Jaga lisan

27 Nov 2012


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
PENTINGNYA JAGA LISAN (M.H)
Diperbarui lebih dari setahun yang lalu
Bismillahirrahmanirrahim…
Bagi mereka yang beriman, lidah yang dikurniakan oleh Allah itu tidak digunakan untuk berbicara sesuka hati dan sia-sia. Sebaliknya digunakan untuk mengeluarkan mutiara-mutiara yang berhikmah. Oleh itu, DIAM adalah benteng bagi lidah manusia daripada meng
ucapkan perkataan yang sia-sia.
HIKMAH DIAM
1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah.
2. Perhiasan tanpa berhias.
3. Kehebatan tanpa kerajaan.
4. Benteng tanpa pagar.
5. Kekayaan tanpa meminta maaf kepada orang.
6. Istirihat bagi kedua malaikat pencatat amal.
7. Menutupi segala aib.
Kemarin saya tersentak oleh pesan seorang sahabat Tahu gak bahwa apa yang keluar dari mulut kita itu adalah kita dan kemudian saya merenung atas apa apa yang pernah saya ucapkan, perkataan baikkah atau kata kata yang menyakitkan saya yang mampu saya ucap, atau rentetan dusta yang tak mampu saya bendung, lalu terbayang oleh saya ketika sumbu amarah saya tersulut oleh perbuatan orang lain yang tidak menyenangkan hati, saya memaki dengan kata kata bodoh yang jika dikaitkan dengan pesan sahabat saya tadi, kata bodoh yang saya tunjukan untuk orang lain sesungguhnya itu adalah saya, iya itulah saya, ketika saya mengatakan orang itu ular berkepala dua karena suka mengadu domba dan memfitnah, mungkin saya juga begitu, jadi siapa saya, saya adalah yang keluar dari mulut saya itu, ya ALLAH……………
Beberapa hari yang lalu guru mengaji menasehati saya dengan kata kata yang indah, Diam itu adalah emas, diam adalah ibadah yang tanpa bersusah payah, diam adalah perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah, diam adalah kehebatan tanpa kerajaan, benteng tanpa pagar, kekayaan tanpa meminta kepada orang, istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal, penutup segala aib
Subhanallah, indahnya diam
Saya mulai berpikir, jika dalam sehari itu ada 24 jam, dikurangi jam tidur saya 6 jam maka saya punya waktu hidup 18 jam dalam 18 jam ini berapa banyak kata kata bak meteor yang keluar dari mulut saya, jalan di kota yang padat membuat saya emosi dan memaki motor yang nyerempet mobil saya seenaknya, di rumah ada si mbok yang kerap saya perintah dengan kata yang kurang manis, di tempat saya menjemput rejeki saya berhadapan dengan orang orang yang tidak selalu manis dan saya membalasnya dengan lebih pahit lagi, ke Ayah saya mungkin saya tak bermaksud membentak tapi huh yang keluar dari mulut saya mungkin melukainya, jika saya tak mampu berkata kata yang menyenangkan sebaiknya saya diam, jika hanya bisa bohong dan bohong yang keluar dari mulut saya sebaiknya saya gak bicara sama sekali, jika hanya luka dan makian mending lakban deh mulut :(
Sungguh lidah memang tak bertulang, setiap gerakannya akan menggetarkan pita suara, dan suara yang keluar jika tak bernilai kebaikan sebaiknya diam, dan mustinya saya harus selalu ingat bahwa setiap gerakan lidah akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH di mahkamah ALLAH nanti, iya lidah akan dihisab, bicara apa dan berkata apa, di mahkamah ALLAH tidak ada pengacara yang akan membela apalagi membenarkan ucapan saya, di sana lidah saya hanya akan berkata jujur tentang semua yang pernah saya ucapkannya, dan betullah seharusnya saya DIAM ketika tidak bisa berkata benar, diam dan dzikir loh yah, bukan diam terus ngelamun jorok .
Semakin banyak bicara semakin banyak salah, maka diam itu tidak pernah salah, jadi mulai sekarang ada baiknya kita belajar menjadi pendengar dan bukan pembicara, kekasih ALLAH itu diamnya dzikir, bicaranya dakwah, kan gitu yah?
Kalau dihina ? gak usah dibalas dengan hinaan, rugi lah mengotori lidah dengan menghina orang itu lagi, ketika ada orang yang menghina saya kan orang itu sedang menghina dirinya sendiri kan sebetulnya, ketika saya membalas lagi dengan hinaan, terus apa bedanya dong saya dengan dia, gak deh !! abis pahala dan energi hanya untuk membalas sesuatu yang gak penting lagi buat kita bukan? biarkan saja sudahi saja dengan diam dan senyum manis.
Kata orang Setan itu mencari sahabat sahabatnya dan ALLAH melindungi kekasih kekasihNYA salah satu agar dicintai ALLAH dan menjadi kekasih ALLAH adalah dengan menjadi ahli dzikir dan sifat dari para ahli dzikir itu diamnya dzikir, bicaranya dakwah
* BANYAK DIAM TIDAK SEMESTINYA BODOH, BANYAK CAKAP TIDAK SEMESTINYA CERDIK, KERANA KECERDIKAN ITU BUAH FIKIRAN, ORANG CERDIK YANG PENDIAM LEBIH BAIK DARI ORANG BODOH YANG BANYAK CAKAP.
* MENASIHATI ORANG YANG BERSALAH, TIDAK SALAH. YANG SALAH IALAH MEMIKIRKAN KESALAHAN ORANG.
*Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Riwayat BUKHARI & MUSLIM)
*Barangsiapa diam maka ia terlepas dari bahaya.(Riwayat AT-TARMIZI)
Perhatikanlah, sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan.
Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu,

Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu? Jawabku: Iya, wahai Rasulullah. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, Jagalah ini. Aku bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan? Maka beliau bersabda, Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka? (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih)

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya. (HR. Tirmidzi no. 2314. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam. (HR. Bukhari no. 6478)

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat. (HR. Muslim no. 2988)
Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (18/117) tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah. (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47). Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.
Dalam Jamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.
Ibnu Masud pernah berkata, Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Tidak ada di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan. (Dinukil dari Jamiul Ulum wal Hikam)

Ibnul Mubarok ditanya mengenai nasehat Luqman pada anaknya, lantas beliau berkata, Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas. (Dinukil dari Jamiul Ulum wal Hikam)

Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh yang mengandung maksiat.
Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Allah bisa jadi perkara besar. Allah Taala berfirman,

Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS. An Nur: 15). Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar.
SENYUM (M.H)
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.251552244893132.62393.244541858927504&type=1
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat pagi.
Terimakasih Salam dan doanya.
Selagi mampu, ada peluang, ada fasilitas, harus ada kemauan untuk mancari langkah-langkah kecil yang besar manfaatnya bagi orang banyak. Semangat terusuntuk berbagi, dengan berbagi
tidak akan mengurangi yang kita punya, malah sebaliknya. Selamat beraktifitas semoga selalu berada dalam Berkah dan Lindungan dari
ALLAH Subhanahu Wa Taala..
Keutamaan Menjaga Lisan dan Buah Hasilnya
Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.
Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa taala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (Al-Ahzab: 70)
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)
Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.
Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )
Al-Imam An-Nawawi mengatakan: Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara. (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)
mengatakan: Al-Imam Asy-Syafii Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya. (Al-Adzkar hal. 284)
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
Keutamaan Menjaga Lisan
Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan tabir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
1. Anas bin Malik : Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.
2. Abu Ad-Darda : Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.
3. Al-Fudhail : Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.
4. Sufyan Ats-Tsauri : Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.
5. Al-Ahnaf bin Qais : Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.
6. Abu Hatim : Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.
7. Yahya bin Uqbah: Aku mendengar Ibnu Masud berkata: Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.
8. Muarrifh Al-Ijli : Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya. Seseorang bertanya kepadanya: Apakah itu wahai Abu Al-Mutamir? Muaarrif menjawab: Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.
(Lihat Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)
Buah Menjaga Lisan
Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asyari, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:
(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)
Asy-Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali mengatakan: Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan. (Bahjatun Nazhirin, 3/8)
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk masuk ke surga.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sad :
Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga). (HR. Al-Bukhari no. 6088)
Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :
Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya. (HR. Al-Bukhari no. 6092)
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.
Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu alam.
Dikutip dari http://asysyariah.com/ Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi, Judul :Lidah Tak Bertulang
http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/01/keutamaan-menjaga-lisan-dan-buah-hasilnya/
http://kebunhidayah.wordpress.com/2010/01/23/adab-adab-menjaga-lisan-bagi-seorang-muslim/
http://rumaysho.com/belajar-islam/akhlak/2864-hati-hati-dengan-lisan.html
http://asysyariah.com/kewajiban-menjaga-lisan.html
http://jalanbaru92.blogspot.com/2012/10/berkata-baik-atau-diam.html
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/edukasi/edukasi/


