Meneguhkan Budaya TEPOSELIRO Dan SOPAN SANTUN

26 Dec 2012


Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Meneguhkan Budaya TEPOSELIRO Dan SOPAN SANTUN
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa mengikuti jalan petunjuk-Nya, demikian pula semoga salam atas seluruh Nabi dan Rasul-Nya. Amien
Pada tahun-tahun kesulitan, dijaman manusia masih miskin dan manusia belum sangat sibuk dengan urusan dunia, budaya teposeliro dan sopan santun telah menjadi pelajaran yang sangat bagus untuk diterapkan, diamalkan, diajarkan dan diwariskan dari orang tua kita kepada kita dan dapat wujud dalam kehidupan sehari-hari dan dalam hidup bermasyarakat serta berbangsa. Memang suasana kemiskinan biasanya menghasilkan suasana yang demikian itu dengan sangat kentalnya.
Budaya ini memberi pengertian agar kita senang apabila orang lain mendapat kesenangan, dan kita ikut sedih bila orang lain mendapat kesedihan. Orang yang memiliki jiwa teposeliro yang tinggi maka tidak akan menyakiti orang lain dan bahkan berusaha menyenangkan orang lain, karena ia merasa senang kalau dirinya juga diberi kesenangan oleh orang lain. Dan dia benar-benar merasakan kenikmatan jiwa dengan mendapatkan pahala kemuliaan karena perbuatan memberikan kebaikan pada orang lain.
Manusia tidak akan menyusahkan orang lain, karena dirinya tidak ingin disusahkan. Tidak akan menghina dan mencemarkan orang lain, karena dirinya tidak ingin dihina dan dicemarkan. Tidak ingin melaknat dan mengutuk orang lain, karena dirinya tidak ingin mendapat laknat dan kutuk. Tidak ingin mempermalukan orang lain, karena dirinya tidak ingin dipermalukan, dst.
Demikian pula sopan santun, orang akan suka kalau dihormati oleh orang lain, maka sebaliknya ia akan bersikap menghormati juga kepada orang lain. Kita merasa senang kalau bila diberi dan disayangi oleh orang lain, maka kitapun bersikap suka memberi dan menyayangi orang lain, dst, dst.
Budaya tepo seliro, dan sopan santun ternyata suatu budaya yang tinggi, ekspresi hati dan tubuh yang spontan dari sosok manusia yang memiliki jiwa yang suci dan bersih, yang waktu-waktu hidupnya dipenuhi dengan banyak selalu berbakti kepada Allah, Tuhan yang Maha Mulia.
Bila manusia melazimi kebutuhan utama jiwa, yaitu selalu bertasbih mengagungkan Allah SWT, dan selalu tunduk patuh dan taat kepadaNya maka pribadi teposeliro dan sopan santun akan menyatu dalam segala penampilannya. Penampilan yang iklash mencari kemuliaan disisi Allah saja.
Allah mencintai orang yang beraklaq mulia. Orang yang beraklaq mulia akan dimasukkan kedalam surga dekat dengan para Nabi dan Rasul. Akhlaq yang tinggi adalah akhlaq orang memiliki hikmah kebijaksanaan sebagaimana Allah firmankan
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)
Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 3:148)
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 16:128)
Demikian juga di dalam hadist Rasulullah Muhammad SAW disampaikan yang artinya :
Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri. (HR. Bukhori dan Muslim)
Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud)
Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Yala dan Al-Baihaqi)
Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-Dailami)
Akhlaq yang mulia adalah akhlaq manusia yang mulia, akhlaq yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang dekat kepada Allah, baik itu para Nabi atau orang-orang yang rajin beribadah dan berbakti kepada Allah. Seluruh Nabi dan Rasul semuanya diberi hikmah oleh Allah diantaranya Allah firmankan
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. 3:48)
Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepandanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:22)
dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, (QS. 21:74)
(Ibrahim berdoa):Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, (QS. 26:83)
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 28:14)
Bagi umat Islam, untuk menjadi manusia yang berakhlaq mulia, berjiwa tepo seliro dan sopan santun yang tinggi adalah dengan memahami dan menghayati Al-Quran dan Al Hadist Rasulullah Muhammad SAW. Dan itu semua telah Allah kabarkan kepada Rasulullah Muhammad SAW
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)
Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat al-Quran yang mengandung hikmah. (QS. 10:1)
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu).Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. 33:34)
Demi al-Quran yang penuh hikmah, (QS. 36:2)
Sungguh Kitab Allah Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW benar-benar penuh penjelasan tentang sumber-sumber akhlaq mulia dan bagaimana agar manusia mendapatkan dirinya bisa menjadi orang yang bisa berakhlaq mulia.
1. Sebab-sebab Kehilangan Teposeliro dan Sopan santun
