Berusaha untuk ikhlas.

11 Mar 2013



Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Berusaha untuk ikhlas.
Posting kali ini adalah posting berseri dari judul “Berusaha untuk Ikhas”. Kita nanti akan memulai mengenal definisi ikhas, tanda-tanda ikhlas dan beberapa point ikhlas lainnya. Semoga Allah memudahkan.
***
Allah akan senantiasa menolong kaum muslimin karena keikhlasan sebagian orang dari umat ini. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena doa orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.[1]
Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.
Perintah untuk Ikhlas
Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.[2]
Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala,
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5)
Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba. Allah Taala berfirman,
Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” (QS. Ali Imran: 29)
Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya,
Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu. (QS. Az Zumar: 65)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Allah Tabaroka wa Taala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.[3] An Nawawi mengatakan, Amalan seseorang yang berbuat riya (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.[4]
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.[5]
Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama
Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut.[6]
Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.
Abul Qosim juga mengatakan, Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.
Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia.
Hudzaifah Al Marasiy mengatakan, Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhohir (lahiriyah) dan batin. Berkebalikan dengan riya’. Riya adalah amalan zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.
Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:
Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).
Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.
Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.
Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.
Nantikan pembahasan selanjutnya mengenai tanda-tanda ikhlas. Semoga Allah memudahkan dalam setiap urusan.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2783-berusaha-untuk-ikhlas.html
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/tips-agar-sabar-menerima-kenyataan/
Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Ikhlas dalam Beribadah
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(Az-Zumar: 2).
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba dalam beramal, agar amalnya diterima oleh Allah, adalah ikhlas. Apa yang dimaksud dengan ikhlas? Bagaimana kita dapat melatih diri kita agar senantiasa ikhlas dalam beramal? Kiranya pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk kita ketahui jawabannya agar amal-amal kita dapat memenuhi syarat untuk diterima oleh Allah. Oleh karena itu marilah kita mencoba mencari jawabannya dari madrasah keikhlasan para tabiin yang, sebagaimana rasul kita sabdakan, merupakan generasi terbaik setelah shahabat.
Definisi Ikhlas
Ikhlas, sebagaimana dikatakan oleh seorang tabiin yang bernama Al-Junaid, adalah Rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui malaikat sehingga menulisnya, atau setan sehingga merusaknya, dan juga hawa nafsu sehingga mengganggunya.
Atau sebagaimana dikatakan Ruaim bin Ahmad, Ikhlas adalah engkau tidak menengok apa yang telah engkau kerjakan.
Sedangkan, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ikhlas yaitu memurnikan amalan dari perhatian makhluk, dan menjauhkannya dari perhatian makhluk bahkan dari dirinya sendiri. Barangsiapa menganggap amalannya telah ikhlas, maka keikhlasannya perlu keikhlasan lagi. Dikatakan pula bahwa ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dengan selalu mencari perhatian Sang Khalik.
Madrasah Tabiin
Para salafus saleh adalah madrasah keikhlasan. Dari mereka kita bisa belajar dan menempa diri. Berikut akan penulis paparkan beberapa contoh tabiin menjaga keikhlasannya dalam beramal
A. Ibrahim bin Adham dalam Menjauhi Popularitas
Ibrahim bin Adham pernah berkata, Tidaklah seorang hamba jujur kepada Allah selama ia masih suka popularitas.
Ibnul Jauzi berkisah tentang Ibrahim bin Adham, Ibrahim bin Adham adalah seorang yang terkeal di suatu daerah. Suatu ketika, ada sekelompok orang mencarinya dan ditunjukkan bahwa ia berada di kebun Fulan. Mereka pun berkeliling sambil mencarinya di kebun tersebut sambil berteriak, Dimanakah Ibrahim bin Adham? Dimanakah Ibrahim bin Adham? Dimanakah Ibrahim bin Adham? Beliau (Ibrahim bin Adham) pun ikut berkeliling sambil berteriak, Dimanakah Ibrahim bin Adham?
