KIsah Kasih Ibu

15 Dec 2012

Kisah Kasih Ibu
Minggu, 09 Desember 2012
An-Nawar binti Malik, Ibunda Sang Pencatat Wahyu
Di balik tangan lentik dan kelindaian Zaid bin Tsabit, sang pencatat wahyu menuliskan huruf demi huruf dan ayat demi ayat, terdapat sentuhan lembut penuh dedikasi dan kasih sayang dari ibundanya tercinta, An-Nawar binti Malik.
Ia mendidik Zaid dan menanamkan keislaman kepada buah hatinya itu bersama sang suami, Tsabit bin Zaid. Namun, keutuhan dan kebahagian keluarga kecil mereka tak berlangsung lama.
Pada usia lima tahun, ayahandanya gugur dalam Perang Buats. Perang antara Suku Aus dan Khazraj yang terjadi sebelum peristiwa hijrah berlangsung tersebut, telah merenggut kasih sayang seorang ayah darinya.
Peristiwa ini pun menuntut An-Nawar berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya. Ia tetap tegar mengantarkan anak tercintanya itu menuju kesuksesan.
Bekal kecerdasan dan kecintaan terhadap Islam An-Nawar menguatkan fondasi keimanan Zaid. Ibundanya itu berhasil memosisikan dirinya sebagai madrasah utama. Setapak demi setapak ia menancapkan ilmu ke dalam diri Zaid.
Alhasil, Zaid tumbuh sebagai pribadi yang matang dan berkualitas. Zaid tercatat sebagai pemuda pertama yang memeluk Islam. Ia cerdas dan jenius. Di usianya yang ke-11 tahun, keturunan Bani Khazraj ini mampu menghafal belasan Surah Alquran.
Daya ingatnya cukup kuat. Hanya dalam hitungan hari, tepatnya 17 hari, ia berhasil menguasi bahasa Suryani dan 15 hari untuk penguasaan bahasa Ibrani. Prestasi ini pun, menjadikannya didaulat sebagai sekretaris Rasulullah.
Sentuhan An-Nawar pun telah memoles mentalitas Zaid sebagai seorang Mukmin. Pada usia 13 tahun, Zaid mendaftarkan diri turutserta berperang di Perang Badar. Keberanian yang jarang dimiliki oleh bocah seusianya.
Sontak kehadirannya mengundang perhatian. Tubuhnya yang mungil tak mampu membawa beban pedang dengan ukuran yang melebihi postur badannya.
Keinginan tersebut dihargai oleh Rasulullah, tetapi akhirnya ditolak. Ini lantaran aturan peperangan melarang demikian. Tidak boleh mengikutsertakan anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.
Zaid mendapat penjelasan langsung dari Nabi. Berperang tak cukup bermodal semangat, tetapi kesiapan fisik dan usia juga menentukan. Ia diminta agar sabar menunggu beberapa tahun lagi agar dinyatakan siap berjihad.
Jihad lisan dan pena
Penolakan itu membuat Zaid sangat kecewa. Sambil menangis, ia mengadu kepada ibunya. Rasulullah melarangku berjihad, ujarnya sambil menangis.
Sebagai ibu yang bijaksana, An-Nawar memahami semangat juang anaknya untuk menegakkan Islam. Namun, di sisi lain, pandangan Rasulullah sangat tepat.
Untuk mengobati kekecewaan anaknya, An-Nawar memberikan alternatif perjuangan lain yang bisa dilakukan anak seusianya. Jangan bersedih anakku, jika jihad di medan perang belum boleh dilakukan anak-anak seusiamu, cobalah berjihad dengan cara lain, yakni melalui lisan atau tulisan, katanya.
Usulan tersebut disampaikan bukan tanpa alasan. Sang ibu memahami betul potensi besar yang ada pada anaknya tersebut. Terutama, di bidang retorika dan tulis-menulis.
Sambil menghibur, An-Nawar meyakinkan lagi bahwa Zaid memiliki kelebihan dibandingkan anak-anak seusianya pada masa itu. Engkau menguasai dan menghafal Alquran dengan sempurna, bisa menuliskannya kembali dengan baik, katanya.
Saran ibunya membuat Zaid lega dan menghentikan tangisnya. Ia setuju berjuang di jalan Allah sesuai saran ibunya.
An-Nawar mengajak Zaid menghadap Rasulullah untuk menyampaikan potensi yang dimiliki anaknya yang masih belia.
An-Nawar berkata kepada Nabi, Ya Rasulullah, anak kami Zaid bin Tsabit hafal 17 surah dari Alquran. Ia juga membacanya dengan benar sebagaimana ketika wahyu itu diturunkan kepadamu. Terlebih lagi, ia pandai membaca dan menulis. Ia ingin kemampuannya tersebut bisa dekat dan menetap dengan Rasulullah. Jika engkau berkenan, simaklah bacaannya. Rasulullah mempersilakan Zaid unjuk kebolehan. Ia pun melantunkan ayat-ayat Allah dengan fasih, menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Nabi pun terpukau melihat kehebatan remaja yang pernah ditolaknya untuk ikut berperang ini.
Sebagai penghargaan, Rasulullah memberi amanah kepada Zaid untuk jihad pertamanya, yakni mengkaji Kitab Suci Yahudi, Taurat. Wahai Zaid, pelajarilah kitab Yahudi untukku karena aku tidak bisa membuat mereka beriman kepada apa yang aku katakan kepada mereka.
Warisan ibundanya yang mendidik Zaid untuk bekerja keras membuatnya mudah memahami Kitab Yahudi. Tidak hanya materinya, Zaid pun mempelajari bahasa Ibrani. Misi mempelajari ideologi yang diamanahkan Rasulullah dan mendalami bahasa kaum Yahudi dirampungkannya pada usia 13 tahun. Ia mahir berkomunikasi, membaca, dan menulis dalam bahasa Ibrani seperti penutur aslinya.
Selama Islam berjaya di Madinah, ia diangkat sebagai penerjemah bagi pemerintahan Islam di Madinah, penulis wahyu, penulis surat, peserta perundingan antara kabilah atau negara asing dengan negara Islam Madinah. Zaid menekuni jihad masa mudanya ini sesuai amanah Rasulullah hingga masa kenabian berakhir.
Peran Zaid terhadap Islam tidak hanya di zaman Rasulullah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab, Zaid mendapat amanah untuk mengodifikasikan Alquran. Kamu adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan itu, kata Abu Bakar.
Selain mendalami Alquran, Zaid dikenal pula sebagai pakar hadis. Ia meriwayatkan 92 hadis. Di antaranya, tentang hukum warisan (faraidh).