Dan untuk menjawab kenapa manusia kehilangan akhlaq teposeliro dan sopan santun, Al-Quran juga sudah membahas dengan sangat jelas dan tuntas. Manusia yang melupakan Allah dzat Yang Maha Mulia dzat yang Maha Tinggi, maka manusia akan lupa kepada dirinya sendiri, dan lupa pula kepada kemulian dan ketinggian sifat-sifat dirinya. Sehingga berubah menjadi makhluq rendah dan hina, sekaligus sifat-sifatnya rendah dan hina. Diantara penyebab manusia menjadi makhluq yang yang rendah dan hina adalah
a. Lupa kepada Allah
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. 59:19)
Jiwa manusia membutuhkan siraman kasih sayang Allah, bila manusia tekun beribadah kepada Allah, maka manusia akan dapat menggapai sifat-sifat mulia dan mempertahankannya, sebaliknya bila manusia menjauh dari Allah, maka pasti manusia menuju kepada akhlaq yang rendah dan hina.
b. Sibuk dengan kenikmatan dunia
Mereka (yang disembah itu) menjawab:Maha Suci Engkau tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingat (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa. (QS. 25:18)
Sibuknya manusia untuk terpana dengan dunia, akan menghabiskan waktu hidupnya untuk terpikat dengan dunia, dunia yang begitu mengesan di dalam hati akan menggeser kecintaan hati manusia kepada Allah, sehingga waktu-waktu di dunia tersita dengan mabuk keindahan dunia dan habislah waktunya, sehingga waktu-waktu untuk beribadah mengagungkan Allah menjadi terabaikan.
c.Memuaskan bujukan hawanafsu
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)
Menikmati kelezatan dunia sering membuat hati tergelincir kepada kenikmatan-kenikmatan dunia yang berkwalitas rendah, ibarat orang asyik bermain ski salju maka semakin dinikmati semakin menuju jalan menurun, jalan-jalan menurun yang menjauh dari Allah Tuhan Yang Maha Tinggi, dan bergerak menuju kerendahan.
d.Mengikuti jalan syaitan
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (QS. 58:19)
Jalan-jalan syaitan memang jalan-jalan licin dan penuh tipu daya. Bujukan hawa nafsu sudah cukup menggelincirkan, sehingga banyak manusia yang melewati batas dan mengghabiskan hidupnya untuk tergelincir. Bujukan syaitan ibarat amplifier yang dapat melipat gandakan bujukan hawa nafsu menjadi semakin membakar dan menggelora di hati. Dan manusia yang terbakar dengan bujukan syaitan pasti diajak menjauh dari Allah dan diajak untuk tersesat dari jalan Allah.
Melupakan Bertasbih kepada Allah, lupa beribadah kepada Allah, biasanya dipicu oleh nikmatnya hidup di dunia, manusia semakin sibuk menghadapi aktifitas kesenangan hidup di dunia, dan membawanya lupa kepada tujuan hidup, lupa kepada bagaimana mengisi aktifitas hidup, dan bagaimana menyiapkan jalan akhir kehidupan, serta bagaimana mengisi hidup dengan kwalitas yang tinggi yang dirdhoi oleh Allah sang Pemrakarsa kehidupan di seluruh Alam.
Proses berjalan dari, sibuk kepada kelezatan menikmati indahnya dunia yang memikat, dilanjutkan dengan melupakan kehidupan yang haqiqi di akherat, sekaligus terbelok mengikuti bujukan syaitan yang aduhai menggoda dan menawan, dan untuk menyimpang dan bahkan durhaka kepada Allah dzat Yang Maha Rahman dan Rahim. Maka dosa, kelalaian, kedurhakaan, dan kekufuran menjadi aktifitas sehari-hari, dan itulah yang menjadikan manusia kehilangan akhlaq yang mulia..
Manusia yang ada pada kesesatan dan kerendahan, akan tidak lagi memiliki kepekaan jiwa, termasuk pada proses berikutnya budaya tepo seliro dan sopan santun yang begitu mulia dan tinggi akan tergusur dan bahkan dianggap sebagai perbuatan yang kuno, ketinggalan jaman, kurang gaul, kurang ilmu dan seterusnya, padahal disanalah modal persatuan, kerukunan dan kedamaian serta kebahagiaan.
2. Hal-Hal yang Merusak Perdamaian dan Persaudaraan
Ada dua hal yang perlu diperhatikan, ciri-ciri umat yang akan bercerai berai adalah, pertama, mereka menyukai perilaku binatang ternak dan yang kedua mengganggab indah dan aman akan penyimpangan yang telah dilakukan, dan akan berakhir menuju kerendahan dan pertikaian. Marilah kita uraikan dengan melihat firman-firman Allah sebagai berikut.
a. Berperilaku seperti binatang ternak
Manusia yang tidak mau mengikuti petunjuk Allah, dikatakan Allah sebagai manusia yang tuli, bisu dan buta tidak mampu mengambil manfaat besar petunjuk-petunjuk tersebut. Tuli, bisu dan buta jiwanya. Allah menggambarkan mereka sebagai makhluq yang berderajad rendah, sama dengan hewan atau bahkan lebih rendah.
Allah telah menundukkan kepada kita bagaimana menguasai dan menundukkan berbagai jenis binatang. Tetapi kalau manusia sudah menyimpang dan tidak mau tunduk kepada Allah, maka akan sangat sulit untuk mengatur manusia yang menempuh jalan kerendahan.