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik
Oleh: Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-Abbad Al-Badr Hafidhahullah
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya.
Muslim meriwayatkan sebuah h
adits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda.
Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para sahabat pun menjawab, Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. Beliau menimpali, Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunyi.
Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 ; begitu juga Muslim [Tetapi lafaz yang tersebut terdapat dalam riwayat Bukhari] dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah berkhutbah pada hara nahar (Idul Adha). Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada manusia yang hadir waktu itu, Hari apakah ini? Mereka menjawab, Hari yang haram. Beliau bertanya lagi, Negeri apakah ini? Mereka menjawab, Negeri Haram. Beliau bertanya lagi, Bulan apakah ini ? Mereka menjawab, Bulan yang haram. Selanjutnya beliau bersabda.
Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)?
Ibnu Abbas mengomentari perkataan Nabi di atas, Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. Beliau berpesan kepada kita, Oleh karena itu, hendaklah yang hadir memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun
Al-Hafidz Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (I/65) mengomentari hadits.
Apabila seorang manusia wafat, maka terputuslah jalan amal kecuali dari tiga perkara dst
Beliau berkata, Orang yang membukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang membaca, menulis dan mengamalkannya, berdasarkan hadits ini dan hadits yang semisalnya. Begitu pula, orang-orang yang menulis hal-hal yang membuahkan dosa, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan dosa dari orang-orang yang membaca, menulis atau mengamalkannya, berdasarkan hadits.
Barangsiapa yang merintis perbuatan yang baik atau buruk, maka .
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6505 dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda.
Sesungguhnya Allah berfirman, Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka kuizinkan ia untuk diperangi
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd AlAbbad Al-Badr hal 22-41, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
Sumber: http://assunnah-qatar.com/
http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/04/15/menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik/
http://maripeduli.blogspot.com/search/label/Rahasia%20Syukur

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mungkin ada yang anda cari.

