsa, dan agama mereka berbeda. Adapun di akhirat ia hanya merahmati orang-orang beriman saja, sebagaimana firman-Nya berikut ini: (Q.S. Al-Ahzab [33]: 43). [lihat: Syekh Muhammad Bakr Ismail, Op.Cit, hlm. 18].
[8] al-Kasyyf, vol. 1, hlm. 110-111
[9] Lihat: catatan kaki beliau terhadap syarah Ustadz Said Nursi (Qizl jaz) atas (Sullam al-Mantiq) oleh Syekh Abdurrahman al-akhduri di Saeqal al-Islm, karya Ustadz Said Nursi, hlm. 167
[10] seperti: , sifat yang diberikan kepada seseorang yang menurut Anda sendiri ia berhak menyandangnya karena ia penyanyang.
[11] seperti:
[12] Imam Zainuddin Muhammad bin Abi Bakr ar-Razi, Unmsaj Jall fi Asilah wa Ajwibah an Garib yi at-Tanzl, Dar lam al-Kutub, cet. 1, 1991, Saudi Arabia, hlm. 2
[13] Lihat: Imam al-Qurtubi Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr, al-Asna fi Syar Asmillhi al-Husna, Dar as-Shahabah, Tanta, cet. 1, 1995, vol. 1, hlm, 62-63
[14] Isyrt al-Ijz fi Madzhnni al-jz, hlm. 37-38
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19124/menyibak-tabir-rahasia-basmalah/#ixzz2NVdNhYwN
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
http://www.dakwatuna.com/2012/03/19124/menyibak-tabir-rahasia-basmalah/#axzz2NVcvYv1E