Orang tua akan merasa sangat kewalahan mengatur anak-anaknya yang telah bisaa memperturutkan hawa nafsu yang rendah. Maka demikian pula bila hal tersebut sudah membudaya merata didalam tatanan masyarakat dan bangsa.
Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (QS. 8:22)
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:44)
tidak ada sesorang yang tidak tertarik dengan memperturutkan bujukan hawa nafsu, kecuali bagi mereka-mereka yang benar-benar berpegang teguh pada jalan-jalan iman dengan tekun dan konsekwen. Dan memang demikianlah ujian kehidupan dari zaman ke zaman. Apalagi di zaman sekarang ini, proses penularan perbuatan jahat sudah sangat-sangat-sangat-sangat-sangat terbuka lebar dan sangat mudah, sungguh merupakan ujian iman yang sangat berat.
b. Menganggab indah penyimpangan-penyimpangan dan mengira dapat petunjuk
Suasana hati yang gelap dan tersesat, gelap dari hidayah Allah, sesat dari hidayah Allah, ibarat orang dalam kegelapan kabut yang mentabir hati. Mirip sekali dengan orang yang sedang mabuk dan kecanduan. Semua aktifitasnya diarahkan untuk mendapatkan kepuasan-kepuasan instan yang diangan angankan. Walaupun kadang berakibat rusaknya tubuh bahkan rusaknya jiwa dan raganya.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (QS. 27:4)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. 43:37)
Bila manusia sudah memperturutkan bujukan syaitan, maka untuk menghentikan dari penyimpangan tersebut diperlukan kemauan yang sungguh-sungguh, karena disamping mereka telah rusak jiwanya, telah lemah jiwanya. Namun syaitan juga berusaha menghalang-halangi agar manusia tersebut tetap dalam kegelapan dan amat sulit untuk keluar kembali ke jalan yang benar, dan bahkan menampakkan bahwa jalan-jalan sesat yang telah ditempuhnya itu adalah jalan yang benar.
Sebuah generasi yang sudah mempeturutkan hawanafsu membutuhkan penanganan yang lebih sulit dan lebih sangat-sangat sungguh-sungguh, untuk menyadarkan mereka keluar dari berbagai belenggu syahwat, belenggu syaitan, jebakan-jebakan syaitan.
Betapa sudah sangat-sangat jelas sebab-sebab rusaknya akhlaq manusia di suatu zaman. Demikian pula rusaknya kedamaian dan kerukunan kehidupan di dunia ini. Bila manusia mau kembali kepada Allah dan bertekun mengikuti jalan-jalan petunjuk Allah, pasti mereka akan menemukan kembali jalan kemuliaan menuju jiwa yang mulia, jiwa yang damai dan bersaudara.
Sebaliknya bila manusia sudah tergelincir kepada budaya-budaya yang dimurkai oleh Allah, menekuni jalan-jalan kelezatan ragawi dengan melampaui batas, maka manusia akan terbelenggu dengan sifat-sifat buruk dan sifat-sifat merusak. Dan retaklah persaudaraan dan kedamaian antar umat manusia. Termasuk pula di dalamnya manusia akan kehilangan kepribadian teposeliro dan kehilangan watak mulia dari dalam dirinya.
Mestikah kita harus kembali menelusuri jalan-jalan kemiskinan harta, agar kita dapat kembali merenungi arti hidup dan kehidupan ???, apakah yang musti kita tambahkan dalam diri kita ??? agar dalam zaman yang hingar bingar dan serba cepat seperti ini kita tetap dapat menjadi manusia-manusia yang memiliki teposeliro yang tinggi juga sopan santun yang terwujud dalam akhlaq sehari-hari,
Manusia tetap saja manusia yang mempunyai rasa (jiwa keimanan) yang harus diunggulkan keutamanya dibanding benda-benda mati lainnya, walaupun benda mati itu berupa sebuah komputer super cerdas atau peralatan super canggih, tetap saja hanya manusia yang dapat memiliki kemampuan untuk memiliki teposeliro dan bersopan santun yang tinggi. Dan itulah keunggulan manusia atas makhluq yang lainnya. Wallahu alam
http://www.mta-online.com/2012/08/03/meneguhkan-budaya-teposeliro-dan-sopan-santun/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Bahaya Besar Budaya Yang Membuat Hati Membatu
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa mengikuti jalan petunjuk-Nya, demikian pula semoga salam atas seluruh Nabi dan Rasul-Nya. Amien
Dari zaman ke zaman Allah SWT senantiasa menuntun manusia untuk meningkat kepada jengjang kemulian, sejak dari zaman Nabi Adam AS Hingga Rasulullah terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Kita memberi sebutan zaman batu dalam konteks kali ini adalah zaman dimana manusia memiliki hati yang keras membatu. Sehingga manusia kehilangan jiwa kasih sayang dan akhirnya manusia lupa diri, lupa akan masa depannya di akherat. Disebabkan hatinya telah keras membatu tidak mampu lagi menatap masa depan yang akan diterima di akherat akibat dari perbuatannya di saat sekarang ini.
Ada banyak ayat Allah yang memberikan penjelasan tentang hati manusia yang menjadi keras membatu diantaranya adalah firman Allah yang artinya
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:74)
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik. (QS. 5:13)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39:22)