Allah Ta’ala berfirman:
“Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara”. [ar-Rahmn/55:1-4].
Tebar Kebaikan, Jaga Lisanmu
Tanda-tanda orang yang sukses dalam menjalankan puasa ramadhan yaitu setelah idul fitri, dia senantiasa menebarkan kebaikan (kebajikan), antara lain dengan melaksanakan puasa syawal 6 hari yang dilanjutkan dengan amal-amal kebaikan lainnya. Tetapi amalan yang paling tinggi nilainya ialah berjihad di jalan Allah baik dengan harta maupun nyawa. Tentang kebaikan itu sendiri agama memberikan petunjuk dalam dua hal, pertama, manusia harus saling nasihat menasihati dalam mentaati kebenaran. Kedua, manusia hendaklah mampu menjaga lisannya.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta nasihat menasihati supaya tetap mentaati dalam kebenaran. (QS. Al-Ashar : 2-3).
Demikian penegasan Allah akan pentingnya sebuah nasihat bagi setiap muslim baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sedangkan nasihat yang paling nyata ialah kematian. Nabi SAW bersabda : Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan dunia yakni kematian. Cukuplah kematian itu sebagai nasihat bagimu. (HR. Tirmidzi). Kematian merupakan hal mutlak yang pasti akan dihadapi setiap makhluk. Karena itu menghimpun bekal diri sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kematian adalah tugas pokok bagi setiap manusia yang paham akan makna hidup. Nasihat tentang kematian itu memiliki pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya kematian itu mengingatkan akan pentingnya waktu dengan begitu ia akan sadar betul bahwa kehidupan di dunia (betapapun nikmatnya) pasti ditutup dengan kematian.
Maka isilah waktu itu dengan menebar kebaikan (kebajikan). Jadikanlah dunia sebagai ladang untuk menanam, yang buahnya dapat dipetik di akhirat nanti. Tentu saja ladang itu harus ditanami dengan tumbuh-tumbuhan yang berguna dan bermanfaat.
Kesenangan dunia ini hanyalah sebentat dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (QS. An-Nisaa : 77).
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdurrahman bin Auf dan kawan-kawannya ketika masih musyrik, mereka gemar berperang dan sangat pemberani. Tetapi setelah beriman dan hidup mewah, ketika ada seruan agama untuk memerangi kaum musyrikin mereka menolak dengan alasan takut mati, bahkan ketakutan tersebut melebihi takutnya kepada Allah SWT. Maka Abdurrahman dan kawan-kawannya mendatangi Nabi SAW dan berkata: Ya Nabiyyallah! Dulu ketika kami masih di Makkah saat masih musyrik, kami merasa mulya dan pemberani, tetapi setelah kami beriman, kami jadi hina. Nabi menjawab : Dulu ketika masih di Makkah aku diperintah Allah untuk toleran dan dilarang memerangi kaum musyrikin. Dan sekarang setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin diperintah untuk memerangi mereka (berjihad). Tetapi Abdurrahman dan kawan-kawannya menolak berjihad, takut mati yang berarti kenikmatan dunia yang sudah dimiliki akan terputus (putus). Maka Allah menurunkan surat An-Nisaa : 77 sebagai pemberi semangat untuk turun berjihad.
Dalam surat lain Allah berfirman : Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, Kami akan tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun dari akhirat. (QS. As-Syura’ : 20).