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Rahasia Dasyat! dibalik Kalimat Bismillahirrahmanirrahim
Dalam pengejawantahan Al Quran terdapat banyak sekali kalimat yang Maha Dasyat,sangat powerful, bahkan sangat kuat yang akan membuat kita terdecak kagum. betapa dasyatnya kalimat-kalimat suci didalam Al Quran itu. Dari semula Al Quran berjumlah 30 juz 114 Surat dan diawali dengan surat Al Fatihah yaitu surat pembuka bagi ayat suci al-quran, inilah inti sari dari Al Quran itu, kita harus tahu bahwa surat Al-Fatihah melebihi semua surat yang lain. Kalau tidak, mengapa Al-Fatihah dijadikan rukun dalam shalat ? Tidak sah shalat tanpa di dalamnya Al-Fatihah. Berarti Al-Fatihah memang memiliki keutamaan. Salah satu keutamaan Al-Fatihah terdapat pada awal suratnya yaitu kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”. dan benar inilah kalimat yang Maha Dasyat itu yaitu kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”.
Dalam pembahasan ini kita awali dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Dan kita mulai dengan kata Bismillah yang berarti itu menunjukkan asma yang agung yang berarti “Dengan menyebut asma Allah” dengan di ikuti kata selanjutnya Rahman dan Rahim yang berarti merujuk kepada sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Dengan arti lengkapnya “Bismillahirrahmanirrahim” Adalah “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Berarti ketika kita analisa dalam kalimat tersebut tidak ada kata negatif sedikitpun dan semua yang terdapat dalam kalimat ini mengandung kalimat yang positif. Kalimat inilah yang sebenarnya memancarkan kasih sayang kepenjuru alam dan semua makhluk tanpa terkecuali terkena dampak radiasi kalimat positif positif ini. Kalimat positif ini yang akan selalu memancar tiada henti keseluruh pejuru alam, tanpa putus sedikitpun.
Bagaimana tidak dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Sehingga seandainya ada induk kucing mempunyai anak dan induknya itu mau mengasuh anaknya serta memberikan perlindungan dari bahaya yang akan menerkam itu sebab karena sifat Kasih sayangnya, begitupula ketika kita bisa berdiri tegak menghirup udara bebas tanpa pungutan biaya sepeserpun dan mustahil tanpa sifat Maha PenyayangNya kita tidak akan mungkin seberuntung orang yang orang matanyanya buta tidak diberi kesempatan untuk membaca artikel ini. Tanpa sebab pancaran sifat kasih sayangnya yang pasti kita tidak akan hidup di dunia ini. Dan masih banyak sekali yang belum terpikirkan dan terlintas dibenak kita, bahkan keyakinanpun itu juga termasuk suatu karunia dampak dari sifat Alloh Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Sungguh sangat banyak dan berlimpah sekali kasih sayangnya yang diberikan kepada kita. Akan tetapi dengan kasih sayang yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, pernahkan kita bersyukur kepadanya ? tak terkecuali ujianpun adalah adalah suatu pengejawantahan kasih sayang Tuhan yang diberikan kepada kita. Tuhan memberikan batasan kepada kita agar tidak terlampau jauh terjebak dalam paham arus materialisme (cinta dunia). Bagi orang yang sabar dan memiliki hikmah yang tinggi dia tidak serta merta mencaci maki apa yang menimpa pada dirinya, dia terus selalu positif thingking dan belajar menerima keadaaan yang terjadi pada dirinya, dia tidak pernah mencaci maki Tuhan dengan segala keadaan dan keterbatasan yang dihadapinya. Berpikir positif positif dan positif.