Hati yang membatu adalah hati yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah, hati yang amat sulit untuk menerima petunjuk Allah, hati yang amat ingkar dengan bimbingan Allah dan hati yang bangga dengan kesuksesan-kesuksesan yang ditempuh dengan bergelimang dosa dan kesesatan.
Seluruh umat manusia Allah-lah yang menciptakan, namun bila hati telah keras membatu maka mereka melupakan jasa-jasa Allah terhadap mereka, melupakan aturan-aturan Allah yang harus mereka syukuri dan bahkan sebaliknya mereka bangga dengan kesombongan kesombongan yang telah mereka lakukan yang kadang-kadang dengan kesombongan itu mereka menuai kesuksesan dunia yang menakjubkan.
Dalam Al-Quran hati yang membatu dapat pula memiliki istilah yang lain, yaitu hati yang terkunci
Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (QS. 7:100)
Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:108)
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi):Apakah yang dikatakannya tadi Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. 47:16)
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. 63:3)
Hati yang membatu, hati yang terkunci, memiliki makna yang sama, dan penyebabnya juga sama. Kefasikan adalah sebab musabab hati manusia menjadi membatu. Kefasikan adalah sikap perbuatan dimana perintah Allah tidak dijalani dan bahkan disingkiri, sebaliknya larangan Allah tidak dijauhi tetapi bahkan diperbuat dan amat dicintai.
Budaya hati membatu mungkin saja disebuah penggal zaman menjadi budaya yang amat digandrungi umat manusia. Para ahli-ahli kebenaran ditinggalkan dan difitnah, sebaliknya para ahli hawanafsu dipuja puja dan bahkan dijadikan ikon-ikon peradaban. Namun Allah SWT memiliki sebuat takdir ketetapan yang berlaku tetap untuk sepanjang masa.
Peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ahli-ahli kebenaran dan kebaikan sering menjadi olok-olokan dan bahkan ahli-ahli kebaikan diberi ancaman-ancaman yang menyebabkan terhalangi untuk meyebarkan kebenaran.
Kebenaran yang menyadarkan umat manusia untuk kembali kepada Allah. Agar manusia memiliki hati yang mulia dan hati yang fitrah, hati yang bersih dari lumuran dosa yang menyebabkan hati membatu, hati terkunci. Namun kadang ahli kebenaran bahkan menerima kepedihan-kepedihan, Perbuatan kejahatan dan keburukan bahkan merajalela dan mendapat tempat di hati umat manusia. Namun sebenarnya semua penyimpangan itu amat sangat dibenci oleh Allah SWT.
Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka. (QS. 14:30)
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. 15:3)
biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senaglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (QS. 16:55)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. 17:83)
agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran).Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (QS. 29:66)
Kadang-kadang Allah membiarkan manusia-manusia ahli kejahatan diberi kesempatan untuk memuaskan kejahatan mereka. Dan bahkan mereka menemui kesuksesan-kesuksesan yang sangat luar biasa, namun itu bukan sebagai karunia Allah, tetapi itu adalah pembiaran Allah atas mereka.
Ketika mereka semua sudah tidak lagi mau mengikuti petunjuk Allah, maka proses berikutnya adalah proses datangnya siksa dan azab kepada mereka semuanya. Datangnya azab bisa terjadi ketika mereka masih hidup di dunia ini, atau mereka akan mendapatkan balasan siksa besuk di akherat.
Di dalam Al-Quran Allah memberi peringatan kepada Umat Islam agar tidak menempuh jalan-jalan yang menjadikan hati mereka membatu, karena dengan itu siksa akan dengan tiba-tiba dan tidak ada lagi kesempatan bertaubat.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. 6:42)
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 6:43)
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 29:40)
Allah SWT, Tuhan pencipta, pemilik, pemelihara semesta Alam. Sudah sewajarnya bila Alllah SWT menurunkan aturan yang perlu ditaati oleh umat manusia. Bila manusia mengabaikan apa-apa yang datang dari Allah, maka Allah mampu mendatangkan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah senantiasa mengasihi, menyayangi dan menunjuki serta menyelamatkan manusia-manusia yang menempuh jalan-jalan yang dicintai Allah dan memberi kepada mereka keselamatan dan kebahagiaan dan terbebas dari Hati yang Membatu. Wallahu alam
http://www.mta-online.com/2012/07/23/bahaya-buesar-budaya-yang-membuat-hati-membatu/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Menyelamatkan Diri di ZAMAN KERUSAKAN MORAL
Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya, amien.