Lalu bagaimana dengan lisan? Rasulullah SAW bersabda : Lisan atau lidah bakal disiksa dengan siksaan yang tidak akan menimpah anggota tubuh yang lainnya. Lalu lisan berkata, wahai Tuhanku mengapa Engkau menyiksaku dengan siksaan yang tidak Engkau timpahkan bagi anggota tubuh yang lainnya? lalu dijawab : Dari engkaulah telah terlontar ucapan yang sampai mengguncang ke dunia timur dan barat. Kemudian karena ucapan itu pula terjadi pembunuhan dimana-mana secara haram, perampasan harta, pemerkosaan, dll. Maka demi keagungan-Ku, niscaya Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak Aku timpakan atas anggota tubuh lainnya. (HR. Abu Nu’Aim). Maka langkah terpuji bagi umat Muhammad ialah tunduk dan patuh pada perintah agama, saling menasihati dalam kebenaran serta menjaga lisannya. Jika tidak mampu mengeluarkan ucapan-ucapan yang bermanfaat, lebih baik diam!.
http://himmatunayat.org/read/tebar-kebaikan-jaga-lisanmu.html
Kalau bicara jaga lisanmu, jika menulis jagalah bahasamu
lidahmu adalah pedangmu
mulutmu adalah harimaumu
Ungkapan atau peribahasa diatas seringkali kita dengar sejak zaman kita duduk di bangku sekolah bahkan hingga kini masih terus saja terngiang. Dan ungkapan seperti itu memang seperti wasiat dari orang -orang sebelum kita agar kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan kita.
Tak ada manusia yang sempurna, itu memang benar adanya namun ta ada salahnya kan kalau kita berusaha dalam berkata dan bertindak tidak menyindir atau menyakiti seseorang.
Perselisihan serta pertikaian seringkali kita temui di sekitar kita dan jika teliti lebih dalam persoalan yang mencuat berapa persen terbesar terjadinya akibat salah paham dari omongan-omongan ringan yang secara sadar atau tidak terlontar dari salah satu panca indra kita sendiri yaitu mulut dan lidah.
memang lidah tak bertulang
manis di bibir mengucap kata
syair-syair lagu diatas rasanya cukup mewakili betapa besarnya peran panca indera kita namun fungsinya pun akan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri jika kita sebagai pemiliknya tak pandai menjaganya. Rasanya di tiap titik kehidupan kita tak ada satupun dari ciptaanNya yang tak berfaedah, semuanya saling berhubungan satu dengan yang lain. Sakit sariawan yang kita alami awalnya mungkin cuma diakibatkan pendarahan di gusi namun efek lain yang timbul bisa saja ke tenggorokan, telinga bahkan lidahpun terasa hambar serta bau mulut menjadi tak sedap.
Seiring berkembangnya zaman salah paham serta perselisihan juga acapkali kita temui bukan hanya di dunia nyata namun juga merambah ke dunia maya. Adanya fasilitas jejaring sosial seperti facebook dan twitter memudahkan orang untuk menumpahkan kekesalan, amarah bahkan cacian jika mereka dalam kondisi bad mood, tanpa mereka sadari bahwa di dunia maya mereka bukan hanya terhubung dengan satu dua orang namun seindonesia bahkan seluruh dunia bisa membacanya. Seperti halnya sebuah pisau, fungsi jejaring sosial terkadang malah dijadikan kambing hitam padahal penciptanya sendiri telah bersusah payah menciptakannya untuk memudahkan kita untuk berbagi tapi apakah kita sendiri yang mencirikan diri kita sendiri dengan tulisan kita?
http://filsafat.kompasiana.com/2011/09/27/kalau-bicara-jaga-lisanmu-jika-menulis-jagalah-bahasamu/
Saudariku, Jangan Gunakan Lisanmu untuk Melaknat!
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-jangan-gunakan-lisanmu-untuk-melaknat.html
Jaga Lisanmu
http://almansuroh.wordpress.com/2009/08/01/jaga-lisanmu/
https://www.facebook.com/note.php?note_id=240157059340441
http://saptodjarody.blogspot.com/2012/07/ssst-jaga-lisanmu.html
http://salafy-ums.blogspot.com/2010/11/mengendalikan-lidah-menjaga-lisan.html