Sifat kasih sayang inilah yang senantiasa memancar dan mengarah disetiap hati manusia, tidak perduli statusnya, golongan serta ras dari mana, yang jelas sifat kasih sayang ini selalu akan meliputi hati manusia dan makhluk diseluruh alam jagad raya ini. Dan tidak perduli manusia itu memiliki sifat jahat maupun sifat baik tetap manusia masih mendapatkan jatah sifat kasih sayang itu. Masih ingatkan pelajaran semasa di bangku sekolah dasar menjelaskan tentang perkalian aljabar apapun angkanya apabila positif bertemu dengan positif maka hasil yang didapat adalah angka positif, begitupula sebaliknya angka berapapun yang bernilai negatif apabila dikalikan dengan angka positif maka yang di dapat adalah nilai negatif dari sebuah angka itu sendiri. Maka alangkah ironinya sifat kasih sayang yang positif itu diterima dengan hati negatif atau hati yang jahat, berapapun kita lantunkan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” yang maha dasyat itu di bibir kita, seribu kali bahkan sampai ratusan ribu kali apabila diterima dengan hati yang negatif kalimat yang maha daysat itu tidak ada kekuatan sama sekali walaupun kita tergolong ahli ibadah sekalipun, karena jalur yang kita tempuh sudah terputus dengan sifat negatif kita. Akan tetapi walaupun kita bukan termasuk orang ahli ibadah akan tetapi apabila hati si penerima itu bersih dari sifat negatif maka pada saat dia berucap dengan kalimat yang maha dasyat tersebut menimbulkan efek yang maha dasyat pula.
Maka mutlaklah apabila manusia ingin mendapatkan pancaran kalimat positif ini harus diimbangi dengan receiver positif juga maka akan mendapatkan hasil pancaran yang sangat bagus dan memuaskan. maih ingatkan dalam postingan sebelumnya ( Tuhan adalah Hati! ) ada sebuah yang dilakukan oleh ilmuwan jepang yang dibukukan didalam buku The Hidden Message In Water oleh Dr.Masaru Emoto tentang keajaiban dari kalimat positif ini bisa menimbulkan efek yang sangat luar biasa bahkan dalam percobaannya beliau mecoba memberikan rangsangan kalimat postif kedalam air dan apa yang terjadi air yang molekulnya biasa seketika berubah menjadi molekul molekul yang sangat menakjubkan.
Itu hanya dengan kalimat positif, apalagi dengan kalimat yang maha dasyat ini dibarengi dengan jiwa yang positif juga. Betapa dasyatnya efek yang akan terjadi ? tidak akan menutup kemungkinan dengan kalimat yang maha dasyat ini dunia yang senantiasa mencekam dengan segala kerisauan dampak isyu global warming serta akibat terserangnya penyakit krisis mental yang melanda umat masyarakat diseluruh dunia akan musnah dengan kalimat yang agung dan Maha Dasyat ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan dunia yang mencekam dengan ke egoisan dan keangkuhan dari para pemimpin diseluruh dunia ini, dan yang baru saja kita ketahui betapa ganasnya bangsa Israel menghacurkan umat muslim dipalestina, akan bersatu dan berdamai tanpa adanya suatu perselisihan. Penulis membayangkan betapa eloknya indahnya sebuah kebersamaan,betapa indah hati manusia yang memiliki sifat Kasih Sayang. Dan penulis berharap terutama dari golongan islam, kristen, hindu, budha, maupun atheis sekalipun, bahkan organisasi Wahidiyah tidak ada suatu perpecahan dan permusuhan sehingga tercapailah moto “Tidak Pandang Bulu” dengan misi Wahidiyah “Satu Hati” untuk menuju lari kembali kepada Alloh (Fafirru Ilalloh).
Maka inilah fungsi wahidiyah mengapa di siarkan ke seluruh penjuru alam jagat dunia ini. Dan alangkah ironinya apabila orang-orang memegang ilmu wahidiyah masih tertancap ion-ion negatif (merasa benar sendiri) sehingga mengakibatkan antara satu pengamal dengan yang lain saling bersebrangan, saling bermusuhan, saling hujat menghujat, saling hasut menghasud, dan saling fitnah menfitnah. Awas lagi-lagi bendera “AKU” berkibar.