dikutip dari fiqhislam.com
Diposkan oleh adnan di 00:56 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Jumat, 07 Desember 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Kasih Ibu Tidak Pernah Sederhana
Di Glasgow, Skotlandia, seorang wanita muda, seperti kebanyakan remaja masa kini, merasa bosan tinggal di rumah dan muak dengan larangan-larangan orangtuanya.
Hingga suatu hari ia berteriak marah, Aku tak tahan lagi. Aku mau pergi!
Ia pun pergi, memutuskan untuk menaklukkan dunia. Namun, tak lama kemudian, ia berkecil hati karena tak mampu mendapat pekerjaan. Ia pun turun ke jalan dan menjadi tuna wisma.
Tahun-tahun berlalu, ayahnya meninggal, ibunya pun bertambah tua, dan ia semakin terjerumus dalam dunia barunya. Ia tak pernah berusaha mencari ibunya. Sedangkan sang Ibu, ketika mendengar di mana anaknya berada, ia pergi ke bagian kumuh kota itu untuk mencarinya. Ia berhenti di setiap rumah penampungan dengan permintaan sederhana.
Bolehkah saya memasang foto ini? Foto sang Ibu dengan rambut putih beruban, yang tersenyum dengan pesan tulisan tangan di bawahnya: Ibu masih sayang padamu. Pulanglah.
Beberapa bulan berlalu. Hingga suatu hari si anak masuk ke tempat penampungan untuk makan. Ia duduk melamun sementara matanya berkelana di papan pengumuman. Di sana ia melihat sebuah foto dan bepikir,
mungkinkah itu ibuku?
Setengah berlari, dihampirinya foto itu. Setelah beberapa detik mengamati tanpa suara, ia menangis. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Waktu itu sudah malam, tapi ia begitu tersentuh oleh pesan itu sehingga ia mulai berjalan pulang. Saat ia tiba, hari sudah pagi. Ia berjalan dengan takut-takut, tak begitu tahu apa yang harus dilakukannya. Saat ia mengetuk, pintunya terbuka sendiri. Pikirnya, pastilah ada seseorang yang menyelundup ke dalam rumah.
Sambil mencemaskan keselamatan ibunya, wanita muda itu berlari ke kamar ibunya dan mendapatinya masih tidur. Ia mengguncang tubuh ibunya, membangunkannya, dan berkata, Ini aku! Ini aku! Aku pulang!
Sang Ibu menangis bahagia dan memeluk anaknya. Aku cemas sekali, Ibu! Pintunya terbuka dan kusangka ada pencuri masuk! kata wanita muda itu.
Sang Ibu menyahut dengan lembut, Tidak, sayang. Sejak kau pergi, pintu itu tak pernah terkunci.
Kasih ibu tidak pernah sederhana. Kasih ibu amatlah rumit, hingga tak akan bisa dijelaskan oleh kata-kata. Dan teramat mewah, hingga tak akan bisa tergantikan atau terbayar oleh apapun.
Seperti lingkaran, kasih ibu tak berawal dan tak berakhir.