Segala puji bagi Allah, pernahkah diri kita saat bangun dari tidur di pagi hari lalu kita memikirkan bahwa diri kita hidup ini dengan NYAWA yang dipinjamkan oleh Allah kepada kita ???, dan suatu saat NYAWA itu kemudian akan diminta oleh yang memiliki NYAWA, yaitu Allah Tuhan Semesta Alam, sebagaimana firman-Nya yang artinya
Maka mengapa ketika NYAWA sampai di kerongkongan, (QS. 56:83)
padahal kamu ketika itu melihat, (QS. 56:84)
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, (QS. 56:85)
maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) (QS. 56:86)
Kamu tidak mengembalikan NYAWA itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar, (QS. 56:87)
adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 56:88)
maka dia memperoleh rezki serta surga kenikmatan. (QS. 56:89)
Segala puji bagi Allah, betapa kesadaran kita tentang kepemilikan NYAWA yang Allah pinjamkan kepada kita ini adalah sesuatu yang sangat besar manfaatnya, agar kita mau berpikir berikutnya, mengapa Allah meminjami kepada kita masing-masing NYAWA ???, mengapa kita dipinjami oleh Allah dengan NYAWA dan kemudian kita diberi kesempatan untuk hidup di muka bumi.
Pernahkan kita berpikir sejenak ketika orang tua kita memadu kasih sayang sehingga kemudian lahirlah kita sebagaimana firman Allah yang artinya
dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, (QS. 53:44)
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. (QS. 53:45)
dari air mani, apabila dipancarkan. (QS. 53:46)
Dan bahwasanya Dialah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), (QS. 53:47)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. 23:12)
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (QS. 23:13)
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) (QS. 75:36)
kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, (QS. 75:38)
Dapatkah firman Allah tersebut menggugah kesadaran kita, siapakah yang telah melindungi air mani yang dipancarkan itu, dan kemudian kemudian saling bertemu dan kemudian jadilah manusia ???, siapakah yang mengkondisikan dan mengamankan perjalanan setitik air mani di rahim seorang ibu dan kemudian tumbuh menjadi bayi dan lahir manusia ke dunia ini ???
Kesadaran yang demikian kita harapkan dapat menggugah hati kita untuk kemudian sadar bahwa di dunia ini kita juga membutuhkan perlindungan Allah SWT. Setidaknya ketika kita telah mulai menyadari, kita kemudian menangisi diri dan anak-anak kita bahwa kita dan mereka itu semua membutuhkan bimbingan dan perlindungan Allah SWT dalam menempuh kehidupan di dunia ini.
Walhasil bahwa di saat NYAWA-NYAWA masih ada di dalam raga kita, masih dipinjamkan kepada kita, kita harus bersegera menyambut bimbingan Allah dan perlindungan-Nya dengan tekun belajar dan menempuh jalan petunjuk-Nya.
Dengan mengingat akan lemahnya kedudukan kita, sebaliknya dengan melihat akan begitu Maha Mulia, Maha Tinggi dan Maha Perkasa nya Allah SWT, mendidik jiwa manusia untuk segera lari kepada Allah dan bersegera meninggalkan kelalaian-kelalaian yang tersebar luas di zaman di hari ini.
Banyak manusia yang akan menyesal di akherat, disebabkan mereka telah kembali ke akherat dengan kedudukan NYAWA yang rendah yang jauh dari Allah, bahkan mereka dibersamakan dengan syaitan di neraka yang menyala-nyala, sebagaimana firman-Nya yang artinya
hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? (QS. 67:8)
Mereka menjawab:Benar ada,sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar. (QS. 67:9)
Dan mereka berkata:Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 67:10)
Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 67:11)
Demikianlah penyesalan NYAWA-NYAWA yang mengabaikan peringatan Allah, sehingga mereka di akherat harus ditempatkan di tempat yang amat menyusahkan.
Marilah kita umat manusia, apalagi kita umat manusia yang sedang berada di kedudukan puncak, sedang duduk sebagai PEMIMPIN, sebagai PANUTAN, sebagai KOORDINATOR, Lihatlah dengan seksama, ketika sebuah system yang salah tetap dilestarikan, hingga timbul istilah Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama, dan ketika orang-orang yang baik sudah tidak mampu lagi melakukan perbaikan, disebakan karena system yang salah yang sudah berakar dan berurat menggurita dalam sendi-sendi kehidupan.
PEMIMPIN, PANUTAN, KOORDINATOR, dihari ini pun biasanya sudah memiliki umur yang sudah cukup, dan beberapa saat lagi, NYAWA-NYAWA itu akan diambil oleh yang empunya NYAWA, yaitu Allah SWT. Jangan sampai NYAWA kita termasuk NYAWA yang berkedudukan rendah dan harus ditempatkan di neraka.
Sambutlah wahai para PEMIMPIN, para PANUTAN, para KOORDITOR, selamatkan dirimu, keluargamu, sahabatmu, masyarakatmu, bangsamu, untuk segera sadar dan kembali kepada jalan-jalan Allah, kembalilah kepada ketekunan menekuni petunjuk-petunjuk Allah, Al-Quran dan As-Sunnah, dialah jalan bimbingan dan jalan perlindungan Allah terhadap kehidupan di dunia ini, untuk mencapai ketinggian dan kesucian NYAWA-NYAWA manusia
