Ketika seseorang melukai dan menyakti hati kita

11 Oct 2012


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ketika seseorang melukai dan menyakti hati kita, tentunya saat itu timbul rasa marah dalam diri kita. Justru mungkin sempat terpikir untuk membalas perlakuannya.
“Astaghfitullah….”
Dimana ketika timbul amarah dalam diri kita,setan sedang menggoda kita agar kita meluapkan kemarahan kita dengan membalas perlakuanya. Dan tentu inilah yang menjadi ujian dapatkah kita melewatinya?…. menepis semua godaan setan?…. atau justru mengikuti godaannya dengan membalas dengan keburukan juga?Nah, disinilah keimanan kita diuji. Bagaimana kita akan menghadapinya.
Firman Allah s.w.t di dalam Al-Quranul Karim Yang bermaksud :
” Wahai orang-orang yang beriman minta tolonglah kamu dengan sabar dan sembahyang, sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang yang sabar ” (153).
http://lenteradankehidupan.blogspot.com/2012/09/maafkanlah-kesalahannya.html
Kejelekan Dibalas Kebaikan
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
Sahabatku yang dimuliakan Allah azza wa jalla inilah keunggulan orang-orang yang bersabar. Ketika dimarahi, dipukul, diolok-olok sekalipun mereka tetap bersabar dengan mengharap ridho Rabbnya. Ingatlah ketika rasullullah setiap pergi ke masjid untuk shalat dia diludahi, tetapi rasullullah rasullullah sebaliknya dia tetap tersenyum. Cerita ini membuatku terharu dan selalu aku ingat. Maka dari itu saudaraku marilah kita selalu bersabar dalam hal apapun posisi kita. Ini adalah pelajaran penting dalam membangun prinsip kita dengan sangat baik. Sedikit tulisan ini yang ana ambil dari berbagai sumber & semoga tulisan ini juga dapat sedikit mengingatkan kita. Wallahu ‘alam
http://mulz.student.umm.ac.id/2010/02/03/kejelekan-dibalas-kebaikan/
Kejahatan Dibalas Kebaikan
Sobat, siapa makan cabe akan kepedasan, ngemut gula akan kemanisan, mengulum garam akan keasinan, serta mengunyah asam akan kekecutan. Siapa main api kepanasan, main air kebasahan, main minyak wangi kewangian. Pun, dalam tindak tanduk berlaku pula logika serupa, persis seperti ternukil dalam ajaran Islam: In ahsantum ahsantum lianfusikum wain asa’tum falaha, jika engkau berbuat bajik akan berakibat baik padamu, dan bila engkau berbuat buruk akan berakibat buruk pula padamu. Itulah hukum sebab akibat dalam kehidupan, atau dalam istilah Islami nya disebut Sunnatullah bin hukum karma. Bukankah demikian sobat ? Saya rasa sampean sepakat denganku.
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/06/29/kejahatan-dibalas-kebaikan/
Tdak Selamanya ‘Kebaikan Dibalas dengan Keburukan”
Secara kodrati, manusia merupakan makhluk monodualistis artinya selain sebagai makhluk individu, manusia juga berperan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu ‘bekerjasama’ dengan orang lain sehingga tercipta sebuah kehidupan yang damai.
Dalam kehidupan sehari-hari kita berjumpa dengan banyak orang, baik dalam kehidupan di dunia nyata ataupun di dunia maya. Kita menemukan berbagai karakter manusia, berbagai pemikiran, berbagai gaya dan sikap. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pertemuan dengan seseorang yang baru adalah kesempatan yang baik untuk mendapatkan berbagai pelajaran dan pengetahuan baru, karena pada dasarnya manusia itu berbeda dan memiliki keunikannya tersendiri.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/20/tdak-selamanya-%E2%80%98kebaikan-dibalas-dengan-keburukan/
Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan
“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).” (QS. An-Nisa [4]: 36).
http://muhammadassad.wordpress.com/2011/03/04/membalas-kejahatan-dengan-kebaikan/
Kebaikan Akan Menghapuskan Kejelekan
Kebaikan Akan Menghapuskan Kejelekan, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berketurunan di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat, maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.” (HR. Muslim
http://cipto.net/kebaikan-akan-menghapuskan-kejelekan/
Sobat, siapa makan cabe akan kepedasan, ngemut gula akan kemanisan, mengulum garam akan keasinan, serta mengunyah asam akan kekecutan. Siapa main api kepanasan, main air kebasahan, main minyak wangi kewangian. Pun, dalam tindak tanduk berlaku pula logika serupa, persis seperti ternukil dalam ajaran Islam: In ahsantum ahsantum lianfusikum wain asa’tum falaha, jika engkau berbuat bajik akan berakibat baik padamu, dan bila engkau berbuat buruk akan berakibat buruk pula padamu. Itulah hukum sebab akibat dalam kehidupan, atau dalam istilah Islami nya disebut Sunnatullah bin hukum karma. Bukankah demikian sobat ? Saya rasa sampean sepakat denganku.
Namun, meski tak mampu setidaknya kita bisa mencoba sikap pada level yang lebih rendah darinya (membalas kejahatan dengan kebaikan) dengan cara menyikapi kejahatan dengan pemaafan dan kesabaran. Tapi, jika tak mampu lagi, maka cukup menyikapi kejahatan dengan balasan yang setimpal (qishas) yang dilakukan secara tidak berlebihan, sebab Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Sobat, bagaimana pendapat sampean ?***
http://lenteradankehidupan.blogspot.com/2012/09/berpikir-sebelum-bertindak.html
http://dedi5611.blogdetik.com

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Jadilah pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang lembut, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan. Itulah yang ditunjukkan oleh Rasul SAW ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu. Beliau malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa).
http://forum.muslim-menjawab.com/2011/08/25/membalas-keburukan-dengan-kebaikan/
http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/26/membalas-keburukan-dengan-kebaikan/
“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (Asy Syuura : 40)
http://faisalchoir.blogspot.com/2011/06/membalas-keburukan-dengan-kebaikan.html
“Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan” (SQ. Al-Qashash [28]:84)
http://pa-nurulislam.blogspot.com/2011/06/membalas-kejahatan-dengan-kebaikan.html
Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah atau emosi. Apalagi kemudian membalasnya dengan hal yang sebaliknya. Tidak semua orang mampu melakukannya. Sehingga ketika Abdullah bin Amr menanyakan hal apakah yang bisa menjauhkannya dari murka Allah? Rasulullah menjawab: “Laa taghdhab (Janganlah kau marah)” (HR Imam Ahmad)
http://djibran.staff.ipb.ac.id/2011/08/24/membalas-keburukan-dengan-kebaikan-2/
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/09/16/kisah-kasih-ibu/


TAGS


-

Author

Follow Me