dikutip dari zoom-indonesia.com
Diposkan oleh adnan di 20:09 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Senin, 03 Desember 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Kisah Ibunda Rasulullah S.A.W, Aminah Binti Wahab
Aminah binti Wahab adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi umat Islam. Aminah menikah dengan Abdullah. Tidak terdapat keterangan mengenai lahirnya beliau, dan menurut sejarah ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Nabi Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.
KELAHIRAN
Aminah dilahirkan di Mekkah. Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay.
PEMIMPIN PARA IBU
Bunda Aminah adalah pemimpin para ibu, karena ia ibu Nabi Muhammad SAW yang dipilih Allah SWT sebagai Rasul pembawa risalah untuk umat manusia hingga akhir zaman. Baginda Muhammadlah penyeru kebenaran dan keadilan serta kebaikan berupa agama Islam.
Dan barangsiapa memilih agama selain Islam, maka tiadalah diterima (agama itu) darinya. Dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85)
Tak banyak sejarawan yang mengupas masa hidupnya, namun nama ini senantiasa semerbak bersama hembusan angin keindahan. Perjalanannya yang indah nan suci telah mengukir perubahan besar perputaran zaman. Siapa yang tak kenal Bani Hasyim; karena dari kabilah inilah Nabi SAW dilahirkan. Siapa pula yang tak kenal Bani Zuhrah; sebuah kabilah yang pernah menyimpan wanita suci dan mulia, karena dari rahimnya lahir sebuah cahaya agung yang membawa pembaharuan besar di dunia ini, Aminah binti Wahab Ibunda Rasululllah SAW.
Mungkin sulit untuk diketahui kapan dan bagaimana kelahiran serta kehidupan Sayyidah Aminah sampai menjelang masa perkawinannya dengan Sayyid Abdullah, karena para sejarawan tidak banyak menceritakan masalah ini. Namun yang jelas Wanita Arab waktu itu terbagi menjadi dua kelompok:
Kelompok pertama, adalah wanita yang dikenal oleh kaum pria dan mereka pun mengenal kaum pria. Wanita semacam ini biasanya mempunyai keahlian dalam beberapa pekerjaan dan mereka pulalah yang memberi semangat kaum lelaki di saat terjadi peperangan. Para pemuda yang menikah dengan wanita semacam ini biasanya disebabkan melihat dan mendengar secara langsung.
Kelompok kedua, adalah para wanita yang tidak dikenal oleh kaum pria dan mereka pun tidak mengenalnya selain kaum lelaki dari keluarga dekatnya sendiri. Para Pemuda Arab yang meminang wanita semacam ini disebabkan kemuliaan dan iffahnya (kesucian). Wanita semacam ini senantiasa menerima pujian dan sanjungan di setiap masa.
Perumpamaan wanita semacam ini di mata manusia tak bisa disamakan, kecuali dengan mutiara yang tersimpan sehingga tidak sembarangan orang dapat mengotorinya. Tak seorang pun mampu mengusik kemuliaan dan iffahnya, dari wanita semacam inilah bunga mawar Bani Zuhrah, Aminah binti Wahab.
Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah.
Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa Allah Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang Rasul mulia dan Nabi yang terakhir.
Berkatalah Baginda Nabi Muhammad SAW tentang nasabnya:
Allah telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.
Dengarlah sabdanya lagi:
Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.
Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang Rasul atau Nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Karena risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi umat manusia.
Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini:
Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.
Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad SAW yaitu:
Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.
Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fisikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.
Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah Bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Mekkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.
CAHAYA DI DAHI
Allah memilih Aminah Si Bunga Quraisy sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fathimah binti Murr, Laila Al-Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.
Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah –yang waktu itu sebagai pemimpin Bani Zuhrah– untuk dinikahkan dengan Aminah.
Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Mekkah. Paling memukau dan paling terkenal di Mekkah. Tak heran, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Mekkah yang patah hati.
Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya.
Apa jawab Ruqayah:
Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.
Fathimah binti Murr yang ditanyai juga berkata:
Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, karena itu aku ingin memilikimu. Namun Allah tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila Al-Adawiyah:
Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu karena itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengawini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.
Memang cahaya itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad SAW merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapaknya. Kelahirannya sebagai kabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam.
Dari suara ghaib ia mendengar:
Engkau sedang mengandung pemimpin umat.
Masyarakat di Mekkah selalu membicarakan, kedatangan Nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendeta Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim (as) seperti disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 129.
Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang Rasul dari kalangan mereka.
Dan terwujudlah kabar gembira dari Nabi Isa (as), seperti tersebut dalam Surah Ash-Shaff ayat 6:
Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad).
Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya yang keluar dari dirinya serta menerangi istana-istana Syam itu.
SEBAB PERKAWINAN SAYYIDAH
Para sejarawan dan ahli hadits telah meninggalkan kisah berharga tentang sebab musabab perkawinan Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah. Ini telah membuktikan bahwa keluarga Abdul Muthalib tidak akan mengawinkan anaknya kecuali berdasarkan kemuliaan.
Ibnu Saad, Thabrani, dan Abu Naim meriwayatkan bahwa Abdul Muthalib bercerita:
“Suatu saat kami sampai di negara Yaman saat perjalanan musim dingin, kami bertemu dengan seorang penganut kitab Zabur (Pendeta Yahudi) dia bertanya: “Kamu dari kabilah mana? Aku menjawab: “Dari Quraisy”. Dari Quraisy mana? Kujawab: Bani Hasyim! Kemudian Pendeta itu berkata: Bolehkah aku melihat salah satu anggota tubuhmu? Boleh saja asal bukan aurat?. Kemudian Pendeta itu melihat kedua tanganku dan berkata: “Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu terdapat Malaikat dan tangan yang satunya terdapat Kenabian, dan aku melihat hal ini pada Bani Zuhrah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku menjawab: Tidak tahu?. Kemudian dia bertanya lagi: Apakah kamu mempunyai syaah? Apakah syaah itu? Tanyaku. Istri! Jawabnya. Kalau sekarang aku tidak beristri? Ujar Abdul Muthalib. Kemudian Pendeta itu berkata: “Kalau engkau pulang kawinlah dengan salah satu wanita dari mereka? Setelah pulang ke Mekkah Abdul Muthalib kawin dengan Hallah binti Uhaib bin Abdul Manaf. Dan mengawinkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab. Setelah itu orang-orang Quraisy berkata: “Abdullah lebih beruntung dari Ayahnya?
Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Syihab, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah lelaki yang tampan. Suatu saat dia keluar ke tempat wanita-wanita Quraisy, salah satu dari mereka berkata:
“Apakah di antara kalian ada yang mau kawin dengan pemuda ini? sehingga nanti kejatuhan cahaya, karena aku melihat cahaya di antara kedua belah matanya?
Zubair bin Bakar meriwayatkan, bahwa seorang paranormal wanita yang bernama Saudah binti Zuhrah bin Kilab berkata pada orang-orang Bani Zuhrah:
“Sesungguhnya di antara kalian terdapat seorang gadis yang akan melahirkan seorang Nabi, maka perlihatkanlah gadis-gadis kalian kepadaku”. Kemudian para gadis Bani Zuhrah diperlihatkan satu per satu, hingga pada giliran Aminah. Di saat dia melihat Aminah, dia berkata: “Inilah wanita yang akan melahirkan seorang Nabi.
Demikianlah keadaan gadis Bani Zuhrah ini, dia hanya berada di dalam rumahnya, bergaul dengan keluarga dekatnya. Karena dia hanya merasakan ketentraman dan kedamaian dengan rasa malu dan sifat iffah yang dimilikinya.
Akhirnya timbul dalam ingatan Abdul Muthalib kejadian-kejadian yang dialami saat pergi ke Yaman tentang Bani Zuhrah. Maka timbullah niat mulianya. Maka dia bersama anaknya Abdullah bergegas menuju rumah keluarga Bani Zuhrah untuk menjalin kekeluargaan. Bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab dan dia sendiri pun kawin dengan saudara sepupu Aminah yaitu Hajjaj binti Uhaib.
RUMAH BARU
Maka dapat dibayangkan betapa bahagianya penduduk Quraisy menyaksikan perkawinan indah dari dua keluarga mulia itu. Terutama kedua mempelai, terpancar dari keduanya wajah yang berseri-seri. Harapan masa depan cerah menyinari perasaan keduanya. Setelah dilangsungkan pesta pernikahan, Abdullah tinggal di rumah Aminah selama tiga hari sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu. Kemudian dia pulang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan sekuntum mawar dari Bani Zuhrah yang akan dibawa oleh keluarganya untuk menempati rumah barunya.
Rumah baru itu adalah rumah kecil dan sederhana yang disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 m serta lebar 6 m yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.
Aminah melangkah menatap rumahnya dengan tatapan perpisahan namun hatinya bahagia diliputi harapan kehidupan baru. Kemudian dia berangkat bersama orang-orang yang mengantarnya, dengan mengenakan gaun pengantin Aminah dan rombongan disambut oleh keluarga Abdullah. Pengantar lelaki masuk dan berkumpul di serambi sedangkan pengantar wanita memasuki ruangan pengantin. Pesta meriah dan sederhana pun dilaksanakan. Setelah walimah ala kadarnya para pengantar dan penyambut membubarkan diri, maka tinggallah dua mempelai yang dipenuhi rasa damai dan bahagia dengan dipenuhi seribu harapan di masa depan.
KEHAMILAN
Tidak lama dari masa perkawinannya yang indah, Aminah mendapatkan berita gembira kehamilan dirinya yang berbeda dengan wanita pada umumnya. Dia dapatkan berita itu melalui mimpi-mimpi yang menakjubkan, bahwa dia telah mengandung makhluk yang paling mulia. Mimpinya itu, seolah-olah ia melihat sinar yang terang-benderang mengelilingi dirinya. Ia juga seolah-olah melihat istana-istana di Bashrah dan Syam. Seolah-olah dia juga mendengar suara yang ditujukan kepadanya: Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!
Dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata:
Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku. Apakah engkau merasa hamil? Aku menjawab: Tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya Dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad? Aminah berkata: Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan? Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki?
Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: Gantunglah besi di lengan dan lehermu? Kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.
PERPISAHAN
Belum lama sepasang suami istri itu melalui hari-hari bahagianya dengan segala duka-cita, rasa cinta semakin menyatu, kini keduanya harus rela untuk berpisah. Pasalnya, Abdul Muthalib telah menyiapkan sebuah kafilah yang harus dipimpin oleh anaknya yang baru kemarin merasakan manisnya kebahagiaan bersama istri untuk berniaga ke negeri Syam.
Tak ada alasan bagi pemuda seperti Abdullah untuk menolak perintah sang ayah yang sangat menyayanginya, meski hatinya tidak rela meninggalkan Aminah yang sedang hamil muda, terlebih lagi masa-masa itu adalah masa bulan madu bagi keduanya. Kegembiraan yang baru saja meluap dengan kehamilan istrinya, kini serta merta menjadi kesedihan yang cukup dalam karena ia harus segera bergabung dengan kafilah Quraisy untuk melakukan perdagangan ke Gaza dan Syam. Entah kenapa kali ini ia merasa amat berat meninggalkan rumah. Biasanya ia berangkat berdagang dengan semangat yang tinggi. Kali ini sepertinya ia telah mempunyai firasat, pergi bukan untuk kembali. Namun pergi untuk selama-lamanya dari pangkuan istrinya yang tercinta. Namun kegalauan hatinya tidak disampaikannya kepada Aminah. Ia takut kegalaluan hatinya akan merisaukan hati Aminah, sehingga akan mengganggu janin dalam kandungannya.
Detik-detik perpisahan pun tiba. Beberapa penduduk Quraisy telah bersiap-siap untuk berangkat. Masing-masing dari mereka sibuk mengurusi barang dagangan yang akan dibawa. Bani Hasyim juga tak ketinggalan mempersiapkan segala keperluannya, namun di balik itu dua insan yang telah bersatu dalam kedamaian harus berpisah setelah mereguk madu kebahagiaan.