Katakanlah:Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 39:53)
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. 39:54)
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu(Al-Quran) sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS. 39:55)
supaya jangan ada orang yang mengatakan: Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. 39:56)
Wahai para GURU masyarakat, sadarlah bahwa kesesatan yang telah menjamur ditengah-tengah kehidupan, diantaranya adalah termasuk kekurangan-kekurangan yang telah tumbuh akibat salah didik dan salah ajar. Seharusnya DUNIA PENDIDIKAN ikut menangisi kondisi zaman, mengapa anak-anak didik kita, mereka lebih suka memilih jalan yang salah dibanding jalan yang benar.
Kebanggaan meluluskan alumni harus disertai dengan koreksi diri, berapa anak-anak didik kita yang telah menyimpang hidupnya akibat minimnya bekal TUNTUNAN AGAMA ISLAM, atau bahkan KETIDAK TANGGUHNYA dalam BERPENDIRIAN MEMEGANG KEBENARAN DAN KESANTUNAN dalam menghadapi godaan dan penyimpangan-penimpangan zaman yang terjadi dalam kehidupan.
Apakah memang kita ini manusia, masyarakat, sekumpulan manusia yang berkwalitas sebagaimana pepatah SEPERTI AIR DI DAUN TALAS, dan kemudian kita tanyakan dalam hati sanubari kapan kita memiliki pendirian, terutama memegang teguh pertanggung jawaban jalan kehidupan kita yang akan kita hadapi ketika kita menghadap kepada Allah SWT yang telah memberi NYAWA kehidupan kepada kita.
Kita membutuhkan figure-figur GURU, PANUTAN dan PEMIMPIN yang memiliki ketegasan dalam memegang amanah jalan lurus kehidupan, dan tidak mudah tergoyah dengan hempasan ombak Zaman yang penuh dengan kepengapan budaya memeperturutkan hawa nafsu dan melanggar bimbingan kebenaran dan kesopanan.
Kita membutuhkan manusia-manusia PANUTAN yang memiliki ketegasan di dalam memegang teguh kebenaran yang datang dari Allah SWT, Tuhan Pencipta, dan Pemilik serta Pemelihara semesta Alam, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga NYAWA mereka kembali kepada Allah dalam keadaan di rahmati dan diridhoi.
Hai jiwa yang tenang. (QS. 89:27)
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:28)
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, (QS. 89:29)
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:30)
Mari berbondong-bondong mengaji Al-Quran dan As-Sunnah, kemudian kita hayati dan kita amalkan, dan rasakan sejuknya kebahagiaan iman, karena disanalah tempat berlabuh yang paling aman dari kekacauan dan kerusakan zaman, disanalah tempat yang sejuk dan menenangkan NYAWA-NYAWA kita sebelum kita dipanggil oleh Allah masuk kedalam surga-Nya di akherat kelak Wallahu aalam.
http://www.mta-online.com/2012/04/25/menyelamatkan-diri-di-zaman-kerusakan-moral/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Menumbuhkan Perilaku Tawadhu (Rendah Hati)
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senaniasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu bersyukur kepada-Nya.
Seiring pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi di zaman hari ini sepesat itu pula lunturnya sifat-sifat mulia di hati umat manusia. Ketika para kaum pelajar dikuliti dan dicermati maka muncullah berbagai seminar untuk membahas kenakalan pelajar. Hingga semua menuduh guru-guru di hari ini tidak mampu mendidik siswa-siswanya untuk memiliki sifat-sifat yang mulia.
Namun perlu disadari bahwa guru di sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran pada hari ini mereka telah terpinggirkan oleh peran para entertainer yang lebih agresif dalam membentuk kepribadian manusia-manusia di zaman ini. Wal hasil karakter umat manusia hari ini telah dibangun oleh banjirnya informasi yang disuguhkan oleh para intertainer sejagad yang dicurahkan ke dalam hati dan aqal manusia lewat media-media informasi yang semakin beragam.
Sifat sombong merupakan salah satu sifat yang muncul ketika manusia bersahabat dengan syaitan. Ketika larangan-larangan Allah diperbuat dan disenangi oleh umat manusia, maka syaitan-syaitan itu akan terus berada dalam hati manusia untuk mengajaknya bersifat angkuh dan sombong.
Manusia bahkan dapat menjadi makhluq yang sangat-sangat sombong, di zaman hari ini banyak manusia-manusia cerdas berkepala besar yang tersesat aqal dan hatinya, dan mereka memiliki keyakinan Atheis (tidak berTuhan dan tidak berAgama) dan hidup liberal mengikuti aturan yang mereka buat dan mereka anggab baik. Inilah puncak kesombongan umat manusia yang luar biasa.
Menumbuhkan sifat tawadhu hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang taat dalam ber Islam, dan orang-orang yang mampu menghadirkan keberadaan Allah Tuhan semesta Alam dalam hidupnya, sebagaimana firman Allah yang artinya
Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)