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
JANGAN BERDUSTA
Materi NAFAR 1432H (#6). Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadlirat Allah SWT yang telah memberikan kenimatan yang banyak kepada kita. Selanjutnya marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangn-Nya. Diantara perintah A
llah ialah supaya kita berlaku jujur.
. . . .
Jujur adalah sifat yang terpuji, sedangkan berdusta atau bohong adalah sifat yang tercela. Jujur akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Sebaliknya, bohong akan membawa kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menyeret pelakunya ke neraka. Oleh karena itu Allah menyuruh kita supaya berlaku jujur dan menjanjikannya dengan pahala yang besar, sebagaimana firman-Nya :
(70) (71) : 70-71
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (70)
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (71) [QS. Al-Ahzaab : 70-71]
Allah juga menyuruh kita supaya bertaqwa dan berada bersama orang-orang yang benar. Firman Allah SWT :
. : 119
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [QS. At-Taubah : 119]
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, rusaknya dunia ini adalah karena kebohongan. Orang-orang musyrik yang menganggap Allah punya sekutu, punya anak adalah termasuk orang-orang yang berbuat kedustaan dan mereka termasuk orang-orang yang sangat dhalim. Allah SWT berfirman :
. : 17
Maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. [QS. Yuunus : 17]
Dan Allah juga berfirman :
. : 105
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. [QS. An-Nahl : 105]
Dan orang-orang Yahudi dilanat oleh Allah SWT karena mengadakan kebohongan dengan mengatakan Uzair adalah putera Allah. Begitu pula orang-orang Nashrani, mereka mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah putera Allah. Allah SWT berfirman :
(30) (31) :
Orang-orang Yahudi berkata, Uzair itu putra Allah dan orang Nasrani berkata: Al Masih itu putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah : 30-31]
Dan berbohong adalah sifat orang-orang yang munafiq. Firman Allah :
(8) (9) (10) : 8-10
Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (8)
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (9)
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (10) [QS. Al-Baqarah : 8-10]
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, di dalam hadits juga banyak disebutkan pentingnya berbuat jujur dan supaya menjauhi berbuat dusta, diantaranya sebagai berikut :
: : . . . . 4: 2013
Dari Abdullah (bin Masud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah diri kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013]
Rasulullah SAW juga bersabda :
. . 1: 506 : 271
Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara, niscaya aku menjamin surga bagi kalian : 1. Jujurlah apabila kalian berbicara, 2. Sempurnakanlah (janji kalian) apabila kalian berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kalian diberi amanat, 4. Jagalah kemaluan kalian, 5. Tundukkanlah pandangan kalian (dari mashiyat) dan 6. Tahanlah tangan kalian (dari hal yang tidak baik). [HR. Ibnu Hibban, dari 'Ubadah bin Shamit juz 1, hal. 506, no. 271]
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, jujur membawa ketenangan, sedangkan dusta akan menyebabkan kebingungan.
: : : . 4: 77 : 2637 :
Dari Abul Hauraa As-Sadiy, ia berkata : Saya bertanya kepada Al-Hasan bin Ali, Apa yang kau hafal dari Rasulullah SAW ?. Ia menjawab, Aku hafal dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu (berpindahlah) kepada apa-apa yang tidak meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 77, no. 2637, ia berkata : Ini hadits shahih]
Dan Rasulullah SAW bersabda :
. . 1: 14
Tanda kemunafiqan itu ada tiga hal, yaitu : 1. Apabila berbicara ia berdusta, 2. Apabila berjanji menyelisihi dan 3. Apabila diberi amanat ia khianat. [HR. Bukhari, dari Abu Hurairah juz 1, hal. 14]
Di dalam riwayat yang lain disebutkan :
: . . 1: 14
Dari Abdullah bin Amr bahwasanya Nabi SAW bersabda, Ada empat hal barangsiapa yang empat hal itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq yang sebenarnya. Dan barangsiapa ada padanya satu bagian dari yang empat hal itu berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya, yaitu : 1. Apabila diberi amanat ia khianat, 2. Apabila berbicara ia berdusta, 3. Apabila berjanji menyelisihi dan 4. Apabila bertengkar ia curang. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14]
Demikianlah, semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang jujur dan menjaga kita dari berbuat dusta. Aamiin
http://www.mta-online.com/2011/08/25/jangan-berdusta-2/
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/11/21/recentpost/