Semerbak wangi parfum pengantin masih tercium di rumahnya, jari-jemari tangan Aminah pun masih terlihat kemerah-merahan lantaran ukiran pacar masih ada di tangannya. Tak ada yang tahu apa yang dilakukan dan dibicarakan keduanya, dalam detik-detik itu, tapi yang jelas keduanya harus rela merasakan pedihnya perpisahan setelah keindahan menyentuh sanubari mereka.
Akhirnya Abdullah tetap pergi meski dengan hati yang tertambat di rumah. Hatinya begitu sedih, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipi. Air mata perpisahan.
Sungguh … Allah saja yang mengetahui, apakah suami istri itu akan berjumpa lagi atau tidak. Hanya saja mereka berdua merasakan bahwa saat itu hati keduanya sama-sama tidak menentu. Abdullah dengan langkah gontai tapi pasti keluar dari rumah sederhananya yang diikuti Aminah. Di depan rumahnya Abdullah meninggalkan Aminah yang melepasnya dengan penuh harap, beberapa kalimat diucapkan untuk menenangkan hati di antara keduanya. Padahal di balik itu keduanya tidak menyadari kalau itu adalah pertemuan terakhir.
Setelah Abdullah keluar dan bergabung dengan rombongannya tinggallah Aminah bersama dua orang wanita Bani Hasyim dan Bani Zuhrah yang rela menemaninya selama Abdullah belum pulang. Keduanya memandang Aminah dengan pandangan iba, lantaran harus merasakan kesendirian, padahal keduanya tidak tahu masa depan Aminah.
KISAH KEPERGIAN ABDULLAH telah ditulis oleh para sejarawan.
Ibnu Saad menceritakan:
Abdullah bersama rombongan orang-orang Quraisy berangkat ke Syam untuk berniaga. Setelah selesai berniaga mereka pulang melewati kota Madinah dan waktu itu Abdullah sakit, kemudian Abdullah meminta agar meninggalkannya bersama kerabatnya dari Bani Najjar selama satu bulan. Setelah rombongan sampai di Mekkah Abdul Muthalib menanyakan keadaan Abdullah pada mereka.
Mereka menjawab:
Kami meninggalkannya bersama kerabat-kerabat Bani Najjar di Madinah karena dia sakit.
Setelah itu Abdul Muthalib mengutus anak tertuanya Al-Harits untuk menjemputnya, setelah sampai di sana Abdullah sudah dikubur. Mengetahui semua itu Abdul Muthalib dan seluruh keluarganya mengalami kesedihan yang luar biasa. Bukan hanya kesedihan karena kehilangan Abdullah yang mereka sayangi, namun lebih dari itu Abdullah telah meninggalkan kesedihan dalam jiwa seorang wanita Bani Zuhrah yang saat itu sedang hamil tua.
Tidak dapat dibayangkan! Aminah, sebagai seorang istri yang baru merasakan kasih sayang seorang suami dan menunggu kelahiran buah hati pertamanya. Aminah sangat sedih dan merana dengan perpisahan yang tidak bisa diharapkan lagi pertemuannya. Penantian dan kerinduan yang selama ini ia pendam ternyata tidak tertumpahkan. Belum lama ia mengecap kebahagiaan bersama suami yang dicintainya, kini ia telah ditinggalkan untuk selama-lamanya. Tidak dapat diungkapkan bagaimana kesedihan Aminah, seperti sejarah pun tidak sanggup mencatat kepiluannya kecuali dengan apa yang diungkapkan Aminah berupa bait-bait kesedihan.
MIMPI DI WAKTU HAMIL
Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah SAW, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabiul Awwal.
Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar.
Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah.
Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.
Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mujizat yang besar.
Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar.
Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul.
Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Quran yang diridhai.
Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah SAW lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab: Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.
MALAM YANG SANGAT DINANTIKAN ALAM
Hingga pada detik detik kelahiran Sucinya, Sayyidah Aminah tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan. Malam yang menggembirakan bagi semesta telah tiba, inilah malam lahirnya sang Nabi Suci Paripurna yang kedatangannya dinantikan seluruh mahluk.
Dalam kesendirian mendekati saat kelahiran, Allah SWT mengutus 4 orang wanita Agung yang membantu persalinan Nabi Suci SAW. Mereka Adalah Siti Hawa, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Ibunda Nabi Isa (as), Maryam. Kelak ke-4 wanita agung ini yang akan pula menemani Sayyidah Khadijah Al-Kubr At-Thahirah dalam prosesi kelahiran Az-Zahra A-Mardhiyah Ummu Aimmah (as).
Siti Hawa berkata kepada Sayyidah Aminah:
… Sungguh beruntung engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Al-Musthafa SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini Hawa, ibunda seluruh umat manusia, Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu..
Selang tak lama kemudian hadirlah Siti Sarah istri Nabi Ibrahim (as). Beliau berkata:
… Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber ilmunya para Nabi dan para kekasih-Nya. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Sarah istri Nabiyullah Ibrahim (as), aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.
Wanita ketiga pun hadir dalam harum semerbak seraya berkata:
… Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, kekasih Allah yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh mahluk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWTuntuk menemanimu..
Dan Wanita keempat pun hadir dengan tampilan kecantikan luar biasa serta berwibawa. Dia adalah Siti Maryam, ibunda Nabi Isa (as), ia berkata kepada Sayyidah Aminah:
… Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW yang dianugerahi Allah SWT mujizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk shalawat Allah SWT dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Isa (as). Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Nabi Suci Al-Musthafa SAW.
Allah SWT berfirman kepada Malaikat Jibril Al-Amin:
Wahai Jibril Serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, Rasul dan para Wali agar berbaris rapi menyambut kehadiran kekasih-Ku Al-Musthafa SAW. Wahai Jibril, Bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurab dan Al-Wishal kepada kekasih-Ku yang memiliki maqam luhur di sisi-Ku. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Ridwan agar membuka seluruh pintu surga.. Wahai Jibril pakailah olehmu Haullah Ar-Ridwan (Pakaian agung yang meliputi keagungan Allah SWT) demi menyambut kekasih-Ku Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat Muqarrabin, Karubbiyyin, Para Malaikat yang selalu mengelilingi Arsy-Ku demi menyambut kedatangan kekasih-Ku SAW. Wahai Jibril, kumandangkanlah seruan ke penjuru langit hingga lapis ketujuh dan ke segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakanlah kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya sekarang adalah saatnya kedatangan Nabi Akhir Zaman, Muhammad Al-Musthafa SAW.
Perintah Allah SWT ini segera di laksanakan Malaikat Mulia Al-Amin hingga di semesta terliputi pedaran cahaya Agung kemilauan dari sayap-sayap mereka. Persaksian tidak kalah hebat dialami Ummu Agung Sayyidah Aminah binti Wahab yang dengan izin Allah SWT beliau diperkenankan melihat seluruh penjuru bumi, dari mulai Syria hingga Palestina.
Seorang Ulama dalam kitab Maulid Ad-Dibai, Syeikh Abdurahman Ad-Dibai hal. 192-193 meredaksikan:
Sesungguhnya saat malam kelahiran Nabi Suci Muhammad SAW, Arsy seketika bergetar hebat nan luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, Kursi Allah bertambah kewibawaan dan keagungannya dan seluruh langit dipenuhi cahaya bersinar terang dan para malaikat seluruhnya bergemuruh mengucapkan pujian kepada Allah SWT.
PARA MALAIKAT BERTAHLIL
Hari-hari Aminah lalui dengan kesedihan dan kesendirian. Hanyalah Munajat kepada sang Pencipta yang dia ucapkan dari bibir dan hatinya. Begitulah Aminah mengisi hari-hari menunggu kelahiran anaknya, tanpa kasih sayang seorang ayah. Entah berapa tetes Air mata yang mengalir di wajah suci Aminah ketika dia mengingat calon bayinya tersebut.
Takdir Allah memang tidak bisa ditolak, ketentuannya tak bisa digugat, Maha Besar Allah dengan kehendak dan kekuasaannya yang menghendaki Manusia mulia dan suci keluar dari rahim Aminah. Detik-detik kelahiran anak Aminah ini sangat istimewa. Betapa tidak!! Di malam itu Aminah didatangi wanita-wanita suci penghuni surga seperti Maryam dan Asyiah, dengan didampingi ribuan bidadari yang mengabarkan kepadanya, bahwa sebentar lagi akan keluar dari rahim sucinya seorang bayi mungil yang lucu nan suci, pemuka dari para Nabi dan kekasih Tuhan alam semesta.
Para Malaikat bertahlil dan bertasbih menyaksikan cahaya indah yang akan lahir di malam itu, maka lahirlah Rasulullah SAW dari rahim Aminah. Tak perlu diungkapkan bagaimana proses keagungan kelahiran Rasulullah secara mendetail.
Sebab para sejarawan telah menulis dengan panjang lebar kejadian ini. Yang jelas Aminah sangat merasa bahagia dengan kelahiran anaknya ini, kepiluan, kesedihan, kesendirian dan kesepian kini telah sirna, yang ada hanyalah kebahagian dan kedamaian yang mengisi hari-hari Aminah setelah kelahiran anaknya.
Kelahiran Rasulullah SAW bak setetes embun pagi yang menetes di sanubari Aminah. Bahkan bukan bagi Aminah saja namun bagi penghuni alam semesta. Betapa banyak makhluk Allah yang berharap merawat dan menatap wajahnya, para Malaikat dan bahkan hewan-hewanpun berebut untuk merawatnya. Namun takdir Allah menentukan hanyalah Aminah yang mendapat kemuliaan tersebut.
MUNCUL KEANEHAN SAAT SAYYIDAH AMINAH MELAHIRKAN
Berbagai keanehan terjadi mengiringi kelahiran Rasulullah SAW. Di antara keanehan yang bersifat ghaib adalah: Tertutupnya pintu langit untuk para jin dan iblis. Sebelum Aminah melahirkan, jin dan iblis bebas naik turun ke langit, untuk mencuri pembicaraan malaikat. Namun sejak lahirnya manusia paling sempurna di dunia ini, pintu langit tertutup untuk syaitan yang terkutuk.
Ada juga sebagian riwayat yang mengemukakan bahwa Aminah melahirkan bayinya sudah dalam keadaan dikhitan. Sedangkan Aminah sama sekali tidak mendapatkan nifas, setelah melahirkan. Keanehan lain juga sempat disaksikan oleh Aminah sendiri.
Kata Aminah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad:
Setelah bayiku keluar, aku melihat cahaya yang keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam! Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.
Beberapa bukti kerasulan, bertepatan dengan kelahiran beliau, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra dan padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar istana Buhairah. Setelah itu, gereja-gereja tersebut amblas ke tanah. Demikian diriwayatkan dari Al-Baihaqi.
Setelah melahirkannya, dia menyuruh orang untuk memberitahukan kepada mertuanya tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muthalib dengan perasaan sukacita kemudian menggendong cucunya yang baru lahir dan membawanya ke Kabah seraya bersyukur dan berdoa kepada-Nya. Ia memilihkan nama Muhammad bagi cucunya. Nama yang sama sekali belum dikenal di kalangan Arab.
WAFATNYA
Menurut adat Arab, setiap tahun Aminah pergi menziarahi ke pusara suaminya dekat kota Madinah itu. Setelah Rasulullah SAW dikembalikan oleh Halimah, tidak berapa lama kemudian, pergilah Aminah berziarah ke pusara suaminya itu bersama dengan anaknya (Muhammad SAW) yang masih dalam pangkuan, juga dengan budak pusaka ayahnya, seorang perempuan bernama Ummu Aiman.
Tetapi di dalam perjalanan pulang, Aminah ditimpa demam, lalu dia menemui ajalnya. Dia meninggal dan jenazahnya dikuburkan di Al-Abwa’, suatu dusun di antara kota Madinah dengan Mekkah. Muhammad kecil lalu dibawa dalam gendongan Ummu Aiman balik ke Mekkah.
Kemudian Muhammad kecil diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Berkata Ibnu Ishak:
“Maka adalah Rasulullah SAW itu hidup di dalam asuhan kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim. Kakeknya itu mempunyai suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka’bah. Anak-anaknya semuanya duduk di sekeliling hamparan itu. Kalau dia belum datang, tidak ada seorang pun anak- anaknya yang berani duduk dekat, lantaran amat hormat kepada orang tua itu. Maka datanglah Rasulullah SAW, ketika itu dia masih kanak-kanak, dia duduk saja di atas hamparan itu. Maka datang pulalah anak-anak kakeknya itu hendak mengambil tangannya menyuruhnya mundur. Demi terlihat oleh Abdul Muthalib, dia pun berkata: “Biarkan saja cucuku ini berbuat sekehendaknya. Demi Allah sesungguhnya dia kelak akan mempunyai kedudukan penting.’ Lalu anak itu didudukkannya di dekatnya, dibarut-barutnya punggungnya dengan tangannya, disenangkannya hati anak itu dan dibiarkannya apa yang diperbuatnya.”
Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata:
Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.
Diriwayatkan oleh Aisyah (ra) dengan katanya:
Rasulullah SAW memimpin kami dalam melaksanakan haji wada. Kemudian baginda mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya.
Betapa harumnya nama Sayyidah Aminah, dan betapa kekal namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung, sebagai ibu Baginda Muhammad SAW manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para Nabi, dan sebagai Rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung Rasul yang mulia. Semoga Allah memberkahinya.