Maka sifat inilah yang nanti kita akan bawa mati. Apalah jadinya jika di akhir hayat kita masih meninggalkan sifat negatif yaitu sifat iri ,dengki, hasud, suudhon,angkuh, sombong, merasa lebih hebat dari orang lain dan sifat negatif lainnya. Maka sekali-kali kamu meninggalkan sifat negatif itu niscaya pancaran kalimat positif kasih sayangnya. Tidak akan sampai masuk dalam roh kita. Sebab awal roh kita adalah suci dan ketika pulang (mati) pun tetap harus dalam keadaan suci, apabila ingin bertemu dengannya. Tapi sebaliknya di akhir hayat kita meninggalkan sifat positif yaitu sifat tawadu’, rendah hati, sabar ,diam, ikhlas, Merasa dirinya rendah hina dan lemah dihadapan sang Khalik dan tiada merasa lebih baik dibandingkan dengan manusia lainnya. Betapa indah hati manusia apabila memiliki hati seperti itu, Maka itulah sebenar-benarnya kekasih Tuhan. Dan pasti akan bertemu dengannya, karena nikmat tertinggi bukanlah mendapatkan Surganya, bukan pula mendapatkan harta didunia, tapi nikmat tertinggi ialah bertemunya hamba kepada Sang Pencipta itulah nikmat yang tertinggi.
Renungkan? sudahkah ion positif itu menempel didalam jiwa kita, atau malah sebaliknya? Tolong jawablah didalam hati dengan sejujurnya!.
http://www.alamhikmah.org/2010/12/rahasia-dasyat-dibalik-kalimat.html#

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Faedah Seputar Basmalah
Tafsir Basmalah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah taala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya. (Shifatush Shalah, hal. 64).
Kitabullah Diawali Basmalah
Penulisan Al-Quran diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby yarhamuhullah di dalam tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat radhiyallahu anhum telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam Al-Quran, inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen -semoga Allah meridhai mereka- dan Al Hafizh Ibnu Hajar yarhamuhullah pun menyebutkan pernyataan serupa di dalam Fathul Baari (Ad Dalaail Wal Isyaaraat ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).
Teladan Nabi
Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim (lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad Bab Dua Nabi shallallahu alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa an laa Yattakhidza Badhuhum Badhan Arbaaban min duunillaah wa Qauluhu taala Maa kaana libasyarin an yutiyahullaahu ilman ila akhiril ayah, Fathul Bari 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam Zaadul Maaad fii Hadyi Khairil Ibaad karya Ibnul Qayyim 3/688-696, beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain sebagainya (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Di dalam Kitab Badul Wahyi Imam Bukhari menyebutkan hadits: Bismillahirrahmaanirrahiim min Muhammadin Abdillah wa Rasuulihi ila Hiraqla Azhiimir Ruum (Shahih Bukhari no. 7, Shahih Muslim no. 1773 dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, lihat Hushuulul Mamuul, hal. 9, lihat juga Ad Dalaail Wal Isyaaraat ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).
Hadits Tentang Keutamaan Basmalah
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: Adapun hadits-hadits qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, Kullu amrin dzii baalin laa yubdau fiihi bibismillaahi fahuwa abtar. hadits-hadits tersebut adalah hadits yang dilemahkan oleh para ulama. Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Al Jami (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafiiyah Al Kubra, muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, tetapi hadits itu adalah hadits dhaifun jiddan (sangat lemah) karena ia merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikh-nya (5/77): Orang ini dilemahkan riwayat-riwayatnya dan ada celaan pada madzhabnya. Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syiah. Ibnu Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syariah Al Marfuuah (1/33): Dia adalah pengikut Syiah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits. Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Futuhaat Rabbaniyah (3/290) silakan periksa Hushuulul Mamuul, hal. 9). Adapun hadits: Kullu amrin laa yubdau fiihi bibismillaahiirahmaanirrahiim fahuwa ajdzam adalah hadits dhaif, didhaifkan Syaikh Al Albani dalam Dhaiful Jaami 4217 (lihat catatan kaki Tafsir Al-Quran Al Azhim tahqiq Hani Al Hajj, 1/24).
Hikmah Memulai dengan Basmalah
Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah taala (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).
Apakah Basmalah Termasuk Al Fatihah ?
Syaikh Al Utsaimin berkata: Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah. Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat tersebut. Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat Tafsir Juz Amma, hal. 9 cet Darul Kutub Ilmiyah).
Sahkah Shalat Tanpa Membaca Basmalah ?
Dari Anas radhiyallahu anhu: Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil aalamiin (Muttafaqun alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim di awal bacaan maupun di akhirnya. Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasai dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata: Mereka semua tidak mengeraskan bacaan bismillaahirrahmaanirrahiim. Di dalam riwayat lainnya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan kata-kata: Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan)
Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:

Tata cara Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para khulafaur rasyidin membuka bacaan shalat dengan alhamdulillaahi rabbil aalamiin.
Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan dengan surat ini. Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara surat-surat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat ulama.
Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah:

Imam Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad berpendapat bacaan itu disyariatkan di dalam shalat.
Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyariatkan untuk dibaca dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras.
Kemudian Imam yang tiga (Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad) berselisih tentang hukum membacanya:

Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah.
Imam Syafii berpendapat membacanya adalah wajib.
(lihat Taudhihul Ahkaam, 1/413-414 cet. Dar Ibnul Haitsam)
Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasai di dalam Al Iftitah Bab Qiroatu bismillahirrahmaanirrahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu: Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 316-317)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam mengatakan: Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan bacaan (basmalah) adalah bidah dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan hadits-hadits yang menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu. (Taudhihul Ahkaam, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : para ulama sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun yang melirihkannya (Tafsir Al-Quran Al Azhim, 1/22).
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Dari artikel ‘Faedah Seputar Basmalah Muslim.Or.Id’
http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Hukum Membaca Basmalah Saat Membaca Surat Al-Taubah Dari Tengahnya
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana yang sudah maklum, surat Al-Taubah tidak diawali dengan Basmalah dalam mushaf. Sehingga hal ini berimbas kepada hukum membacanya, yakni tidak dianjurkan memulainya dengan Basmalah saat membacanya dari awal surat. Lalu bagaimana kalau membacanya dari pertengahan surat, apakah disyariatkan membaca Basmalah?
Di antara adab membaca Al-Qur’an adalah seorang qari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) mengawali dengan membaca Basmalah apabila ia membacanya dari awal surat, kecuali surat Bara-ah (Al-Taubah).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dan sepantasnya menjaga bacaan Bismillahirrahmanirrahim pada permulaan setiap surat, selain surat Bara’ah. Mayoritas ulama berkata bahwa ia (Basmalah) adalah ayat sebagaimana tertulis di mushaf. Dan telah tertulis di permulaan-permulaan surat selain surat Bara’ah. Apabila membacanya ia harus meyakini telah membaca secara lengkap atau satu surat. Apabila meninggalkan Basmalah maka ia telah meninggalkan sebagian Al-Qur’an menurut mayoritas ulama.” (Dinukil dari al-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an: 100)
Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah dalam berkata, “Bagi seorang mukmin dan mukminan disunnahkan memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca Basmalah pada permulaan setiap surat. Jika ia mengulang-ulang surat itu maka ia juga mengulang Basmalah. Yakni Bismillahirrahmanirrahim pada setiap permulaan surat. Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila membaca satu surat beliau memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh Allah telah menurunkannya bersama setiap surat. Setiap surat turun bersamaan dengannya, Bismillahirrahmanirrahim kecuali surat Bara’ah. karena Utsman dan para sahabat bertawakkuf saat mengumpulkan Al-Qur’an, apakah ia satu surat bersama Al-Anfal ataukah terpisah? Oleh karena ini mereka tidak menuliskan ayat Tasmiyyah (Bismillahirrahmanirrahim) di antara keduanya. Adapun surat selainnya, maka disyariatkan bagi qari’ untuk membaca Tasmiyah. Apabila ia mengulang-ulang beberapa surat maka ia mengulangi Tasmiyah juga.” (Terdapat dalam Nuur ‘Ala al-Darbi, www.binbaz.org.sa)
Adapun jika membacanya dari pertengahan surat: maka tidak dianjurkan mengawali dengan Basmalah. Cukuplah ia membaca Isti’adzah atau Ta’awudz, yakni ia membaca: A’udzubillahi Minasy Syaithanir Rajim. Jika ia tetap membaca Basmalah maka tidak mengapa. Tapi membaca ta’awudz sudah cukup baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. Al-Nahl: 98)
Maka apabila ia memulai membaca dari pertengahan surat cukuplah ia berta’awudz. Jika dari awal surat, maka ia berta’awudz dan bertasmiyah secara bersamaan. Jika ia mengulangi maka cukup ia mengulangi Tasmiyah saja, tidak mengulangi Ta’awudz.” Wallahu Ta’ala A’lam.
http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=46641&Itemid=268
Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Basmalah dalam Surah Taubah
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak Ustadz, Saya ingin bertanya mengenai surat at-Taubah mengapa tidak memakai basmallah,saya sudah mencoba bertanya ke beberapa orang tapi jawabannya belum bisa saya mengerti/kurang jelas.
Mohon Pak Ustadz mau membantu menjelaskannya. Terimakasih atas informasinya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Agus Supriyanto
Bandung
Jawaban:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Saudara yang dimuliakan Alloh,
Menjawab pertanyaan saudara mengenai ketiadaan basmalah di awal surah at-Taubah, adalah sebagai berikut:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli tafsir tentang sebab-sebab kenapa tidak ada basmalah di awal surat Taubah, yaitu:
Pendapat Pertama mengatakan bahwa telah menjadi kebiasaan orang orang Arab pada zaman dahulu apabila ada di antara mereka perjanjian tertulis maka mereka menuliskan bismillah, akan tetapi jika ingin membatalkan perjanjian tersebut, mereka menuliskannya tanpa membubuhi basmallah. Ketika turunnya Surat at-Taubah yang menandai tidak berlakunya perjanjian antara Rasulullah dan orang musrikin, Rasulullah s.a.w. mengutus Ali bin Abi Thalib membacakan surah tersebut dengan tanpa menyertakan basmallah di awalnya.
Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa terdapat kesamaan antara surah at-Taubah dengan surah sebelumnya al-Anfal, maka dikatakan bahwa surat at-Taubah merupakan kelanjutan dari surah sebelumnya, sehingga tidak ada basmalah di awal surah tersebut. Pendapat ini berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ketiga, surat at Taubah berdekatan dengan surat al Baqoroh dan mempunyai kesamaan antara keduanya, maka tidak dituliskan basmalah di awal surat.
Keempat, pendapat yang mengatakan bahwa ketika dilakukan kodifikasi mushaf pada zaman kakhalifahan Ustman r.a, terdapat perbedaan pendapat antara para penulis mushaf, apakah surah at-Taubah dan al-Anfal merupakan satu surah atau dua surah yang berbeda? Untuk mengambil jalan tengah dari dua pendapat tersebut, maka ditetapkan bahwa surah at-Taubah dan al-Anfal adalah dua surah dengan tanpa menuliskan basmallah di awal surat at-Taubah.
Kelima, diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, ketika ditanya oleh Ali bin Abi Thalib kenapa tidak dituliskan basmalah diawal surat Taubah? Beliau menjawab, “bismillahirrohmanirrohim” mempunyai makna keamanan dan perdamaian, dan surat at-Taubah turun dalam bayang-bayang pedang ketika perang Tabuk, dimana tidak ada situasi aman pada saat itu. Basmallah itu sendiri menyiratkan makna rahmat kasih sayang, sedangkan surah at-Taubah anyak berisi kecaman dan sanggahan terhadap sikap orang-orang munafiq dan orang kafir, maka tidak ada rahmat bagi mereka.
Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa malaikat Jibril tidak menyertakan basmalah ketika menurunkan surah at-Taubah.
Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=753:basmalah-dalam-surah-taubah&catid=1:tanya-jawab


TAGS 11977


-

Author

Follow Me