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat malam, buat anak-anakku dan semua saudaraku.
Terimakasih Salam dan Doanya
Selagi mampu, ada peluang, ada fasilitas, harus ada kemauan untuk mancari langkah-langkah kecil yang besar manfaatnya bagi orang banyak. Semangat terusuntuk berbagi, dengan berbagi
tidak akan mengurangi yang kita punya, malah sebaliknya. Selamat beristirahat berkumpul be
rsama keluarga semoga selalu berada dalam Berkah dan Lindungan dari ALLAH Subhanahu Wa Taala..
STOP MENGGUNJING…!!!
oleh Abu Muhammad Herman pada 24 Oktober 2009 pukul 11:41
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa tabayyun yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988)
Mu’adz radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang menjerumuskan orang ke dalam Neraka adalah hasil ucapan mereka?” (HR. Tirmidzi At-Tirmidzi no. 2616, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)
Allah Ta’ala berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithaar: 10-12)
Ya ikhwan dan akhwat yang saya cintai karena Allah, di antara penyelewengan lidah yang sangat berbahaya adalah ghibah (menggunjing/gosip). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan ta’rif ghibah melalui sabdanya:

“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu!” Lalu beliau melanjutkan, “Yaitu kamu menceritakan saudaramu tentang hal-hal yang (apabila diketahuinya) tidak disukainya.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana kalau yang diceritakan itu memang sesuai dengan kenyataannya?” Beliau menjawab, “Bila apa yang kamu ceritakan itu ada pada saudaramu, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan bila apa yang kamu ceritakan itu tidak ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah mengada-ada tentangnya (memfitnahnya).” [HR. Muslim (no. 2589), Abu Dawud (no. 4874), At-Tirmidzi (no. 1934), Ahmad (2/230), Ad-Darimi (no. 2717)].
Dari hadits tersebut, jelaslah bahwa ghibah adalah menceritakan orang lain tanpa sepengetahuannya tentang sifat dan keadaan yang ada pada dirinya, yang seandainya dia mengetahuinya pastilah dia tidak menyukainya, meskipun sesuai dengan kenyataannya. Tapi apabila apa yang diceritakan itu tidak terdapat dalam dirinya, maka disebut mengada-ada, dan ini jauh lebih besar dosanya daripada ghibah.
Ghibah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, untuk itu maka Islam melarang umatnya melakukannya, terlebih bagi mereka yang menjadi panutan umat di lingkungan tempat tinggal atau lingkungan pergaulan seperti di Facebook ini. Sebab bisa mengakibatkan putusnya tali ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, dan timbulnya gairah untuk terus melakukannya. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujuraat: 12)
Diriwayatkan dari Jabir bin ABdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertiup ANGIN YANG BUSUK BAUNYA, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya segolongan orang MUNAFIK telah melakukan ghibah terhadap orang-orang muslim, sehingga bertiuplah angin busuk ini.” (HR. Ahmad, dan berkata al-Hafizh al-Mundziri bahwa para perawinya tsiqoh)
Tak ada seorang manusia pun selain para rasul yang tidak mempunyai aib. Terkadang aib kita lebih besar dan lebih parah daripada aib orang lain. Semestinya setiap hamba yang beriman senantiasa menyibukkan dirinya sendiri dalam upaya membina pribadi dan perbaikan aib dirinya sendiri. Maka berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri.
Diriwayatkan dari Al-Baro bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang baik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai, orang-orang yang beriman dengan lidahnya, janganlah kalian melakukan ghibah terhadap sesama kaum muslimin dan jangan pula membongkar “aurat” mereka, karena barang siapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka auratnya hingga terbongkar di tengah-tengah rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan Abu Ya’la)
Syaikh Abdullah bin Jaarullah berkata dalam kitabnya Al Bayan fi Aafaati al-Lisan:
“Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya kelak akan diberikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya. Di lain pihak, ada orang lain yang akan mendapatkan keuntungan karena memperoleh pahala amal kebaikan yang datang tanpa diketahuinya.
Dari Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari kiamat, maka dia melihat pahala kebaikan yang tidak pernah dilakukannya waktu di dunia, lalu dia berkata, “Ya Allah, dari manakah semua ini?” Lalu Allah menjawab, “Ini dari orang-orang yang melakukan ghibah terhadapmu tanpa kamu sadari.”
Maka ketika Hasan al-Bashri mendengar ada seseorang yang melakukan ghibah terhadapnya, maka dia lalu mengirim sekantung kurma kepadanya dan berkata, “Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku, maka aku ingin membalas kebaikanmu padaku. Celalah aku, aku tidak mampu membalasmu dengan sempurna.”
Menjauhi Orang-orang yang Suka Ghibah
Ditanyakan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah:
“Saya mempunyai seorang teman yang sering berbicara mencemarkan nama baik orang lain. Saya sering menasihatinya tapi dia tetap tidak mau berubah. Perbuatannya itu sudah menjadi kebiasaannya. Dan kadang-kadang dia melakukannya DENGAN ALASAN NIAT BAIK. Apakah orang seperti dia boleh kita kucilkan?”
Beliau rahimahullah menjawab:
Membicarakan dan mencemarkan nama baik kaum muslimin yang tidak mereka sukai adalah merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk ghibah yang diharamkan bahkan termasuk DOSA BESAR, berdasarkan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujuraat: 12)
Dan juga berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Muslim (sebagaimana telah disebutkan di atas tentang ta’rif ghibah).
Disebutkan dalam sebuah hadits shahih:

:

Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : Ketika aku sedang dimirajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga yang sedang mencakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya : Siapakah mereka wahai Jibril ?. Jibril menjawab : Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatannya [HR. Abu Dawud (no. 4878) dan Ahmad (3/224); dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (3/197) dan Ash-Shahiihah (no. 533)].
Al-’Allamah Ibnu Muflih berkata, “Sanad hadits tersebut shahih.” Beliau berkata, “Dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
“Sesungguhnya termasuk DOSA BESAR adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang hak.” (HR. Abu Dawud no. 4234)
Oleh karena itu wajib bagi anda dan selain anda dari kaum muslimin untuk TIDAK DUDUK-DUDUK DAN BERBINCANG-BINCANG dengan orang yang sedang menggunjing kaum muslimin. Sebaiknya kita harus menasihati dan mengingkari perbuatan tersebut, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya (dengan mengingkarinya di dalam hati), dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 70).
Jika kita tidak sanggup mencegah dan menasihati mereka, maka segeralah kita pergi dan tidak duduk-duduk bersama mereka. Ini termasuk cara mengingkari perbuatan mereka. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan menolong mereka dalam meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
[Al-Fatawa Juz Tsani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah]
Allahumma amin. Semoga bermanfaat untuk saya dan untuk antum sekalian…
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati ‘Uqbah bin ‘Amir ketika dia bertanya tentang keselamatan:
“Peliharalah lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan).
-Sahabatmu-
Abu Muhammad Herman
https://www.facebook.com/notes/abu-muhammad-herman/stop-menggunjing/319364130174
http://maripeduli.blogspot.com/search/label/Akhlaq%20Untuk%20Buah%20Hati


TAGS


-

Author

Follow Me