Abdurrahman bin Mahdi berkata, Ibrahim bin Adham adalah orang yang suka merahasiakan amalnya. Tidak pernah aku melihatnya menampakkan tasbih atau kebaikan sedikit pun.
B. Abdullah bin Mubarak dalam Menyembunyikan Amal
Abdah bin Sulaiman mengisahkan, Aku pernah bersama Abdullah bin Mubarak dalam sebuah peperangan di dareah Romawi, dan kami bertemu dengan musuh. Ketika kedua pasukan berhadap-hadapan, keluarlah seseorang dari barisan musuh menantang duel. Maka keluarlah salah seorang dari kami. Dalam beberapa saat saja dia berhasil mengalahkan musuh, menikam, dan membunuhnya. Kemudian keluar lagi satu dari mereka dan dia berhasil membunuhnya. Kemudian datang lagi yang lain dan dia berhasil lagi membunuhnya.
Orang-orang pun berkerumun di sekeliling laki-laki tersebut dan aku termasuk salah seorang dari mereka. Namun, tiba-tiba lelaki tersebut menutupi mukanya dengan lengan bajunya. Maka aku memegang ujung lengan bajunya dan menariknya. Ternyata laki-laki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak. Maka ia berkata, Dan engkau, wahai Abu Amru, termasuk orang yang menjelekkaknku.
Marilah kita renungkan ucapan beliau di atas. Beliau menganggap kalau amalnya dilihat orang adalah suatu kejelekan padahal beliau telah berusaha keras menyembunyikannya.
C. Menyembunyikan Ibadah dengan Menampakkan Aktivitas Lain
Ini adalah cara lain untuk dapat menjaga keikhlasan kita dalam beramal. Yaitu dengan menampakkan aktivitas lain setelah mengerjakan suatu ibadah untuk lebih menyembunyikan amalnya. Abu Tamim bin Malik mengisahkan:
Adalah Mansur bin Al-Mutamir, apabila shalat subuh ia menampakkan kebugaran kepada sahabat-sahabatnya (seakan-akan baru bangun tidur). Ia berbicara dengan mereka dan bolak-balik kepada mereka, padahal semalaman ia bangun untuk mendirikan shalat. Ia lakukan semua itu untuk menyembunyikan apa yang telah ia kerjakan.
Begitu pula Abu Ayyub as-Sakhtiyani, beliau bangun shalat semalaman kemudian menyembunyikannya. Apabila datang waktu subuh, beliau mengangkat suaranya seakan-akan baru bangun.
Para tabiin mengajarkan keikhlasan bukan hanya kepada diri mereka sendiri, tetapi juga kepada para pengikut mereka. Sebagai contoh, Raja bin Haiwah ketika melihat salah seorang dari muridnya mengantuk setelah subuh, beliau mengingatkannya, Hati-hati, jangan sampai mereka mengira kalau ini karena pengaruh bangun malam.
Demikianlah beberapa contoh kisah dari tokoh-tokoh tabiin dalam menyembunyikan amal-amal mereka. Mereka melakukan hal ini tidak lain hanyalah untuk dapat menjaga keikhlasan mereka dalam beramal. Sebagai penutup, ada sebuah nasihat yang ditulis As-Samarqandy dalam bukunya Tanhibul Ghaifilin, Belajarlah keikhlasan dari penggembala kambing.apabila ia shalat di sekitar kambing-kambingnya, ia tidak mengharapkan pujian dari kambingnya. Begitu pula hendaknya seseorang dalam beramal. Jangan peduli dengan orang-orang yang melihatnya, sehingga selalu beramal ikhlas karena Allah. Baik ketika bersama manusia maupun ketika sendiri, semua sama saja, dan tidak mengharapkan pujian dari manusia.
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabiin karangan Asyraf Hasan Thabal
http://matasalman.com/ikhlas-dalam-beribadah/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Ikhlas Dalam Kehidupan.