dikutip dari http://hamdanisekumpul.blogspot.com
Diposkan oleh adnan di 02:28 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Selasa, 27 November 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Subhanallah, Janin Ini Berbicara pada Ibunya
Pada waktu itu, Sayidah Khadijah as, istri Nabi Muhammad Saw sedang mengandung Sayidah Fathimah az-Zahra as. Sayidah Khadijah as merasakan bahwa janin yang berada dalam kandungannya berbeda dengan anak-anak yang lain. Itu karena janin dalam kandungannya itu berbicara dengannya.
Sayidah Khadijah as menanti bayinya terlahir ke dunia dengan tidak sabar. Sayidah Khadijah as ingin segera memberikan kabar gembira kelahiran bayinya kepada Nabi Muhammad Saw, suami tercintanya. Menurut Sayidah Khadijah as, kelahiran anak penuh berkah ini pasti menggembirakan suaminya.
Tapi dalam penantian ini, janin yang berada dalam kandungannya berbicara dengan ibunya. Janin itu meminta ibunya agar bersabar dan dengan pikiran yang tenang menanti proses masa mengandungnya selesai dan waktu lahirnya ke dunia tiba.
Sayidah Khadijah as menyembunyikan masalah ini dari suaminya. Beliau tidak memberi tahu suaminya bahwa anak yang sedang berada di dalam kandungannya berbicara kepadanya. Tapi suatu hari ketika Nabi Muhammad Saw masuk ke rumah dan mendengar Sayidah Khadijah as tengah berbicara dengan bayinya, Nabi Saw berkata, “Wahai Khadijah! Engkau sedang berbicara dengan siapa?”
Sayidah Khadijah as menjawab, “Dengan janin yang berada di dalam perutku. Ia menjadi teman akrabku selama ini. Ia memintaku sebagai ibunya agar bersabar menanti kelahirannya.”
Nabi Muhammad Saw berkata, “Wahai Khadijah! Jibril as mengabarkan kepadaku bahwa janin yang ada dalam perutmu itu perempuan. Dari keturunannya akan lahir anak-anak saleh dan penuh berkah. Allah Swt berkehendak akan lahir dari keturunannya yang menjadi Imam dan pemimpin umatku serta menjadi pembimbing dan penolong umatku.”