Allah SWT telah mengajari manusia dengan berbagai keterangan yang sangat dibutuhkan oleh aqal dan hati manusia untuk mengenali dirinya dan mengagumi Allah Tuhan yang telah menciptakannya sebagaimana sederet ayat-ayat Allah yang artinya
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 3:6)
Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi rizki dengan sebahagian yang baik-baik.Yang demikian adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (QS. 40:64)
Dia mencipatkan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu). (QS. 64:3)
Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (QS. 82:6)
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (QS. 82:7)
dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS. 82:8)
Sikap hati yang Tawadhu dapat ditumbuhkan dengan subur di hati orang-orang yang banyak beribadah kepada Allah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Sebaliknya sifat-sifat sombong dan angkuh akan tumbuh menjamur subur di hati orang-orang yang angkuh yang lalai dari beribadah kepada Allah.
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. 16:107)
Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:108)
Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (QS. 16:109)
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. 30:7)
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. 30:8)
Kesibukan yang berlebihan mengurusi kehidupan dunia semata-mata tanpa memahami tujuan hidup yang sebenarnya, akan memunculkan pribadi-pribadi yang sombong, ujub dan riya yang semuanya adalah tercela dan menjadi sebab kekacauan hidup di dunia dan kesengsaraan hidup di akherat. Keengganan manusia untuk membersihkan hatinya akan memunculkan hati yang terus-terus bertimbun-timbun dengan dosa yang kemudian menjadi lahan subur bagi tempat tinggal syaitan dan menjadi sebab munculnya sifat sombong, angkuh, ujub dan riya yang merusak keindahan kdhidupan.
Sikap Tawadhu adalah sikap yang sangat dicintai oleh Allah. Allah merahmati, melindungi dan menolong orang-orang yang selelu bersikap tawadhu. Marilah kita umat manusia berpikir mendalam tentang kehidupan dirinya, siapakah yang telah menciptakan nutfah di dalam diri nya, siapakah yang telah menuntun nutfah-nutfah itu di dalam rahim-rahim para ibu, dan siapakah yang menumbuhkan nutfah-nutfah itu tumbuh menjadi keadaan seperti apa adanya diri manusia, dengan segala perlengkapan yang telah ada pada diri manusia ???, Bagi orang Islam yang sadar diri, akan dengan mudah menghayati bahwa itu semua adalah kerja Allah SWT, Allah Tuhan semesta Alam.
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), (QS. 23:55)
Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. 23:56)
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, (QS. 23:57)
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, (QS. 23:58)
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), (QS. 23:59)
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (QS. 23:60)
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. 23:61)
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS. 23:62)
Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain dari itu, mereka tetap mengerjakannya. (QS. 23:63)
Walhasil sifat-sifat Tawadhu dapat muncul di hati orang-orang yang Bertaqwa kepada Allah, yang selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebaliknya sifat sombong akan menghias dengan nyata di hati orang-orang yang kafir dan selalu durhaka kepada Allah, dan hatinya telah tertutup dengan dosa-dosa.
Hati-hatilah dengan kebodohan dan perbuatan dosa, karena dia sumber segala sifat-sifat buruk dalam dari manusia. Semoga Allah menjadikan kita semua menjadi orang-orang yang bertaqwa yang memiliki sifat-sifat yang mulia. Wallahu alam.
http://www.mta-online.com/2011/10/31/menumbuhkan-perilaku-tawadhu%E2%80%99-rendah-hati/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Mengenali Diri Sebagai Manusia
Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lainya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia sering kali lupa, tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Potensi positif yang ada dalam diri manusia menjadikannya sebagai hamba yang Bertaqwa, sebaliknya di sisi potensi negative mampu menjadikan manusia menjadi lebih rendah dari makhluk yang gak punya akal sekalipun.
Untuk itu marilah kita ingatkan diri kita ini sebagai manusia, Siapa diri kita ini? Dari mana asalnya? Mau kemana nantinya? Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menempuh kehidupan didunia ini supaya selamat mengarungi hidup didunia dan akhirat nanti.
Sobat, jika kita mau kembali Kitab Al-Quran ternyata telah tertulis berbagai ayat yang menyatakan bagaimana manusia itu sebenarnya. Diantaranya, Manusia itu adalah :
Pertama, Lemah