Saidina Ali r.a berkata :”Janganlah kamu risau dengan amalan yang sedikit, tetapi risaulah apakah amalan itu dapat diterima oleh Allah! Hal ini kerana Rasulullah S.A.W pernah bersabda kepada Muaz Bin Jabal :
“Ikhlaskanlah amalanmu dan sudah mencukupi untukmu amalan yang sedikit asalkan dilakukan dengan ikhlas.”(Riwayat Dailani)
Allah S.W.T berfirman :
“Ingatlah! (hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat yang ikhlas (bawaan yang suci bersih daripada segala rupa syirik). (Az-Zumar : 3)
Allahuakbar!
Saya cukup takut apabila diperdengarkan atau diperkatakan tentang IKHLAS, di saat itulah saya akan muhasabah kembali apa-apa yang telah saya lakukan.
‘Ikhlas ke aku buat tadi?’
Jika tidak, pasti saya akan dapat merasakan hati tidak tenang, lantas perkataan yang sebaiknya pada itu kita lafazkan ialah Astagfirullahal’azhim!
Dan kita perlu sedar, segala apa yang kita lakukan, itu adalah kehendak dari-Nya jua, bukan sebab bagusnya kita! Sebaiknya dialog hati yang sepatutnya terlintas di hati seorang hamba antaranya :
“Ya Allah, aku mampu beribadah dengan kehendak-Mu jua ya Allah, siapalah aku jika tanpa-Mu ya Allah, Dikaulah tempatku bergantung, Dikaulah tempat ku berlindung!”
Keikhlasan yang bersungguh-sungguh, tidak mungkin tercipta melainkan daripada seseorang yang betul-betul mencintai Allah dan tidak ada tempat sedikit pun dalam hatinya untuk mencintai harta keduniaan.
Allahuakbar!
Susahkan? Insya-Allah, sama-samalah kita berusaha mencapai dan tergolong dalam golongan mukhlisin.
Teringat saya, slot rancangan Al-Kuliyyah di TV3, ustaz ada menyatakan bahawa, Imam Ghazali menyatakan, sebelum seseorang itu mencapai tahap ikhlas mereka akan melalui sedikit juga perasaan riak.
Contohnya seseorang yang sebelum ini tidak pernah menunaikan solat berjemaah di masjid, tiba-tiba mahu menunaikan solat di masjid, sedikit sebanyak akan datang juga sifat mahu menunjuk-nunjuk. Tetapi, Insya-Allah lama-lama akan ikhlas jika benar-benar kerana Allah.
Kalau kita dahulu pun, jika solat perlu tunggu mak abah suruh dahulu baru hendak solat.
Solat kerana apa?
Kerana arahan ibu bapa, tetapi Alhamdulillah lama-lama kita mampu untuk mengerjakannya dengan sendiri walaupun tiada ibu bapa di depan mata kita.
Tapi malangnya, ada juga manusia yang tidak mahu melakukan kebajikan hanya dengan alasan:
‘Eh, tak naklah derma, takut tak ikhlas.’
Memang terdapat manusia seperti ini. Jangan sampai macam tu pula pemikirannya, yang penting kita usaha ke arah ikhlas, ia memang bukan mudah, tetapi Allah tahu apa yang terbuku di hati hamba-hamba-Nya.
Sedar tidak kita, bahawa jika kita tidak ikhlas, kita telah mensyirikkan Allah.
Nauzubillah!
Mana tidaknya, kita buat sesuatu sebab lain, sebab orang, sebab mahukan habuan dan sebagainya.
Allah! Takutnya.
“Ya Allah, mampukanlah kami dalam melakukan ibadah hanya untuk-Mu, hanya kerana-Mu, bukan sebab makhluk dan ciptaan-Mu ya Allah!”
Allah berfirman:
“Sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal soleh dan janganlah ia mempersekutukan apa-apa pun dalam ibdahnya kepada Tuhannya! (Al-Kahfi : 110)
Kita memberi bukan untuk menerima menabur budi bukan untuk dianggap berjasa tulus, Putih dan murni hati kita memberi adalah kerana-Nya jua.