dikutip dari republika.co.id
Diposkan oleh adnan di 21:15 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Senin, 26 November 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Sebuah Surat Cinta Untuk Para Ibu
Untuk ibu-ibu tangguh yang berjuang sendiri menjadi tulang punggung keluarga dan menanggung biaya hidup anak-anaknya. Ibu-ibu janda, miskin, atau mereka yang punya suami tapi suaminya tidak bisa bekerja lagi, hingga ialah yang harus memeras keringat menghidupi keluarga..
untuk ibu-ibu yang mendidik anak-anaknya dengan agama, mengajarkan sunnah Nabi dan memberi petunjuk tentang apa-apa yang bermanfaat bagi anak-anak meraka..
Salam dan pengormatan buat para ibu yang mengambil peran dan memilih sebagai IBU rumah tangga, yang mengesampingkan profesi-profesi lainya, karena kemulian hatinya mau mengubur mimpi-mimpinya demi si buah hatinya tercinta.sunggguh sebuah pengorbanan yang tak terkira dan ia meyakinii bahwa itulah peran yang termulia dalam hidupnya..
Salut dan bangga buat para IBU yang berprofesi dalam segala bidang, menekuni pekerjaan yang mulia, sebagai pegawai, karyawan, manajer, perawat, petani, pedagang, dokter, pejabat, pemulung sekalipun, ataupun yang menjadi pemimpin, dan lain-lain sebagainya, yang dalam kesibukannya ia tak melupakan perannya sebagai IBU RUMAH TANGGA, perannya dalam mendidik anak-anaknya, memberikan perhatian dan kasih sayang yang melimpah kepada anak-anaknya
Salam penghormatan untuk para ibu yang melahirkan dan mendidik para pahlawan, dan mencetak laki-laki yang terhormat, melahirkan para pemberani, yang melahirkan para pejuang dijalan ALLAH.
Untuk ibu-ibu yang mendidik anak-anaknya penuh cinta dan kelembutan
Salam penghormatan untuk para ibu yang telah menanamkan dalam diri putra- putrinya rasa cinta kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
Untuk para ibu yang kekurangan dan yang terbatas oleh kondisi fisik, cacat dan sakit namun tidak menghalanginya untuk menebar cinta kasih kepada anaknya.
Untuk segenap ibu yang menafkahkan dan menghidupi anak-anaknya dengan membanting tulang, memerah keringat dan menekuni segala profesi asal halal..
Untuk segenap para ibu yang memberikan ASI eklusif kepada anak-anaknya ketimbang memberikan susu formula..karena ASI adalah simbol awal ikatan ibu dengan anaknya.
Untuk para ibu yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kebanaran dan kejujuran kepada anak-anaknya dan menjadi sekolah pertama yang dihadapi oleh anak-anaknya.
Untuk para Ibu yang membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran.
Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:
Ibu..engkaulah: perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.
Ibu..engkaulah: padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.
Ibu..engkaulah: kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.
Ibu..engkaulah: makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.
Ibu..engkaulah: teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.
Ibu..engkaulah: sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.
Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup untuk menghitung keutamaan ibu serta semua haknya untuk mendapatkan penghormatan, pemuliaan, perlakuan baik dan pengabdian.
Sungguh walaupun kita menulis ribuan halaman untuk mengungkapkan pujian dan sanjungan kita terhadap ibu, dan mencoba untuk menuliskannya dengan tinta darah sekalipun, sungguh itupun tidak akan cukup dan tidak akan bisa membalas jasa-jasa ibu kita
Dan cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasull yang menjadi saksi akan utama dan agungnya peran sang Ibu.