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.(QS.An-Nissa : 28)
Ketahuilah bahwa manusia sangatlah lemah, tidak bisa hidup sendiri. Saling membutuhkan dan ketergantungan dengan yang lain
Kedua, Suka Tergesa

Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS.Al-Isra : 11)
Ketidaksabaran manusia jelaslah terbukti, semuanya ingin terjadi instant. Ihtiar baru sepertiga ingin lekas mendapat hasil. Terkadang sesuatu hal yang menarik hati, menjadikan lupa akal sehat dan logika. Itulah Manusia.
Ketiga, Senang Membantah

Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (QS. An-Nahl : 4)
Keempat, Suka Berlebih-lebihan

Dan apabila manusia ditimpa bahaya Dia berdoa kepada Kami dalam Keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS.Al-Alaq : 6)
Kelima, Lalai dan Pelupa

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. (QS.At-Takaatsur : 1)

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, Dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya LUPALAH Dia akan kemudharatan yang pernah Dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan Dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka.
Keenam, Suka Berkeluh Kesah

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (QS. Al-Maarij : 20)
Ketujuh, Cenderung Kikir

Katakanlah: Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. Al-Isra : 100)
Kedelapan, Suka Mengkufuri Nikmat

Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya[1349]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (QS. Az-Zukhruf : 15)

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (QS.Al-Aadiyaat : 6)
Kesembilan, Senang Berangan-angan

Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu? mereka menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu. (QS.Al-Hadid : 72)
Sepuluh, Dzalim dan Bodoh

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, (QS.Al-Ahzab : 72)
Itulah sifat-sifat yang ada dalam diri kita, harus diwaspadai. Begitu banyak sifat buruk yang melekat kepada diri manusia. Allah Maha Adil dan Tidak menyulitkan hamba-Nya, Islam adalah solusi untuk mengatur manusia agar bisa mengarungi ujian di dunia dan menggapai kebahagiaan di akherat
Alhamdulillah, mari kita syukuri nikmat iman dan Islam ini dengan cara :
Tetap taat kepada Allah Walaupun kondisi sesulit apapun
Tetap belajar terus dengan mengkaji AlQuran dan Assunah
Selalu memperbaiki diri dan tidak menunda pertobatan
Menjaga keimanan dengan tetap dalam kebersamaan dan jamaah
Manusia memang lemah dan banyak kekurangan tetapi dengan bersatu akan menjadi kuat sehingga bisa selamat dunia dan akherat.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asyari, dari Nabi, beliau bersabda,

Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS.Ali Imran:103)
http://www.mta-online.com/2011/10/17/mengenali-diri-sebagai-manusia/
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/


TAGS


-

Author

Follow Me