Tidak mengapa jika tidak dikenang asalkan segalanya memberi satu ketenangan,
Menyebut kebaikan meragut keikhlasan bukan kerana kelebihan kita.
Dalam samar mainan rasa, kekadang datang jua serpihan bangga,
Mengharap adanya balasan mendamba hadirnya kemasyhuran.
Bukan itu yang diburu sejak mula ditagih kasih rasa di depan-Mu,
Apabila terasa segalanya dari-Mu, rebahlah segala daripadaku yang hina.
TUHAN…
Dunia ini tidak panjang,
Tahun terasa detik di putaran usia,
Mengharap yang abadi,
Akan lenyap segala ilusi,
Bantulah aku dalam memahami rahsia itu.
(Di Mana DIA di hatiku, ustaz Pahrol)
Yaakub Maktuf berkata :
“Orang yang ikhlas itu ialah orang yang suka menyimpan (tidak menyiarkan) amal-amal kebaikannya sebagaimana ia suka menyimpan (tidak suka menyiarkan) keburukannya.”
-Artikel iluvislam.com
http://www.iluvislam.com/tazkirah/dakwah/3777-ikhlas-dalam-kehidupan.html

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Ikhlas akan Selamatkan Amal Kita.
SEORANG ulama suatu hari menasihati muridnya yang akan mensedekahkan secuil hartanya untuk masjid. Sang Guru berpesan, Segera serahkan dirhammu kepada masjid, tapi, agar sedekahmu selamat dari riya saya akan umumkan nanti di masjid bahwa si fulan orang lain yang beramal bukan kamu. Saya tidak sebut namamu. Tapi si murid itu memberi usulan lain: Bagaimana kalau tidak perlu disebut, baik nama saya atau si fulan itu? Kalau begitu, simpan saja hartamau, karena kamu tidak ikhlas! komentar sang Guru (Syeikh Zain Sumaith, al-Manhaj al-Sawiy).
Kisah tersebut menampilkan gambaran, betapa perkara ikhlas itu sangat halus. Menurut imam al-Ghazali, menjaga amal sesudah kita menunaikannya itu lebih sulit daripada sebelum kita mengerjakannya. Menjaga amal maksudnya menjaga agar amal tersebut tetap diridhai Allah. Agar terjaga, maka hati kita harus selalu dan tetap ikhlas murni karena Allah. Jika ada tendensi atau motivasi-motivasi lain selain-Nya, maka kita belum benar-benar tulus karena-Nya.
Ikhlas adalah meng-esakan Allah Subhanahu Wataala dalam ibadah, ketaatan dan perbuatan baik lainnya tanpa tendensi yang lain, seperti terlihat berbuat-buat oleh orang lain, atau ingin mendapat pujian orang lain. Ikhlas merupakan kunci utama dalam beramal. Imam Yusuf bin al-Husein berkomentar; Sesuatu yang paling mulya di dunia adalah ikhlas (Risalah Qusyairiyah).
Oleh karena itu, kedudukan seorang mukhlis cukup mulya di sisi Allah. Menurut Syeikh Makhuul, seseorang yang ikhlas beramal dengan sebenar-benar ikhlas selama empat puluh hari, maka biasanya ia akan diberi anugerah hikmah di hati dan lisannya. Di antara tanda seorang mukhlis (orang yang ikhlas beribadah) diberi hikmah adalah; ketika berbicara selalu yang keluar kata-kata bijak, bernas dan solutif. Perilakunya teduh, kata-katanya sopan bijak, takut dipuji, tidak menonjolkan diri. Saat diminta nasihat selalu kata-katanya bermanfaat, ibadahnya selalu membut semakit takut kepada-Nya, bukan malah menjadi materialistis.
Itulah konsep akhlak dalam Islam, selalu dikaitkan dengan ridha Allah. Jika ada akhlak atau perbuatan yang dianggab bermoral, tapi justru melawan syariat Allah maka itu bukan konsep akhlak yang baik. perilaku baik dalam konsep Islam tidak mungkin dipisah dengan konsep keyakinan dasar kepada Sang Khaliq.
Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, agar seorang muslim berakhlak dengan akhlak terpuji, maka akidahnya harus terbebas dari penyimpangan (Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah). Konsep akhlak dalam Islam terbungkus dalam bingkai keyakinan yang benar. Karena akidah, mengontrol aktifitas manusia.
Oleh sebab itulah, maka seorang muslim yang beramal dengan riya dimasukkan kategori syirik kecil, sebab ia memasukkan sesuatu yang tidak layak untuk disandingkan dengan Allah SWT. Amalanya mendua, karena manusia juga karena Allah. Dalam Tauhid, seorang muslim tidak diperkenankan menduakan Allah, termasuk dalam tujuan-tujuan ibadah.
Jika kita menduakan-Nya dalam tujuan-tujuan ibadah, maka kita sama saja dengan membunuh amal ibadah kita sendiri. Riya dan tidak ikhlas itu mesin pembunuh yang meruntuhkan seluruh pengabdian kita kepada Allah.
Agama yang kokoh, tidak tegak kecuali dengan pondasi Ikhlas. Allah Subhanahu Wataala berfirman:

Dan mereka tidaklah diperintahkan selain agar menyembah Allah semata dengan ikhlas hati dan menjalankan agama dengan benar. Mengerjakan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang kokoh (tegak). (QS. AlBayyinah: 5).
Kehancuran keberagamaan seseorang itu disebabkan oleh lenyapnya keikhlasan dalam hatinya. Betapa, dalam kisah-kisah para ulama dahulu selalu menggambarkan orang yang riya biasanya terperangkap ke dalam kelompok-kelompok yang tidak benar atau tersesat.
Penghancur agama itu sebenarnya bernama riya, pemersatu umat penguat agama itu adalah ikhlas. Demikian kira-kira salah satu kesimpulan dari inti nasihat-nasihat Imam al-Ghazali dan Imam al-Jailani yang tertulis dalam Ihya Ulumuddin dan al-Ghunyah.
Oleh sebab itulah, baik Imam al-Ghazali dan Imam al-Jailaniy berupaya memperbaiki kondisi masyarakat Islam dengan mengobati hatinya. Penyakit yang cukup kronis menurut beliau adalah ketiadaan ikhlas dalam berjuang. Al- Jinaliny bahkan cukup tegas, menurutnya orang yang berjuang hanya karena ingin disebut pejuang sejati, dan orang yang berjuang demi kemulyaan jamaahnya adalah seorang dajjal yang menghancurkan ukhuwah Islamiyah.
Kerusakan hati yang disebabkan oleh ketiadaan ikhlas, berdampak pada tiga hal; menyebabkan retaknya persatuan sesama jamaah, amalnya sia-sia tidak mendapat balasan sebaliknya mendapat siksa, dan orang lain akan menjauhi model orang yang tidak terpuji ini. Kita bisa menangkap, bahwa ukhuwah Islamiyah terbangun atas pondasi keikhlasan berjuang. Sebaik apapun tingkat intelektualitas kita, jika hati terkotak-kotak dan terbungkus akhlak tercela tak akan terwujud persatuan dan kekuatan itu.
Ikhlas itu lawannya riya. Riya termasuk salah satu dosa yang merusak amalan.
Allah Subhanahu Wataala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 264).
Maka bisa dikatakan bahwa ikhlas adalah salah satu prinsip yang besar dan penting di dalam agama Islam. Karena hilangnya ikhlas menjadi sebab tertolaknya amal ibadah. Jika saat ibadah kita ikhlas, belum tentu setelahnya hati kita tulus karena-Nya. Maka, setelah menunaikan ibadah, jagalah tetap hati, jangan sampai tertipu rayuan-rayuan berupa riya dan bangga diri, sebab hal itu bisa menghabiskan amal yang susah payah kita laksanakan.*
http://www.hidayatullah.com/read/22346/23/04/2012/ikhlas-akan-selamatkan-amal-kita-.html

Kelebihan Bekerja Ikhlas
Banyak manfaat yang dapat kita perolehi dengan bekerja yang ikhlas. Selain mendapat gaji dan meningkatkan produktiviti kerja, Kita juga akan disukai Allah, majikan dan teman sekerja.Tambahan, bekerja itu kan satu ibadah.Oleh itu bekerjalah kita dengan ikhlas.