dikutip dari http://ahmadkhan.blogdetik.com dengan sedikit penyesuaian
Diposkan oleh adnan di 02:01 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Kamis, 15 November 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Do’a dan Dzikir Cinta untuk Ibunda

Di beberapa literatur Islam, banyak kita temukan sumber yang membahas tentang sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Kesepuluh sahabat itu semuanya laki-laki. Kisah-kisah mereka tersebar di berbagai buku sejarah yang kemudian banyak dijadikan rujukan umat Islam zaman sekarang untuk bisa meneladani dan berbuat seperti apa yang sahabat-sahabat tadi kerjakan. Harapannya, tentu untuk bisa mendapatkan dan meraih surgaNya juga.
Sejauh ini, kesepuluh sahabat tadi yang cukup dikenal publik (umat Islam). Padahal, dalam sejarahnya, banyak juga wanita-wanita yang dijanjikan masuk surga. Di antaranya, ada Sumayyah binti Khayat, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Waraqah, Ummu Aiman, Nasibah binti Kaah, Ummu Haram dan Ummu Zafar. Kisah-kisah mereka bisa kita baca dalam buku karangan Muhammad Ali Qutb yang berjudul Bidadari-Bidadari Surga (Mubasyiraatu bi Jannatun).
Dalam bukunya dikisahkan, Sumayyah adalah sosok muslimah yang mempunyai harga diri (izzah) yang tinggi. Memiliki kesabaran dan keikhlasan luar biasa di fase-fase awal dakwah Rasulullah. Sumayyah mempunyai suami bernama Yasir. Keluarga ini memproklamirkan diri sebagai keluarga muslim, mengikuti ajaran Muhammmad. Kenyataan ini membuat tidak senang para pemuka masyarakat yang saat itu masih menyembah berhala, Lata, Uzza.
Maka, disiksalah mereka oleh kaumnya, dan hanya akan menghentikan siksanya ketika mau melepaskan diri dari ajaran Muhammad. Namun, Sumayyah dan keluarganya tetap istiqomah, tetap tegar dalam ke-Islaman dan memegang teguh keyakinannya untuk membenarkan ajaran Muhammad. Dan akhirnya, wanita dan suaminya gugur di medan kesyahidan. Sumayyah adalah wanita perkasa pertama yang syahid dalam sejarah Islam pada periode awal Islam datang.
Selain itu, ada Asma putri Abu Bakar, sang pemilik dua sabuk. Kisah yang mengharumkan namanya ketika ia terlibat dakwah dalam peristiwa hijrah. Wanita inilah yang bertugas mengantar bekal makanan untuk Muhammad dan Abu bakar ayahnya ketika hijrah. Asma keluar dari kota Mekah di malam hari tanpa menghiraukan gelap gulitanya malam, sepi dan sunyinya malam, terjalnya bebukitan dan bahaya binatang buas. Yang ada dalam dirinya, hanya bertawakal kepada Allah agar diberi kekuatan untuk bisa memegang amanah.
Ketika sampai ke Gua Tsur inilah peristiwa sejarah pemilik dua sabuk terjadi. Asma menyobek kerudungnya menjadi dua. Satu bagian untuk dijadikan sebagai ikat pinggang dan satunya lagi untuk mengikat bekal. Saat itu, Rasulullah memberi kabar gembira atas apa yang telah dilakukan Asma, kemudian berkata, Sesungguhnya Allah telah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga. Sejak itu, Asma, putri Abu Bakar mendapat gelar Dzatu an-nitthqain yaitu orang yang mempunyai dua ikat pinggang.
Masih banyak lagi cerita lainnya. Tentang Ummu Ruman (Zainab), wanita yang dijanjikan surga bukan karena keelokan wajahnya, tapi, ia adalah isteri Abu Bakar yang sabar menerima resiko mendampingi suaminya dalam berdakwah, ia adalah simbol wanita pertama yang memikul tugas mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak mereka.. Tentang Ummu Waraqah, seorang wanita baik hati yang teraniaya dan dibunuh hamba sahayanya sendiri karena iming-iming harta. Tentang Ummu Aiman yang penuh ikhlas merawat Muhammad. Tentang Nasibah binti Kaab, bidadari yang terluka dalam perang Uhud. Begitu juga Ummu Zafar, wanita yang sabar dalam keadaan sakitnya.
mereka semua adalah Ibu perkasa kebanggaan keluarganya dan kebanggaan Islam tentunya, mereka adalah wanita-wanita yang dijanjikan syurga oleh Rasulullah SAW, mereka adalah contoh terbaik bagi wanita-wanita Islam yang mendambakan dirinya menjadi wanita kebanggaan keluarganya, Ibu yang membanggakan bagi putra putrinya, Ibu yang mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami, Ibu yang senantiasa dalam kehormatan dirinya sebagai wanita kebanggaan Islam, Ibu yang selalu diharapkan kasih sayangnya oleh semua anggota keluarganya, Ibu yang selalu dido’akan anak-anaknya agar menjadi Ibu yang senantiasa Istiqamah dijalan menjadi menjadi hamba ALLAH yang solehah,dan kitapun berharap kita sebagai anak dan juga seorang suami senantiasa mampu menguatkan seorang Ibu dalam mengemban amanahnya menjadi harapan pembawa kesejukan syurga bagi setiap anggota keluarganya. senantiasa do’akan Ibunda agar menjadi Ibu terbaik bagi kita anak-anaknya dan juga menjadi pendamping yang solehah bagi sang suami.
Do’a cinta untuk Ibunda dari seorang anak :
ya..ALLAH berilah Ibunda kami kekuatan dalam mengemban tugas-tugas mulianya sebagai seorang Ibu.
ya..ALLAH berilah Ibunda kami kedudukan layaknya wanita-wanita terbaik agama ini, Islam.
ya..ALLAH jadikan Ibunda kami wanita yang senantiasa membimbing kami mendekatimu.
ya..ALLAH kuatkan beliau Ibunda kami menanggung kesabaran mendidik kami anak-anaknya.
ya..ALLAH berikan kesalehan Ibunda kami dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
ya..ALLAH golongkan Ibunda kami dalam golongan hamba-hamba kesayanmu dunia dan akhirat.
ya..ALLAH ampuni kekhilafan dan dosa-dosa kedua orang tua Ibu Bapak kami sebagai hambamu.
ya..ALLAH muliakan Ibunda kami di dunia dan di akhirat kelak serta kumpulkan kami dalam surgamu
Ya Allah ya Rabbi
Berikanlah kebahagiaan dalam hatinya
Jadikanlah ia wanita yang senantiasa teguh
Memegang ajaranMu
Muliakanlah ia di dunia dan kelak
Berikan kesempatan kepadanya
Untuk bisa merasakan surgaMU

dikutip dari http://fourthing.wordpress.com dengan sedikit tambahan
Diposkan oleh adnan di 02:15 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Senin, 12 November 2012
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/