Kelebihan bekerja dengan ikhlas.
1.Mendapat Kekuatan, Kebijaksanaan dan Kesabaran
Orang yang ikhlas akan mendapat bantuan dalam melaksanakan kerjanya. Apabila seorang hamba ikhlas, “talian hayatnya” bersambung dengan Allah. Allah tidak akan mengecewakan hambaNya yang ikhlas. Dia sentiasa memberi bantuan apabila hambaNya memohon pertolongan.
2.Hasil Kerja Berkualiti dan Produktif
Jika seseorang bekerja kerana gaji, maka dia tidak akan bekerja melebihi kadar gaji yang diterimanya. Tetapi jika seseorang bekerja ikhlas kerana Allah, dia akan melipat gandakan kerjanya di tahap terbaik kerana yakin pembalasan daripada Allah jauh lebih banyak, baik dan kekal. Dia juga menjadi pekerja yang produktif, tanpa memilih hanya kerja yang ada nilai “self promotion” (ganjaran pangkat dan gaji) malah dia juga giat dalam kerja-kerja yang memberi nilai “self improvement” (peningkatan nilai murni dalam diri). Tegasnya dia tidak terlalu berkira dengan tenaga, masa, dan sentiasa bersedia untuk melakukan kerja-kerja sukarela dan khidmat masyarakat.
3.Terhalang daripada Melakukan Penyelewengan
Pekerja yang ikhlas tidak perlu dipantau oleh “punch card”, CCTV, dan peraturan-peraturan yang ketat untuk menghalangnya daripada rasuah, ponteng, curi tulang, dan lain-lain perbuatan negative kerana dia merasakan dirinya diawasi oleh Allah. Walaupun begitu, tidak salah menggunakan sistem pemantau luaran kerana sifat ikhlas sedang dalam pembinaan. Itu juga membantu proses mujahadah untuk mendapat keikhlasan.
4.Hubungan Harmoni Sesama Rakan Sekerja
Orang yang ikhlas tidak akan mengampu, mengadu domba, sabotaj, mengumpat, apalagi memfitnah rakan sekerja. Cinta dunia adalah “kepala” kejahatan. Orang yang ikhlas hanya mengharapkan keredhaan Allah dan tidak ada sebab untuk mereka menzalimi orang lain demi mendapat pujian, pangkat dan ganjaran material. Tempat di sisi Allah sentiasa luas dan tidak perlu berebut-rebut berbanding tempat di dunia yang sempit lagi terhad.
5.Taat Orang Atasan dan Hormat Orang Bawahan
Orang yang ikhlas akan mentaati perintah, teguran dan keputusan atasannya selagi tidak bercanggah dengan syariat. Ketaatan itu bukan mengampu sebaliknya dilakukan atas dasar taat kepada Allah. Begitu juga, mereka akan menghormati orang bawahannya, mengasihi dan tidak menzaliminya. Mereka faham bahawa pemimpin merupakan “khadam ummah” bukan memperalatkan orang bawahan untuk kepentingan peribadi.
6.Yakin dan Berani Menyatakan Pandanga dan pendirian.
Ketaatan dalam Islam tidak menutup pintu perbincangan atau mesyuarat untuk menyatakan pandangan dan pendirian. Justeru, orang yang ikhlas tidak teragak-agak untuk menyatakan pendiriannya apabila kena pada tempat, masa dan suasananya. Apa yang dirasakan benar, dinyatakannya dengan jelas dan beradab sekalipun pahit. Dia tidak akan bermuka-muka. Kata-katanya adalah dari hati bukan “ambil hati”. Dan dia bertanggungjawab atas pendirinyannya bukan bersifat “lempar batu, sembunyi tangan”.1.Mendapat Kekuatan, Kebijaksanaan dan Kesabaran
Orang yang ikhlas akan mendapat bantuan dalam melaksanakan kerjanya. Apabila seorang hamba ikhlas “talian hayatnya” bersambung dengan Allah. Allah tidak akan mengecewakan hambaNya yang ikhlas. Dia sentiasa memberi bantuan apabila hambaNya memohon pertolongan.
2.Hasil Kerja Berkualiti dan Produktif
Jika seseorang bekerja kerana gaji, maka dia tidak akan bekerja melebihi kadar gaji yang diterimanya. Tetapi jika seseorang bekerja ikhlas kerana Allah, dia akan melipat gandakan kerjanya di tahap terbaik kerana yakin pembalasan daripada Allah jauh lebih banyak, baik dan kekal. Dia juga menjadi pekerja yang produktif, tanpa memilih hanya kerja yang ada nilai “self promotion” (ganjaran pangkat dan gaji) malah dia juga giat dalam kerja-kerja yang memberi nilai “self improvement” (peningkatan nilai murni dalam diri). Tegasnya dia tidak terlalu berkira dengan tenaga, masa, dan sentiasa bersedia untuk melakukan kerja-kerja sukarela dan khidmat masyarakat.
3.Terhalang daripada Melakukan Penyelewengan
Pekerja yang ikhlas tidak perlu dipantau oleh “punch card”, CCTV, dan peraturan-peraturan yang ketat untuk menghalangnya daripada rasuah, ponteng, curi tulang, dan lain-lain perbuatan negative kerana dia merasakan dirinya diawasi oleh Allah. Walaupun begitu, tidak salah menggunakan sistem pemantau luaran kerana sifat ikhlas sedang dalam pembinaan. Itu juga membantu proses mujahadah untuk mendapat keikhlasan.
4.Hubungan Harmoni Sesama Rakan Sekerja
Orang yang ikhlas tidak akan mengampu, mengadu domba, sabotaj, mengumpat, apalagi memfitnah rakan sekerja. Cinta dunia adalah “kepala” kejahatan. Orang yang ikhlas hanya mengharapkan keredhaan Allah dan tidak ada sebab untuk mereka menzalimi orang lain demi mendapat pujian, pangkat dan ganjaran material. Tempat di sisi Allah sentiasa luas dan tidak perlu berebut-rebut berbanding tempat di dunia yang sempit lagi terhad.
5.Taat Orang Atasan dan Hormat Orang Bawahan
Orang yang ikhlas akan mentaati perintah, teguran dan keputusan atasannya selagi tidak bercanggah dengan syariat. Ketaatan itu bukan mengampu sebaliknya dilakukan atas dasar taat kepada Allah. Begitu juga, mereka akan menghormati orang bawahannya, mengasihi dan tidak menzaliminya. Mereka faham bahawa pemimpin merupakan “khadam ummah” bukan memperalatkan orang bawahan untuk kepentingan peribadi.
6.Yakin dan Berani Menyatakan Pandangan dan Pendirian.
Ketaatan dalam Islam tidak menutup pintu perbincangan atau mesyuarat untuk menyatakan pandangan dan pendirian. Justeru, orang yang ikhlas tidak teragak-agak untuk menyatakan pendiriannya apabila kena pada tempat, masa dan suasananya. Apa yang dirasakan benar, dinyatakannya dengan jelas dan beradab sekalipun pahit. Dia tidak akan bermuka-muka. Kata-katanya adalah dari hati bukan “ambil hati”. Dan dia bertanggungjawab atas pendirinyannya bukan bersifat “lempar batu, sembunyi tangan”.
- Artikel iluvislam.com
Salam Ukhuwah berkongsi karya di http://atikaahmadiah.blogspot.com.
http://www.iluvislam.com/kerjaya/tips/4180-kelebihan-bekerja-ikhlas.html


TAGS 11977


-

Author

Follow Me