Ibu, pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya
seorang pengusaha pizza yang cukup terkenal mengakui bahwa hampir setiap hari dia mengunjungi Ibundanya dan berbincang-bincang dengan Ibundanya. apapun yang diminta Ibundanya itu, akan dikabulkan semampunya dan secepat mungkin. bila mengalami masalah besar, pelukan dan Do’a Ibu adalah hal yang sangat dibutuhkannya. pengusaha tersebut merasa bahwa Ibundanya adalah keramat hidup yang harus selalu dijaga perasaannya, Do’a Ibunda adalah senjata rahasia kesuksesannya.
Ibu - sang pahlawan
Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. pengorbanan beliau yang tak ternilai harganya harus dihargai sedemikian rupa sebagai bentuk rasa terima kasih dan wujud syukur kepada Ilahi yang telah memberikan kesempatan mencicipi nikmat hidup ini.
Ibunda orang pertama yang ingin dibahagiakan bila mendapatkan rezeki yang melimpah. beliaulah orang pertama yang akan dikunjungi ketika masalah berat terasa tak kunjung ada solusinya, Do’a beliau adalah senjata yang amat dahsyat, Do’a beliau adalah pembuka pintu Ilahi agar mengabulkan segala Do’a.
hidup akan sangat hampa bila tak mendapatkan belaian tangan Ibunda, belaian yang dapat menurunkan tensi darah saat marah, belaian yang dapat menenangkan pikiran dikala stres, beliaulah manusia yang sangat paham apa yang dialami oleh anaknya, Ibundalah yang akan menerima apapun bentuk dan keadaan anaknya.
Ibundalah yang akan berusaha melakukan apapun untuk menyelamatkan dan melindungi anaknya, apabila ada seorang Ibu yang suka marah-marah dengan anaknya mungkin itu hanyalah ungkapan kekecewaan sesaat. yakinlah bahwa jauh dilubuk hatinya Ibu sangat sayang anaknya.
kebahagiaan sebuah keluarga terletak ditangan Ibunya, bila beliau bahagia, maka keluarga tersebut akan bahagia, jangan biarkan beliau terlalu capek sehingga menyebabkan beliau stres, stres Ibunda adalah stres keluarga, bantulah beliau agar bisa membuat keluarga bahagia.
sebagai tiang hidup, Ibunda membutuhkan sandaran yang kuat, sandaran itu bisa berupa senyum manis anak-anaknya, kasih sayang suaminya, penghargaan berupa ucapan terima kasih yang tulus dan pancaran cinta yang sebenarnya, sudah cukup membuat seorang Ibu berbahagia.
kasih sayang Ibu tiada batas
tidak perlu kita meragukan seberapa besar kasih sayang Ibunda tercinta kepada anaknya, tidak ada yang bisa menggantikan peran Ibunda dalam kehidupan kita, bahkan kitapun tidak akan pernah bisa menggantinya sekalipun berupa materi yang berlimpah.
tidak ada kesuksesan tanpa disertai dengan dukungan Ibunda, banyak contoh yang bisa kita lihat disekitar kita, orang-orang sukses memang memiliki wanita hebat dibelakangnya, yaitu Ibunda tercinta, beliau yang merawat dan mendidik kita menjadi super power dalam menjalani kehidupan yang fana dan keras ini, beliau juga yang mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak walau badai menghadang sekalipun.
anda tentu sangat tahu dengan kisah legenda dari sumatera barat malin kundang bukan ?, si anak durhaka yang akhirnya menjadi batu karena dikutuk oleh Ibunya, kisah legenda ini menyiratkan kepada kita bahwa akan terjadi malapetaka jika kita tidak menghormati dan memperlakukan Ibunda dengan baik sebagaimana Ibunda memperlakukan kita sejak lahir, jadi sudah sepantasnyalah kita memberikan kasih sayang untuk Ibunda tercinta meskipun kita sadar itu tidaklah bisa menggantikan apa yang sudah beliau berikan untuk kita.
sebelum kita dilahirkan didunia ini Ibunda sudah melakukan perjuangan yang hebat, perjuangan yang dilakukan untuk melindungi, menjaga, merawat, memperhatikan serta menyayangi kita ketika masih berada dalam kandungannya, tidak terperikan berapa kali beliau menarik napas panjang manakala kita menendang-nendang perutnya, manakala kita ” berolah raga ” dalam kandungannya, terakhir bagaimana perjuangannya melahirkan kita kedunia,dengan mengabaikan rasa sakit yang tiada tara.
sudah sepantasnyalah kita berbakti kepada Ibunda tercinta, bahkan wajib hukumnya, tidak ada anak yang berhasil menjalani hidupnya dengan mulus tanpa peran Ibunda tercinta, peran beliau lebih hebat dan lebih berani dibandingkan semua tokoh, jika ada yang bertanya siapa pahlawan tanpa tanda jasa ?, maka jawabannya Ibunda adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya sebab hanya beliaulah dengan segenap hidupnya berjuang agar anaknya bisa selamat terlahir kedunia fana ini dan bersiap dengan segenap jiwa raganya berkorban untuk tetap bisa melindungi anaknya dari apapun yang ingin mencelakai sang anak, oh Ibu jasa-jasamu dalam keluarga sungguh tiada duanya, tak akan pernah kami anak-anakmu melupakan semua jasa tulus ikhlasmu kepada kami anakmu yang sungguh tiada akan mampu membalas setiap pengorbanan dan perjuangan yang engkau telah berikan kepada kami anakmu, Ibu engkau sungguh pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.!

dikutip dari anneahira.com dengan sedikit pengurangan dan sedikit tambahan
http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/


Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nur Suharno
Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Kabah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?
Ibnu Umar menjawab, Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan. (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah. (HR Thabrani).
Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya. (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat, surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?
Masih ya Rasulullah jawab laki-laki itu.
Nabi SAW bersabda, Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.
Kemudian Nabi SAW bersabda, Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis. (HR Abu Dawud, Nasai, dan al-Hakim).
Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in adadtahaa adadta syaban thayyiba al-araaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.
Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu alam.
Dikutip dari Hikmah Republika edisi 29 Maret 2012 dengan judul: Membalas Kebaikan Ibu
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/02/m1ujql-bisakah-kita-membalas-kebaikan-ibu-inilah-jawaban-islam


TAGS 11977


-

Author

Follow Me